Tradisi Wayang Krucil Peninggalan Majapahit di Lereng Gunung Katu

Masyarakat Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, sampai saat ini kukuh mempertahankan wayang Krucil. Warga dusun di lereng Gunung Katu itu percaya bahwa tradisi wayang tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Tercatat, wayang itu telah diwariskan hingga keturunan ke delapan.

Wayang Krucil tersebut kini disimpan dan dirawat dengan rapi di rumah Saniyem atau Mbah Yem di Dusun Wiloso. Dipilihnya Mbah Yem sebagai pewaris atau perawat wayang Krucil, bukan tanpa alasan. Sebab beliau adalah keturunan dari Mbah Pandrim, tokoh kesenian di jaman Majapahit yang membawa wayang krucil hingga ke lereng Gunung Katu tersebut.
Di bandingkan wayang kulit, ada perbedaan mendasar dari wayang krucil. Diantaranya, adalah bahan yang digunakan oleh wayang ini, yaitu kayu khusus atau jenis pule atau cendana. Jumlah dari wayang ini, total ada sekitar 82 wayang dengan nama atau karakter yang sudah melekat di masing-masing wayang.
Seperti, Mbah Gimbal dengan bentuk atau karakter wayang yang memiliki rambut di bagian kepala, Sabdopalon, Mbah tandur hingga Adipati Minak. Sementara alur cerita yang biasa dimainkan, menceritakan mulai kerajaan Majapahit, Demak, Malang, Majapahit, Banyuwangi, Tuban, Madura hingga sampai negara tetangga seperti Malaysia dan Myanmar.
Selain beberapa perbedaan itu, saat menampilkan wayang ini, pun terbilang sangat hati-hati. Seperti saat menceritakan peperangan atau pertempuran, wayang satu dengan wayang lain tidak bisa bersinggungan secara langsung. Sementara dalam setiap penampilan, menggunakan dua layar yang memisahkan dalang dan wayang.
Yang sangat mistik dari wayang Krucil, setiap setahun sekali atau pada tanggal 1 syawal, menjadi kewajiban pewarisnya untuk menampilkan wayang-wayang ini dalam suatu cerita lakon. Karenanya, tiap pada satu syawal, di rumah Mbah Yem akan dipadati warga hingga tokoh masyarakat dan pejabat, untuk menyaksikan pagelaran itu.
“Ini sudah melekat sejak keturunan pertama. Pantangannya, ketika satu syawal tidak dikeluarkan untuk ditampilkan, maka wayang-wayang ini seolah marah. Dampaknya, ada saja musibah yang akan dialami pewaris,” kata bagian informasi Wayang Krucil, Karaharjo.
Ditambahkan pria yang akrab Mbah Harjo, sebenarnya tidak hanya itu hal mistik dari Wayang Krucil. Saat akan mengeluarkan satu persatu wayang suatu misal, harus disuguhi dupa ratus. Suguhan itu, juga harus diberikan saat akan mengembalikan wayang.
“Saat akan menampilkan wayang ini, pun harus ada suguhan khusus. Selain dupa ratus, juga harus menyalakan menyan, sajen hingga melakukan kenduri dahulu. Ketika suguhan ini tidak diberikan, maka ada saja musibahnya. Sebaliknya, ketika suguhan ini lengkap, cuaca yang awalnya mendung, pun bisa tiba-tiba terang saat wayang-wayang ini akan ditampilkan,” paparnya.
Kejadian lain yang tidak kalah sakralnya, yaitu ketika salah satu tokoh di wayang krucil, secara sengaja diisengi. Mbah Gimbal yang sosoknya memiliki rambut, pernah suatu ketika rambutnya ditarik. Siapa sangka, ternyata dari bagian kepala atau rambut yang melekat itu dicabut, keluar darah.
“Ini memang tidak masuk akal. Namun, saya saksi hidupnya. Bahkan, orang yang melakukan iseng itu, sampai ditemui dalam mimpinya,” kata Mbah Harjo.
Dia menambahkan, hal sakral lainnya juga saat memasukkan kembali wayang Krucil. Karena masing-masing ada pakem atau posisinya, itu tidak bisa sembarangan ditaruh dalam suatu peti.
Karena wayang Krucil termasuk peninggalan budaya yang salah satunya ada di Kabupaten Malang, tidak sedikit yang tertarik untuk memilikinya. Bahkan, beberapa kepala daerah sangat ingin memiliki wayang ini.
Sementara itu, agar keberadaan wayang ini tetap eksis, setiap warga sekitar pun saling bahu membahu untuk tetap melestarikan. Salah satunya, dengan menjadi salah satu personil di wayang krucil. Mengingat, tidak ubahnya wayang kulit, sebagai pengiring dari setiap pementasan wayang, juga diikuti gending atau tabuhan dari alat-alat kesenian. (sigit rokhmad)