Dari Bom Borobudur hingga Panglima ISIS Abu Jandal

Sejak 1979 Kelompok Radikal Tumbuh di Malang
Malang ternyata sudah tak asing dengan Kelompok garis keras maupun radikal. Bahkan sejak tahun 1979-an, kota ini pernah didatangi Komando Jihad. Yang paling menggegerkan, keterlibatan kakak beradik Husein bin Alhabsy  dan Abdul Kadir bin Ali Alhabsyi sebagai tersangka pengebom Candi Borobudur tahun 1985.
Nyatanya hingga hari ini, masih ada saja warga Malang yang bergabung dengan kelompok radikal. Gerakan radikal di Malang mulai tercatat ketika kelompok Warman sebagai gerombolan Komando Jihad, melakukan perampokan di IKIP Malang untuk pengumpulan Fa’i atau dana perjuangan tahun 1979. Lantas pada tahun 1984 terjadi ledakan dahsyat di Malang. Tepatnya 24 Desember 1984 malam, ketika gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara dan Gereja Sasana Budaya Katolik di Malang, Jawa Timur, meledak.
Rentetan peristiwa selanjutnya pada Januari 1985 Candi Borobudur di Jawa Tengah terjadi sembilan ledakan. Serangkaian peristiwa itu terkuak ketika warga Malang tewas saat membawa bom pada 16 Maret 1985. Bom itu meledak di dalam bus Pemudi Express  yang melintas di Desa Sumber Kencono Kota Banyuwangi, Jawa Timur. Rombongan itu hendak meledakkan bom ke Kuta Bali.
Pelaku tewas adalah Abdul Hakim, Hamzah alias Supriono (warga jalan Juanda Gang VIII Malang), dan Imam Al Ghazali Hasan. Pelaku Hidup Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Dari pelaku hidup inilah terkuak jaringan teror dari Malang.
Otaknya saat itu disebut bernama Muhammad Jawad alias Ibrahim diduga warga jalan Ketindan no. 62, Lawang, Malang, Jawa Timur. Hebatnya sampai sekarang dia belum tertangkap. Yang sempat dipenjara adalah Husein bin Ali Alhabsyi dengan hukuman seumur hidupm namun 23 Maret 1999 mendapat grasi. Ia dulu beralamat Jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang. Serta adiknya Abdul Kadir bin Ali Alhabsyi hukuman 20 tahun, saat menjalani 10 tahun mendapat remisi.
Pada tahun 2005, Malang kembali dikejutkan dengan penggerebekan dr Azahari di Kota Batu. Dedengkot Jamaah Islamiah yang bertanggung jawab atas bom Bali itu tewas. Belakangan persembunyiannya di Batu terkuak dari kesaksian pengikutnya. Ya,  Kholili alias Yahya warga Jl. Jodipan Wetan RT 12 RW 06 Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Pada 9 November 2005 dia ditangkap sebagai ia kurir dr Azahari, bebas bersyarat 6 Agustus 2014.
Baru-baru ini kembali muncul nama Panglima ISIS asal Malang.  JEJAK panglima perang ISIS, Salim Mubarok Attamimi masih tertinggal di Bumiayu, Kedungkandang. Panglima  perang yang sedang geriliya di Suriah itu pernah tinggal di sekitar Jalan Terong, RT 06, RW 03, Bumiayu.
Ingatan warga sekitar Jalan Terong masih segar tentang sosok pria yang dikenal dengan nama Abu Jandal itu. Kini  warga kembali menyebut nama Ustad Salim ketika Densus 88 Polri menciduk Achmad Junaedi dan Tonori di Bumiayu.  
Apalagi dua pria tersebut merupakan karib yang diduga terkait jaringan ISIS. Tempat tinggalnya pun tak berjauhan. Cak Ju, sapaan akrab  Achmad Junaedi kontrak di Jalan Labu. Tonori ber-KTP di Jalan Terong. Jarak dua alamat tersebut tak berjauhan.
Tahun 2009 lalu, Abu Jandal kontrak di sebuah rumah di Jalan Terong. Rumah itu merupakan salah satu dari lima rumah yang membentuk pemukiman sendiri. Mereka eksklusif. Warga nyaris tak mengetahui aktifitas mereka.
