Mengungkap Hubungan Historis Hadramaut dan Nusantara (habis)

Hubungan klasik antara Hadramaut dan Nusantara dibuktikan dengan fakta lain. Beberapa kata dari bahasa Indonesia, bahkan Jawa, menjadi bahasa prokem orang Hadramaut, sampai saat ini. Apa saja? Berikut ulasan terakhir Ustadz Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi, Alumni Universitas al-Ahgaff, Yaman yang juga Pengurus Himpunan Mahasiswa dan Alumni al-Ahgaff Yaman (HIMMAH) di Indonesia, disampaikan khusus kepada Malang Post.
 
 “Susah-susah kita ngapalin bahasa Arabnya sarung itu izar, eh di sini yang dipakai kata ‘sarung’ juga,” kelakar teman saya dari Lombok, saat mendapati sebagian kata dalam bahasa Indonesia, ternyata dipakai oleh sebagian orang Hadramaut.
Selain kata ‘sarung’, bahasa Indonesia yang dipakai dalam bahasa sehari-hari oleh hadhrami (orang Hadramaut, red.) adalah kata ‘sambal’, ‘sandal’, ‘kerupuk’, ‘plafon’, ‘selimut’, dan sebagainya. Bahkan untuk kata terakhir (selimut), tidak hanya bahasa Indonesia yang mereka pakai, tapi juga bahasa Jawa, yakni ‘kemul’. Hanya saja, barangkali karena sulit melafalkan dengan tepat, mereka mengatakan ‘qanbul’. Bila selimutnya banyak, mereka mengatakan ‘qanabil’. Padahal menurut bahasa fushah (yang benar), ‘qanabil’ adalah bentuk plural dari ‘qunbulah’ yang berarti ‘bom’. Sangat jauh makna dan kegunaannya dengan selimut.
Bila orang Hadramaut mengajak berfoto bersama, biasanya mereka mengatakan, “Yallah, natagambar (ayo, kita berfoto)”. Mereka menyebut ‘kita berfoto’ dengan istilah ‘natagambar’. ‘Na’ berarti kita, sedang ‘gambar’; yang dimaksud adalah bahasa kita, yakni foto.
Fakta bahasa serapan dari bahasa Indonesia dan Jawa ini menjadi dalil bahwa ikatan historis Hadramaut dan Indonesia memang telah berlangsung lama. Dengan kata lain, kata-kata dari bahasa Indonesia atau Jawa itu tidak dipakai barusan saja, yakni saat pelajar Indonesia mulai membanjiri Hadramaut sejak 1995, namun memang sudah dipakai sejak baheula.
Setidaknya ada dua bukti untuk menjelaskan hal itu. Pertama, ada kata dalam bahasa Jawa yang dipakai orang Hadramaut, yang justru telah dilupakan oleh sebagian orang Jawa sendiri. Kata itu adalah ‘sengkeh’. Syaikh Muhammad Ali Ba'udhan, seorang Mufti Tarim yang juga dosen Universitas al-Ahgaff Hadramaut, saat menyampaikan perkuliahan, sering menyebut kata itu. Ketika saya tanyakan pada teman-teman dari Yaman –paling tidak setengah tahun kami harus ‘belajar’ bahasa-bahasa prokem Hadramaut untuk memahami ucapan dosen-, mereka justru balik bertanya, “Bukannya itu bahasa kalian (orang Jawa, red)?”
Setelah menggali informasi dari beberapa teman Indonesia, ternyata kata ‘sengkeh’ memang berasal dari bahasa Jawa agak kuno dan kini jarang dipakai. Di Hadramaut, kata itu justru masih diucapkan sehari-hari. ‘Sengkeh’ sendiri artinya ngeyel alias sulit diatur.
Kedua, pengguna kata-kata serapan dari Bahasa Indonesia dan Jawa itu ternyata bukan hanya masyarakat perkotaan. Orang-orang badui (Arab udik) pun menggunakan kata-kata itu. Hal ini mendalilkan bahwa penyerapan bahasa itu telah terjadi sekian lama dan meluas, karena pelajar Indonesia yang banyak datang ke Hadramaut, bermukim di daerah perkotaan, bukan di pedalaman.
