Derita Airendy Firdaus, 14 Tahun Kena Lumpuh Layu

Airendy Firdaus, 14 tahun hanya bisa terbaring lemah di ranjang rumahnya Dusun Watulor Desa Waturejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Penyakit lumpuh layu yang diderita sejak bayi memaksanya tidak bisa beraktifitas seperti anak seusianya. Lebih fatal, penyakit lumpuh layu tersebut disertai borok di sekujur tubuhnya sehingga semakin menambah penderitaan.

Rumah tempat tinggal Rendy nyaris tidak berbentuk. Ukuran rumahnya sekitar 36 meter persegi dengan kondisi sangat memprihatinkan. Rumah tersebut baru saja ditempatkan asbes sebagai atap menggantikan genting yang kondisinya juga banyak rusak.
Rumah tersebut juga tidak berada di tengah perkampungan. Rumah tersebut paling pinggir dari kampung dan berbatasan dengan kebun atau hutan. Sedangkan jalan depan rumah tersebut bukan paving, beton ataupun aspal, melainkan tanah liat.
Paling memprihatinkan dari rumah milik pasangan Paimun, 45 tahun dan Jami, 44 tahun (orang tua Rendy) adalah dinding karena sangat jauh dari sisi kelayakan.
Sebagian dinding berasal dari gedek (anyaman bambu). Sedang sebagian adalah papan kayu bekas digunakan untuk pembuat beton rumah. Gedek dan kayu bekas membuat beton itu pun tidak cukup untuk menutup semua dinding.
Makanya banyak dinding yang masih berlubang. Ada juga dinding yang hanya menggunakan kain kelambu sehingga angin pasti berhembus ke dalam rumah siang maupun malam.
"Sudah tidak ada uang lagi untuk menjadikan dinding rumah tertutup semua. Kayu dan asbes itupun masih utang," kata Paimun kepada Malang Post.
Berapa utangnya ? Paimun tidak tahu persis, soalnya urusan pembelian bahan dan tukang untuk atap tersebut diurusi Jami, istrinya. Jami saat ini sedang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya.
Satu harapan agar rumah bisa lebih baik adalah adanya bedah rumah. Dia mendapatkan kabar rumah tersebut mau dibedah berasal dari Koramil Ngantang.
"Bertahun-tahun kondisi rumah seperti ini. Baru-baru ini saya diberitahu orang dari Koramil, katanya ada bedah rumah," tegas Paimun.
Di tengah rumah dengan kondisi memprihatinkan ini, Rendy selalu kedinginan karena dinding yang lubang-lubang. Sewaktu Malang Post berada di rumah itu, Paimun dengan telaten mengusap badan anaknya dengan air.
Hal itu dilakukan setiap pagi dan sore sebagai pengganti mandi. "Mandinya seperti ini. Dia tidak mungkin dibawa ke kamar mandi karena kondisi yang lemas. Dia duduk saja tidak bisa, karena tubuhnya yang lemas," tambah pria yang bekerja serabutan ini.
Dalam kondisi tidak bisa apa-apa, Rendy terbiasa sendirian di rumah karena bapaknya harus bekerja. Pernah tetangga melihat Rendy hampir terjatuh dari ranjang. Sedangkan beberapa ayam mencucuk borok yang ada di kakinya.
Anak pertama dari dua bersaudara tersebut sudah lima tahun ini tidak tersentuh oleh medis.
Kalau ada pengobatan, hal itu dilakukan melalui alternatif. Misalnya saja daun binahong digunakan untuk mengobati borok agar bisa mengering. Sedang beberapa tetangga yang simpatik banyak banyak menyumbang pempers, layaknya digunakan bayi.
Mengapa orang tua Rendy seperti putus asa sehingga tidak membawa Rendy berobat secara medis ? "Uang darimana lagi untuk biaya pengobatan ? Semua sudah habis," tambah Paimun.
Mulai bayi, kata dia, pihaknya sudah mengajak anaknya berobat dengan berbagai cara. Tentunya, pengobatan tersebut banyak menguras biaya sehingga semua barang berharga habis. "Dulu ketika masih bayi, kambing satu kandang habis untuk berobat. Kira-kira ada sepuluh kambing dijual," kata pria asli Waturejo ini.
Berbagai tempat sudah didatangi, mulai Puskesmas hingga RSSA Malang. Begitu juga pengobatan alternatif di Malang hingga Mojokerto sudah pernah didatangi, tetapi Rendy juga tidak bisa sembuh. Keluarga Paimun kini hanya bisa berharap uluran tangan orang lain maupun pemerintah untuk biaya pengobatan anaknya. (febri setyawan/ary)