Bule Pencinta Indonesia, Senang Lakukan Aksi Sosial

15 Tahun Thea Nelson berdomisili di Indonesia. Wanita asal Washington DC,  Amerika Serikat  itu mendalami negeri ini dengan cara berbeda. Ia menjadi relawan sosial di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga.

Hidup untuk sesama adalah pilihan wanita 37 tahun ini. Tiga tahun terakhir, Thea Nelson bersama suami, Hengky Dotulong serta  dua buah hatinya, Gregor dan  Gavin tinggal di kawasan Dieng. Kota Malang menjadi pilihan walau  sang suami memiliki bisnis yang berpusat di Bali.
“Saya ibu rumah tangga,” ucapnya dengan Bahasa Indonesia yang fasih.  Ia merasa nyaman tinggal di kota pendidikan ini. Sebelumnya, Thea pernah tinggal di Yogyakarta dan Bali. “Malang sejuk, lebih tenang. Mau kemana-mana dekat. Cocok untuk membesarkan anak-anak,” sambungnya tentang alasan memilih tinggal di Kota Malang.
Di balik kenyamanannya menjadi warga Malang, Thea memilih berbagi waktu untuk kegiatan sosial. Saat ini dia  menjadi relawan di Yayasan Sadar Hati di Jalan  Ogan. Tugasnya mengajar untuk kelompok anak-anak yang dibentuk yayasan tersebut.
“Di situ saya bantu mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak berusia 5 sampai 11 tahun,” terangnya tentang tugas di Yayasan Sadar Hati.
Waktu belajarnya setiap Sabtu. Ia juga menjadi motivator belajar Bahasa Inggris. “Caranya belajar harus selalu menyenangkan. Jangan dibuat serius,” sambungnya.
Menjadi relawan sosial sudah menjadi bagian dari jalan hidup Thea. Ia tertarik dengan berbagai kegiatan sosial saat pertama kali tinggal di Indonesia, tepatnya di Yogyakarta. Karena itulah ketika pertama kali datang ke Malang, ia langsung mencari aktivitas sosial yang bisa ditekuni.
“Tidak enak kalau hidup untuk diri sendiri karena lebih baik bisa melakukan sesuatu untuk sesama,” katanya tentang alasan tertarik menjadi relawan sosial.
Ia tak mencari keuntungan finansial di semua kegiatan sosialnya. Menjadi relawan sosial dijadikannya sebagai media untuk refreshing. “Sata merasa senang. Saya bisa punya banyak kenalan,”  ucapnya bersemangat.
Tak hanya itu saja, Thea juga menjadi ‘pengajar’ di Toasmaster Malang. Di komunitas inilah Thea belajar bersama. Toasmaster merupakan sebuah komunitas belajar bahasa Inggris dan public speaking. Di komunitas ini pula, ia bekerja secara suka rela.
Tak hanya mengajar, Thea juga memberi motivasi tentang pentingnya menguasai Bahasa Inggris. Ia juga motivator public speaking. Soal mengajar bukan hal baru bagi wanita ramah ini. Sebab ia pernah menjadi dosen Bahasa Inggris di Universitas Atmajaya, Yogyakarta.
Tak hanya berbagi ilmu, Thea juga aktif di komunitas  Rhesus Negatif (RH-). Ini merupakan komunitas pendonor darah untuk golongan darah yang cukup langka itu. Di Indonesia hanya sedikit orang yang memiliki darah golongan RH- ini, namun membutuhkan donor yang cukup demi keberlangsungan hidup mereka saat sakit.
“Saya ikut di komunitas ini untuk membantu sesama yang membutuhkan golongan darah RH- . Biasanya kalau ada yang butuh golongan darah ini, kami ditelepon untuk donor darah,” katanya.
Di kalangan komunitas RH- sudah mengetahui para pemilik darah golongan ini. Jadi  harus siap-siap donor darah kapan pun saat dibutuhkan. “Ya saya suka melakukan ini. Biasanya kalau ada yang butuh, kami langsung donor darah ke PMI,” ucapnya sembari memuji PMI Kota Malang yang menurutnya sangat nyaman.
15 tahun tinggal di Indonesia, Thea sudah berkeliling negeri ini. Ia juga pernah memberi motivasi belajar bahasa melalui program Newspaper in Education (NIE) bekerjasama dengan Jakarta Post dan Chevron.
Tak hanya menyukai aktivitas sosial, ia juga pencinta alam. Hobinya menyelam dan mendaki gunung. “Ya yang terdalam dan tertinggi,” terang dia tentang hobi menantang itu.
Sejumlah gunung pernah didakinya. Mulai dari Arjuno, Gunung Lawu, Gunung Kerinci, Gunung Agung, Gunung Rinjani dan  Gunung Penanggungan. Untuk selam, Thea sudah menyelam di berbagai lautan. Mulai dari Pantai Kondangmerak dan berbagai spot di Sulawesi, Lombok  hingga Pulau Komodo. (van/han)