Dua Tahun Raih 80 Piala, Akhir Pekan Dipakai untuk Berlomba

Jova Andarista selalu menolak ketika diajak orang tuanya untuk mengikuti lomba mewarnai di sekolahnya. Berbagai alasan dia lontarkan, mulai dari sakit perut, sakit gigi dan alasan-alasan lain yang sebenarnya orang tua dia tahu bahwa alasan tersebut dibuat-buat. Hingga pada suatu hari, Jova melakukan semacam transaksi kepada sang ayah, Joni Santoso. Jova meminta satu paket krayon yang baru dia lihat di televisi.

Deal! Permintaan Jova dipenuhi Joni. Warga Jl Pelabuhan Bakauheni 12, RT 5 RW 6, Bakalan Krajan, Sukun, Kota Malang ini, langsung membelikan Jova krayon, sesuai dengan permintaan anaknya. Dengan catatan, Jova mau mengikuti sanggar menggambar dan mewarnai yang berada di Ngaglik, Sukun, Kota Malang, yaitu Sanggar Ceria.
Permintaan Joni bukan tidak beralasan. Joni melihat bakat tersebut di putri kecilnya. Waktu pertama kali mengikuti salah satu lomba di TK-nya, TK ABA 28, Sukun, Kota Malang, Jova langsung mendapat juara, meski bukan juara pertama. Saat itu, sang juri menganggap bahwa Jova memiliki bakat di seni lukis.
Benar saja, sejak Jova rutin berlatih mewarnai dan menggambar, bakat Jova semakin hari semakin terasah. Bakat bawaan Jova, ditambah latihan dan pengembangan teknik Jova, membuat siswi kelas II di SDN Bandungrejosari 1 ini, kini memetik hasilnya. Kini, puluhan piala dari berbagai lomba menumpuk di rumahnya.
Jova memang baru berusia 8 tahun. Putri kelahiran 12 Februari 2007 ini juga baru 2,5 tahun menggeluti hobi mewarnai dan menggambar. Namun, Jova sekarang sudah berhasil meraih puluhan piala penghargaan.
Di rumahnya saja, ada sekitar 60 piala hasil dia mengikuti lomba. Belum ketambahan piala-piala yang dia berikan ke sekolah. Ada sekitar 15 piala yang dia berikan ke TK dan enam lainnya diberikan ke SD. Sertifikat penghargaan, juga menumpuk di rumah putri pasangan Joni Santoso (35) dan Suci Ponco (33) itu. Sekarang, mewarnai dan menggambar menjadi hobi Jova.
Saat ditemui Malang Post di kediamannya, Jova tampak malu-malu. Anak perempuan yang berperawakan kurus dan berambut sebahu ini, selalu bersembunyi di belakang ibunya, Suci Ponco. "Senang saja, emang hobi," kata Jova singkat saat ditanyai kenapa dia sering mengikuti lomba mewarnai dan menggambar.
"Sulit waktu menebalkan garis, capek," tambah dia menjelaskan apa kesulitannya saat menggambar. Meski mengalami kesulitan, tapi tetap saja hasil gambar Jova hampir selalu mendapat penghargaan. Bahkan, tidak hanya di Malang, Jova juga sering ikut lomba di luar kota, seperti Surabaya, Sidoarjo, sampai Jember.
Hampir setiap hari Minggu, dia menghabiskan waktu untuk mengikuti lomba. Ayahnya Joni, juga rajin mencarikan info lomba mewarnai di Malang, maupun luar Malang. Kemudian, dia tawarkan ke Jova, bila mau mereka siap untuk berjuang menjadi juara di lomba tersebut. "Tapi sebagian besar Jova selalu mau," kata Joni.
Jova sendiri, mengaku bingung kalau setiap akhir pekan tidak ikut lomba. Tangannya sudah terbiasa untuk mengarsir gambar dengan crayon kesayangannya. Setiap lomba, dia bisa menghabiskan waktu 1,5 sampai tiga jam. Hasilnya? Memuaskan. Dari berbagai lomba yang dia ikuti, hampir semua mendapatkan penghargaan.
