Di Balik Penangkapan Terduga ISIS di Kota Malang (2/habis)

"Braak!" tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Sebanyak 13 anak yang berada di yayasan tersebut langsung terkejut dan berdiri. Jefri Rahmawan, sang pengajar yayasan Helmi langsung berdiri menghampiri sekitar enam pasukan Densus 88 yang masuk paksa. Aksi pasukan burung hantu ini, terjadi di yayasan Helmi Jalan Mega Mendung 30 RT 5 RW 6, Pisang Candi, Sukun, Kota Malang.


Peristiwa penggeledahan Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri di Rumah Tarbiyah dan Tahfidz Al-Quran Al Mukmin Malang menyisakan trauma mendalam bagi sejumlah murid yang berada di sana saat penggeledahan. Petugas dengan rompi hitam, bermasker, helm dan bersenjata laras panjang ini membuat belasan murid yang sedang belajar di sana berteriak ketakutan dan menangis.
Betapa tidak? Para murid itu ditodong senapan laras panjang di depan mukanya. Jefri berusaha menghentikan pasukan berlogo burung hantu ini. Namun menurutnya mereka tidak menggubris upaya dia. Pasukan langsung masuk begitu saja dan masuk ke ruang belajar para murid.
"Ujung senapan langsung ditodongkan ke anak-anak," aku Jefri kepada Malang Post dengan nada kesal.
"Anak-anak langsung takut dan menangis. Paling hanya ada dua anak yang tidak menangis," tambahnya.
Tidak terima dengan perlakuannya terhadap para murid di sana, Jefri protes. Dia sempat „adu mulut“ dengan seorang petugas. Hingga pada akhirnya, para murid untuk sementara dipindah ke rumah yang ada di depan yayasan, selagi pasukan Densus 88 menggeledah yayasan.
Di rumah tetangga itu, para murid pun menangis. Sementara pengajar wanita bercadar berusaha menenangkan sejumlah murid yang menangis itu. Informasinya, juga ada seorang Polwan yang ikut menenangkan para murid.
"Sampai sekarang mereka masih ada yang trauma. Tadi (kemarin, red) saya lihat ada yang melamun di depan pintu," ujar Jefri tidak terima.
Bahkan, lanjutnya, ada yang sampai bertanya kepada Jefri, "Polisi kok jahat?" kata Jefri menirukan muridnya.
Saat Malang Post datang ke yayasan tersebut, memang masih ada sejumlah murid yayasan yang sedang bermain-main di halaman depan yayasan. Saat melihat kedatangan Malang Post, mereka tampak bingung dan menghindar.
Ketika ingin diwawancarai, tidak satu pun dari mereka yang bersedia untuk diajak bicara. Mereka lebih bersembunyi di balik pengajar wanita yang bercadar atau menghindar dan masuk ke yayasan.
Jefri mengaku kecewa dengan kelakuan pasukan Densus 88 yang menodongkan senapan ke arah anak-anak. Menurut Jefri, perlakuan Densus 88 kurang sopan.
Sementara Ketua RT 5 RW 6, Happy Akhfadhi memang membenarkan kalau para murid di yayasan tersebut ketakutan. Meski begitu, dia mengatakan kalau sebenarnya polisi sudah melakukan upaya persuasif dan memberitahu pihak Jefri untuk mengosongkan tempat karena akan ada penggeledahan.
Akan tetapi, kedatangan Happy bersama sejumlah polisi malah disambut tidak hangat. Penghuni yayasan yang terdiri dari dua orang, Jefri dan seorang pengajar bercadar, malah memarah-marahi Happy.
"Kami dimarahi, mereka bilang anak-anak merasa diteror. Saya diajak balik sama polisi. Ya sudah, saya balik. Tidak lama, Densus 88 datang dan mendobrak pintu yayasan," jelasnya.
Mengenai upaya prosedural ini dibenarkan Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata saat dihubungi terpisah, kemarin. Menurutnya, semua prosedur sudah dilakukan sebelum aparat mendobrak pintu dan mulai melakukan penggeledahan. Yakni dengan upaya persuasif.
"Sebelumnya kan sudah didatangi, tapi tidak dibuka. Ya sudah, Densus 88 akhirnya mendobrak," tegasnya.
Mantan Kapolres Lumajang ini juga yakin, kalau tidak mungkin ada pasukan Densus 88 yang berani menodongkan senapan ke anak-anak. "Densus 88 itu tim yang terlatih. Tidak mungkin melakukan itu," katanya.
Menurutnya, tim Densus sudah melakukan pemetaan dan pertimbangan yang matang sebelum memutuskan masuk ke pondok tersebut. Semua perencanaan dilakukan dengan prosedur yang sesuai.
"Tidak ada Densus menodongkan senjata pada anak-anak. Yang ada anak-anak itu disuruh menangis oleh orang dalam di sana. Densus tidak ngawur dalam menjalankan prosedur," ujarnya.
Bisa diartikan, Singgamata menegaskan ada tangis settingan saat Densus gelar operasi itu. Singgamata menilai, seluruh aparat keamanan di Kota Malang sampai sekarang terus memerangi ISIS. Sehingga, jangan sampai ada orang-orang yang terpengaruh cerita orang yang memiliki keterkaitan dengan kelompok Islam garis keras ini. "Kita semua sepakat memerangi ISIS," pungkasnya.(muhamad erza wansyah/ary/habis)