Juli 2009 lalu, Abu Jandal disebut-sebut sebagai salah seorang tokoh yang mengundang pendiri Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Abubakar Ba’asyir. Tokoh garis keras itu diundang untuk memberi ceramah di Bumiayu. Persisnya di sekitar Jalan Terong.
Saat itulah warga Bumiayu mulai bersikap. “Warga menolak keras. Disini sempat  ramai. Akhirnya mereka tak berani mendatangkan Abubakar Ba’asyir,” cerita salah seorang warga Bumiayu kepada Malang Post.
Saat itulah warga mulai curiga bahwa Abu Jandal sedang menyebarkan ajaran tertentu.  Akhirnya tahun 2010, dia hengkang dari pemukiman di Jalan Terong. “Itu rumahnya masih ada. Sekarang dikontrak orang,” kata warga lainnya.
Menurut catatan warga, Abu Jandal yang kala itu dikenal sebagai Ustad Salim pindah ke Sukun. Namun mereka tak tahu persis lantaran ia tak pamit dan tak pernah membuat surat keterangan pindah penduduk.
“Dulu disini (di Jalan Terong) dia jual minyak wangi. Tapi sering mengadakan pengajian,” kata sumber Malang Post yang mengikuti jejak Ustad Salim selama kontrak di Jalan Terong.
Pengajian yang digelarnya tak terbuka untuk umum. Rata-rata diikuti warga luar Bumiayu. Sejumlah anak kecil juga sempat ikut serta. Ustad Salim yang pernah jadi artis youtube itu juga kerap memberi ceramah pada malam hari. Jumlahnya sedikit, hanya sekitar lima sampai tujuh orang.
“Dia cuci otak. Makanya disini ada yang berubah,” kata warga lainnya. Perubahan sikap itu terasa dari cara bergaul warga  yang tinggal di pemukiman eksklusif. Disebut pemukiman ekskulif karena mereka berkomunitas sendiri. Jumlahnya sekitar lima sampai enam rumah. Rumah Tonori merupakan bagian dari  pemukiman eksklusif itu.
Mereka tidak ikut pengajian yang diadakan warga kampung. Bahkan mereka punya langgar sendiri. Rumah Tonori persis bersebelahan dengan langgar tersebut.
“Waktu ada warga kampung yang meninggal, hanya satu orang saja yang datang takziah. Lainnya tidak,” kata sejumlah warga sembari menolak menyebut nama. Karena tak membaur, maka semakin menguatkan kecurigaan mereka. “Ya intinya ajaran mereka berbeda. Gak sama seperti pada umumnya warga disini,” sambungnya. Gaya hidup eksklusif itu  masih tampak hingga kemarin,
Belakangan warga semakin tahu tentang sosok Abu Jandal saat muncul di youtube belum lama ini. Abu Jandal atau Ustad Salim memang pernah bikin heboh melalui youtube . Betapa tidak, dalam tayangan empat menit itu dia menantang Panglima TNI dan Polri untuk perang.  
Ketua RT 06, RW 03, Bumiayu, M Sahid  mengaku pernah mendengar bahwa Salim yang belakangan dikenal sebagai Abu Jandal pernah tinggal di wilayahnya. “Menurut informasi yang saya dapat, dia (Abu Jandal) diusir dari sini karena tidak cocok sama warga. Tapi saya tidak tahu tidak cocoknya kenapa,” katanya.
Sahid memang baru dua tahun domisili  di Jalan Terong. Saat dia pindah ke wilayah RT 06, RW 03, Salim atau Abu Jandal  sudah meninggalkan Jalan Terong.  
Kini Sahid membuat kebijakan di wilayahnya itu, termasuk  untuk ‘pemukiman eksklusif’ di Jalan Terong. “Kalau ada tamu  1 x 24 jam, wajib lapor. Saya sudah sampaikan,” tandasnya.
Lurah Bumiayu, Siswanto Heru Suparnadi yang ditemui terpisah mengaku pernah mendapat informasi soal jejak Abu Jandal diwilayahnya itu. “Saya baru Januari bertugas sebagai lurah Bumiayu, jadi saya tak tahu secara persis. Tapi menurut informasi, Salim pernah tinggal di tempat itu (sekitar Jalan Terong),” katanya.