Hangat Tanpa Sekat, Rapat Penuh Kekeluargaan

Arema menorehkan tinta sejarah rekonsiliasi. Para pengurus Yayasan Arema Indonesia pemegang sah saham 93 persen PT Arema Indonesia berkumpul dalam satu ruangan. Sore kemarin, tembok-tembok ruangan tamu kediaman dinas H Rendra menjadi saksi bisu pertemuan rekonsiliasi H Rendra Kresna, Gunadi Handoko sebagai wakil M Nur, Bambang Winarno, Andi Darussalam Tabusala dan Iwan Budianto.
Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Hujan deras mengguyur kantor Bupati Malang Jalan Agus Salim 7. Rontokan dedaunan bercampur dengan gelontoran air yang mengalir di aspal halaman rumah dinas bupati. Di tengah bisingnya air yang menghantam genteng, para ajudan dan keamanan bupati, tampak duduk santai di kantor sebelah rumdin.
Di depan kantor ajudan, tampak mobil-mobil dinas dan plat hitam berjajar. Satu di antaranya, sebuah mobil mewah berwarna hitam milik CEO Arema Iwan Budianto. Para ajudan tampak santai di ruangan luar kantor. Mereka nonton laga hari terakhir QNB League, antara PSM lawan Sriwijaya FC. Pun, beberapa orang juga duduk-duduk di sofa ruang tamu kantor. Mereka semua tenang namun tetap waspada. Sebab, ada pertemuan penting yang terjadi di ruangan sebelah. Para pengurus Yayasan Arema Indonesia yang jadi pemegang saham terbesar PT Arema Indonesia, sedang rapat rekonsiliasi Arema.
Rapat digelar tertutup. Namun, saat Malang Post menunggu sejenak di luar ruangan H Rendra Kresna, CEO Arema Iwan Budianto tiba-tiba keluar bersama Manajer Legal Eko Prasetyo dan Ketua Panpel Abdul Harris. IB tampak serius berbincang dengan dua orang itu.
Setelah berbicara sebentar, dia masuk lagi ke dalam ruangan, meninggalkan Eko dan Harris di luar. Tak lama, IB keluar ruangan lagi. Meskipun wajahnya tenang, CEO Arema mondar-mandir keluar masuk ruangan yang menyaksikan pertemuan para pengurus Yayasan Arema Indonesia.
“Siapa ya, ada urusan apa ke sini?,” ujar IB, bercanda saat menyapa Malang Post di luar ruangan H Rendra. Cuaca hujan yang makin deras, masih mengiringi rapat. IB yang berbincang sesaat dengan Malang Post, menyebut dia tidak tahu menahu soal rapat ini.
“Saya baru datang ke Malang siang ini jam 11-an. Setelah itu, ditelepon ada rapat pengurus yayasan. Saya langsung siap-siap berangkat ke rumdin pak bupati,” tandas IB. Sesaat kemudian, IB masuk ke dalam ruangan dan melanjutkan rapat dengan para pengurus.
Dari balik pintu yang sedikit terbuka, tampak wajah Bambang Winarno Pengawas Yayasan Arema yang terlihat tenang. Begitu juga, Kuasa Ketua Yayasan M Nur, Gunadi Handoko dan Andi Darussalam Tabusala mantan Presdir PT Liga Indonesia.
Sedangkan, H Rendra Kresna sebagai Bendahara Yayasan, sesekali melongok keluar. Matanya memicing dari sudut kacamata, merasakan udara dingin dari hujan deras di luar.  ADT, sapaan akrab Andi di Malang, sempat keluar dari ruang rapat. Dia ingin buang air kecil.
Abdul Harris, memayungi ADT yang ingin ambil waktu sejenak untuk istirahat dari rapat. IB menyebut, M Nur tidak bisa hadir karena sedang berada di Aceh. “Pak Nur berhalangan hadir karena sedang di Aceh. Dia mantu, anaknya menikah. Karena itu, pak Gunadi datang sebagai kuasa pak Nur,” sambungnya.
Lalu, apakah rapat terasa berat dan panas? IB menampiknya. Perselisihan yang digembar-gemborkan terjadi ketika era dualisme, sama sekali tidak terasa dalam ruangan tersebut. Bahkan, mantan Exco PSSI itu menilai pertemuan sore kemarin sangat hangat dan penuh kekeluargaan.
Seiring hujan yang makin reda sekitar pukul 17.30 WIB sore, rapat rekonsiliasi pun usai. “Suasana sangat kekeluargaan. Tidak ada sekat. Semuanya punya semangat sama untuk menjaga eksistensi Arema. Tentu kita bergembira,” tandas IB.
Setelah rapat usai, semua pihak keluar. ADT, Gunadi Handoko, Bambang Winarno dan IB langsung memasuki mobil hitam yang terparkir di samping pendopo. “Setelah ini, saya langsung ke Jakarta. Besok pagi (hari ini) sudah terbang lagi. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di Jakarta,” tutup IB.(fin/han)