Saya punya pengalaman unik ketika selama hampir dua bulan tinggal di sebuah desa bernama Khuraibah di wadi (lembah) Dou’an. Daerah ini masuk kategori Hadramaut ad-Dakhil alias pedalaman Hadramaut. Saya dan beberapa teman berada di sana untuk mengisi liburan musim panas dengan praktik mengajar anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).
Selama dua hari kami menempuh perjalanan dari Tarim untuk sampai ke Khuraibah. Bila memakai mobil pribadi mungkin tidak selama itu kami harus menempuhnya. Namun karena belum terdapat angkutan umum dan kondisi jalan kebanyakan makadam (belum diaspal), kami harus pindah dari mobil satu ke mobil yang lain. Terkadang menumpang mobil yang mengangkut barang dagangan. Terkadang menumpang mobil yang mengangkut hewan ternak. Terkadang juga harus berjalan kaki untuk menunggu mobil tumpangan. Wal hasil, desa yang kami datangi benar-benar di pelosok dan belum dimasuki aliran listrik.
Selama tinggal di daerah pedalaman inilah, kami dapati ternyata kata ‘selimut’, ‘qanbul’, ‘sarung’, juga dipergunakan masyarakat setempat. Kami juga memiliki pengalaman lucu terkait bahasa serapan ini. Selama di sana, kami tinggal di asrama ma’had atau pesantren yang ada di atas masjid yang berdiri di lereng bukit. Pesantren ini milik Sayyid Hamid al-Jailani, adik Sayyid Umar al-Jailani, pimpinan Majlis al-Umana’ (Majlis Amanah) Universitas al-Ahgaff. Sayyid Umar sendiri sering datang ke Indonesia, terutama pada acara Majlis al-Khidmah asuhan almarhum KH Asrari Al Ishaqi, Kedinding Surabaya.
Singkat cerita, di daerah pelosok Hadramaut itu, karena belum ada listrik, kami memakai petromak. Pada suatu malam, kaos petromak kami jatuh dan otomatis tak dapat lagi digunakan. Akhirnya, saya dan teman asal Lampung bermaksud membeli barang itu di pasar desa. Tapi, teman saya berpikir, “Apa bahasa Arabnya kaos itu?” Maklum, kaos di Indonesia kini jadi “barang langka” karena sudah jarang orang yang memakai petromak, dan saat di pesantren di Indonesia dulu, kami tidak pernah mempelajari maknanya dalam bahasa Arab.
Akhirnya kami putuskan, kita berangkat saja ke pasar. Urusan apa bahasa Arabnya ‘kaos’, kita terangkan saja sifat-sifatnya. Nanti orangnya juga bakal ngeh.
Sesampainya di salah satu toko yang terletak di dasar lembah, kami sampaikan ‘isi hati’ kami. Dalam bahasa Arab, kami jelaskan, “Pak, kami ingin membeli sebuah barang, warnanya putih, nempel di petromak, dari benda itu keluar cahaya, namun jika ia jatuh dan rusak, cahayanya mati.”
Setelah menjelaskan panjang lebar, si penjual dengan ringan menyimpulkan, “Oh, batasytari kaos (Oh, kamu mau beli kaos).” Lah, ia menyebut ‘kaos’ dalam bahasa Arab itu juga ‘kaos’.
Hadharim memakai kata-kata bahasa Indonesia dan Jawa itu, salah satunya, karena hubungan dagang yang sangat lama. Pasalnya, kata-kata serapan itu rata-rata adalah komoditi perdagangan. Sejak ratusan tahun lalu, pedagang dari Hadramaut datang ke Nusantara untuk berdagang, dan kembali ke negerinya dengan membawa barang-barang dari Indonesia. Secara turun temurun, kata-kata itu digunakan, tidak hanya di daerah perkotaan, namun juga oleh orang Hadramaut pedalaman.
Fenomena ini menunjukkan timbal balik dari proses akulturasi budaya. Karena selain bahasa Indonesia diserap oleh Hadrami, banyak kata bahasa Indonesia (Melayu) yang juga merupakan kata serapan dari bahasa Arab.
Dalam proses akulturasi budaya bahasa inilah, kata-kata dari Indonesia dan Jawa melengkapi khazanah bahasa ‘amiyah di provinsi terbesar di Yaman ini. Jika bahasa menujukkan budaya, siapa bilang budaya kita tak mampu pengaruhi negara lain? (red/habis)