Belajar dari Pariwisata Thailand Jelang MEA 2015 (1)

SUNGAI Chao Phraya, Bangkok. Sungai keruh sepanjang 372 kilometer ini, konsisten menjadi sarana pemerintah Thailand untuk mengeruk rupiah warga Indonesia yang mengunjunginya. Berikut catatan HARY SANTOSO, wartawan MALANG POST selama berkunjung di negeri Gajah Putih tersebut.
 
Sejak pagi hingga pukul 24.00, sungai Chao Phraya tidak berhenti mengalirkan Bath (mata uang Thailand) bagi warga sekitar. Meski kotor dan keruh, ribuan wisatawan dari berbagai negara tidak bosan menikmat sensasi sungai Chao Phraya. Dan warga Indonesia termasuk paling banyak berkunjung ke sini.
Salah satu sensasi yang ditawarkan adalah makan malam di atas kapal (dinner cruise at Chao Phraya). Thailand menyediakan cruise 10 unit yang dioperasikan mulai 08.00 WIB hingga 24.00 WIB (waktu Thailand dan Indonesia sama). Dan untuk mendapatkan seat (kursi) makan malam ini, bukan pekerjaan mudah. Minimal penikmat kuliner di atas kapal harus indent seminggu sebelum jadwal.
‘’Agar tetap dapat jatah kursi, kami selalu bekerjasama dengan agen perjalan di sini. Minimal seminggu sebelum harus sudah antre. Peran travel biro cukup strategis,’’ ujar Dyah Ayu Trisnawati, dari travel biro Bayu Citra Persada, Surabaya.
Tarif yang ditawarkan per orang tidak terlalu mahal. Dengan sajian aneka menu masakan Eropa, Timur Tengah dan Asia, kurang lebih 50 menu dalam ‘pelayaran’ 2 jam, dikenakan tarif  1.500 Bath. Jika dirupiahkan kurang lebih Rp 637.500 (1 Bath=Rp 425).
Sabtu malam itu, rombongan saya sebanyak 35 orang menggunakan Chao Phraya Princess Cruise III. Kapal pesiar yang dibuat tahun 2005 itu, panjangnya 53 meter, lebar 53 meter dengan berat 469 ton. Dengan kekuatan mesin 500 tenaga kuda, kapal ini menyediakan 350 tempat duduk serta set alat PMK seperti mobil PMK.
Tidak ada satu pun kursi yang kosong. Lagi-lagi, warga Indonesia paling mendominasi kursi tersedia. Dengan kata lain, satu kali trip (2 jam) Chao Phraya Princess Cruise III bisa meraup sekitar 350 x 1.500 Bath x Rp 425 = Rp 223. 125.000. Dari 10 cruise, tiap malam, bergantian dioperasikan 2 cruise atau 4 kali trip. Dari acara makan malam ini saja maka dalam 4 jam pengelola meraup Rp 223.125.000 x 4 = Rp 892.500.000 !!! Amazing !!!
Tidak hanya aneka menu masakan. Di atas kapal yang dengan laju kurang lebih 5-10 knots ini, wisman disuguhi live music. Perlatan music ditempatkan di bagian depan palka kapal. Tidak perlu lengkap alatnya. Cukup satu set MIDI (Musical Instrument Digital Interface) dioperasikan satu orang dan satu penyanyi.
Agar suasana terasa menyatu, penyanyi pun membawakan lagu-lagu tempat asal para wisman di atas Chao Phraya Princess Cruise III. ‘’Halo Indonesia!, apa kabar’’ sapa artis setengah baya ini. Setelah itu meluncurlah tembang Pilihlah Aku milik Krisdayanti, Kopi Dangdut milik Fahmi Sahab hingga Poco Poco milik Yopi Latul.
Harusnya, Indonesia bisa menggelar dinner cruise seperti Thailand. Miliaran rupiah yang mengalir dari warga Indonesia ke Thailand, minimal bisa dibendung. Mungkin, warga sudah jenuh dengan eksotisme wisata alam dalam negeri. Perusahaan-perusahaan dan pribadi yang berkunjung ke Sungai Chao Phraya ingin sensasi baru yang tidak ada di negeri ini.
Apakah keinginan warga Thailand sebegitu kuat ingin menikmati wisata alam di Indonesia? Seperti kuatnya ‘nafsu’ warga Indonesia berebut tempat duduk di atas Chao Phraya Princess Cruise III. Bayangkan, pengeluaran yang harus ditanggung warga Surabaya mulai tiket dan akomodasi hingga duduk di kursi Chao Phraya Princess Cruise III, minimal Rp 15 juta. Dan malam itu ada yang datang dari Jogjakarta, Medan, Kalimantan juga Jakarta.
Secara geologi, sungai yang mungkin bisa menggelar Dinner Cruise ala Thailand misalnya Sungai Brantas, yang membentang mulai Jl. Kayoon hingga Jl. Ngagel. Memang, perlu sejumlah perbaikan agar cruise bisa melaju tanpa halangan. Tetapi, setidaknya ada sensasi baru di Surabaya yang bisa ‘mengurung’ animo warganya makan malam di atas kapal di Thailand. Kapal-kapal eks penyeberangan Surabaya-Madura, minimal bisa dimanfaatkan secara maksimal.  Aktifitas belanja, menikmati indahnya taman dan bersihnya Sungai Brantas bukan segala-galanya. Buktinya, sungai berair keruh milik Thailand jadi andalan menarik wisman menjelang diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) pada akhir 2015 mendatang.(**/bersambung)