Ya, Jova masih duduk di kelas II SD, tapi dia sudah bisa meringankan beban orang tua. Untuk membeli pakaian, buku-buku sekolah, sampai tablet sekalipun, dia beli dari hadiahnya saat menjadi juara. "Bahkan, dia pernah merayakan ulang tahunnya pakai hasil hadiah. Tapi memang sering dipakai untuk belanja. Jova senang belanja," kata Suci sambil tertawa kecil.
Setiap lomba, Suci selalu menemani Jova. Meski saat lomba berlangsung dia hanya bisa melihat dari kejauhan, tetap saja Suci selalu berharap anaknya bisa menjadi juara. Di antara pengalaman saat menemani Jova ikut lomba, ada pengalaman yang paling tak bisa dia lupakan.
Saat itu Suci mengantar Jova mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan dari Jakarta.  Lomba tersebut itu diselenggarakan di Malang Town Square (Matos). Saat itu Suci ingat sekali, batas waktu lomba mewarnai ini hanya satu jam.
"Waktu itu saya dengar, ada orang tua dari sanggar lain sedang membicarakan Jova. Dia meremehkan anak saya," jelas Suci. Dilanjutkan, orang tua itu meremehkan Jova yang mulai mewarnai dengan menggaris-garisi gambar. "Dia meremehkan. Dia mengatakan saat itu anak saya tidak akan menang," tambah Suci bernada emosi.
Tapi buktinya, kata Suci, saat diumumkan anaknya malah mendapat juara lebih tinggi. Jova saat itu mendapatkan juara II, sedangkan anak orang tua yang meremehkan Jova, hanya mendapat juara harapan II. "Saya hanya bersyukur, anak saya bisa sukses," kata Suci.
Lebih lanjut, dalam mengikuti lomba, Jova tidak selalu bersaing dengan anak-anak sepantarannya. Jova juga sering ikut lomba yang seharusnya baru bisa diikuti oleh anak kelas III, IV dan V. Tapi toh, saat itu Jova malah menjadi juara I. "Jova dipuji juri, katanya gambar Jova bukan gambar anak-anak," ungkap Suci.
Puluhan piala yang dikumpulkan Jova kini tersusun rapi di rumahnya. Saat mendatangi rumahnya ini, berjejer piala-piala, sertifikat, serta karya Jova yang dipigura. Setiap anak-anak yang berkunjung ke rumah ini, pasti kaget melihat prestasi Jova yang masih kecil itu.
Prestasi-prestasi Jova saat ini memang masih berskala kota/kabupaten saja. Meski begitu, jalan Jova masih panjang. Suatu saat, Jova akan membuktikan kemampuannya di skala yang lebih besar.
Sinyal itu pun sempat ada. Jova pernah dipilih menjadi perwakilan Kota Malang untuk mengikuti lomba skala yang lebih besar di Yogyakarta. Akan tetapi, karena saat itu akomodasi untuk ke sana ditanggung sendiri, akhirnya Jova batal. Pihak sekolah juga enggan memberi bantuan dana. Padahal, bila Jova menang dalam kompetisi di Yogyakarta, Jova berhak mewakili Indonesia di Singapura dan berkesempatan menjadi duta pelajar.
"Tapi sayangnya kami tidak bisa ikut, karena tidak punya dana. Pihak sekolah juga tidak memberi bantuan meski ketika Jova menang, nama baik sekolah akan dibawa. Ya sudah, masih ada kesempatan lain. Saya cuma ingin anak saya sukses," imbuh Joni seraya memeluk mesra anak satu-satunya itu.
Kini selain mewarnai di media kertas, Jova juga sudah mulai melukis di media seni rupa, seperti pot, maupun benda-benda dari tanah liat. Selain itu, Jova juga sudah  mulai belajar menggambar sendiri. (Muhamad Erza Wansyah/ary)