Terinspirasi Ikan Pari, Manuver Kapal Penjaga Pantai Sempurna

UBER Alles Roboboat Team (UART) kembali mengibarkan nama kampus ITN Malang di ajang bergengsi NASDARC (National Ship Design and Race Competition) 2015. Kompetisi itu digelar di danau Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (25/3/15) lalu. Desain Coast Ship berkepala ikan pari yang diusung mahasiswa Teknik Mesin ITN diganjar penghargaan sebagai juara IV di ajang tersebut.


Kompetisi ini, diikuti sebanyak 48 tim dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mengikuti lomba ini. Istimewanya,tim UART ITN Malang adalah satu-satunya yang bukan berasal dari kampus dengan jurusan perkapalan.
Sebuah miniatur kapal remote control sedang diutak-atik oleh tiga mahasiswa yang tergabung dalam UART ITN Malang. Mereka adalah Kadek Budi Adnyana Putra sebagai pengemudi, Deta Zegi Artady sebagai Teknik dan Fredy Santoso sebagai Ketua Tim. Selintas, kapal mereka mirip sebuah ikan lele, namun rupanya itu adalah desain kapal yang terinspirasi ikan pari. Desain unik ini merupakan inovasi baru yang dihadirkan tim mahasiswa ITN Malang sebagai sebuah strategi agar maneuver kapal lebih bagus.
“Kami sengaja memilih bentuk ikan pari supaya manuver kapal bisa lebih bagus, karena dengan desain ini kapal bisa lebih seimbang ketika bermanuver,” ungkap Kadek.
Prototype kapal yang dibuat mahasiswa ini adalah kapal berjenis Coast Ship atau penjaga pantai. Biasanya dipergunakan untuk penyelamatan, patrol atau pariwisata. Kapal roundnose ini berjenis lambung Katamaran dan dibuat dari bahan kayu balsa. Desain lambung ganda ini menurutnya sengaja dihadirkan agar kapal tidak mudah terbalik ketika bermanuver, sementara jenis kayu balsa dipakai karena lebih ringan sehingga pergerakan lebih cepat. Kapal ini menelan biaya pembuatan sekitar Rp 20 juta dengan lima kali percobaan.
“Dengan tema kapal penjaga pantai, kami berinovasi pada lambungnya dengan model Katamaran sehingga bisa lebih mudah melakukan penyelamatan,” kata dia.
Terbukti, ketika kapal mulai melewati lintasan yang dilombakan, begitu mudah pergerakan dan manuvernya. Kapal Ikan Pari ini bermanuver dengan lincah dan melesat cepat dibandingkan dengan lawannya yang lain. Ada dua kali race yang harus dilalui setiap tim, yang setiap race sudah diisi dengan rintangan di arena lomba. Lintasan berupa jalan zig zag dan checkpoint dengan jarak tempuh 70 meter. “Serasa kami sedang berada di lintasan sendirian saja, karena kapal kami melaju cepat melewati rintangan. Kapal yang lain jauh tertinggal,” ungkapnya.
Sayangnya, karena tim mahasiswa ITN Malang ini tidak pernah mengenal ilmu perkapalan, desain yang mereka buat kalah indah dari tim lain. Rata-rata bisa membuat sebuah prototype dengan model yang indah layaknya kapal sesungguhnya. Desainnya presisi, akurasinya bagus, dan indah.
“Kami sendiri mengakui bahwa tidak pernah belajar membuat dan mendesain kapal, yang kami tahu adalah bagaimana menggerakkan kapal dengan bekal ilmu di Teknik Mesin,” beber Fredy Santoso.
Meski desain kapal kurang sempurna, namun menurutnya para juri mengapresiasi ide desain kepala ikan pari pada kapal buatan mahasiswa ini. Ide inovasi ini menunjukkan karya yang hebat dan sesuai dengan tema kapal penjaga pantai.
“Waktu lomba ada angin besar, dan kapal kita tetap tenang sejak start awal. Karena kapalnya lebih pendek dengan moncong ikan. Tim lain tidak ada yang puny aide seperti kami,” ungkap mereka bangga.
Keikutsertaan mahasiswa Teknik Mesin ITN Malang di ajang lomba kapal cepat tak berawak ini bukan kali pertama. Pada 2014 lalu, ITN Malang sukses menembus peringkat ke 6. Berbekal pengalaman tahun lalu itulah, beberapa inovasi dilakukan untuk penyempurnaan kapal.
“Tahun lalu kami memakai bahan fiber sehingga jalannya kapal lambat, karena itu tahun ini kami gantikan dengan kayu balsa,” jelasnya.
Keberanian mahasiswa ITN menantang tim dari jurusan Perkapalan se Indonesia tak sia-sia. Setiap tahun, gelar juara selalu diraih. Bahkan ditargetkan pada tahun 2016 nanti, tim ini bisa merajai kontes kapal cepat tak berawak.
“Kami saat ini sedang menyiapkan lomba yang sama yang digelar Dikti di Makasar. Kami sudah siap dua desain baru untuk lomba ini,” ujar Pembina Tim UART Joko Hari Praswanto ST MT.
Hebatnya, ITN Malang adalah satu-satunya kampus di Malang yang tak pernah absen di ajang lomba ini. Meskipun tak memiliki jurusan Perkapalan, namun mahasiswa Teknik Mesin bertekad bisa menjadi yang terbaik. (lailatul rosida/red)