Ahmad Shodiq Penggagas Green Community Kepanjen Ijo

KIPRAH dari Ahmad Shodiq, Warga Desa Mangunrejo Kecamatan Kepanjen di bidang kepedulian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, patut diapresiasi. Meski mengalami keterbatasan fisik, karena tidak memiliki kaki kanan, ia tetap eksis berkarya. Buktinya, selama empat tahun belakangan ini, ia fokus memotori Green Community Kepanjen Ijo, yang konsisten di bidang lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Pagi itu, mengenakan kemeja bercorak batik, Ahmad Shodiq tengah memilah sampah di depan Kantor Kelurahan Kepanjen. Penggagas Green Community Kepanjen Ijo tak membuang kesempatan, usai mengikuti sebuah acara. Mengenakan tongkat penahan tubuh, pria berusia 45 tahun ini, tanpa kesulitan menjalani aktivitasnya, memungut serta memilah sampah.
Sejak lahir bapak tiga anak ini telah kehilangan kaki kanannya. Namun, ia tetap memiliki semangat tinggi menjalani aktivitasnya sehari-hari. Setiap hari, ia berangkat dari rumahnya, menggunakan sepeda motor dan menuju sudut-sudut kampung yang ada di Kepanjen. Tujuannya, hanya untuk memungut sampah-sampah.
Tidak semua sampah, ia pungut. Melainkan, harus dipilah terlebih dahulu. Yakni memilah antara sampah plastik yang bisa diolah dan sampah dari tanaman. “Kalau sampah plastik, diolah menjadi aneka kerajinan tangan. Kalau sampah tanaman seperti rumput, diolah menjadi pupuk kompos,” ujarnya kepada Malang Post.
Sampah dari plastik, disulap menjadi tas plastik, dompet plastik, bunga plastik, vas bunga plastik, tempat alat tulis plastik dan sebagainya. Sedangkan untuk sampah tanaman, diolah menjadi pupuk kompos dan pupuk organik. Kemudian, pupuk itu, dijual kepada para petani di Kepanjen dan sekitarnya, dengan harga terjangkau.
Sedangkan produk yang menjadi andalannya, merupakan pupuk organik dan dompet plastik. Penjualan pupuk organik itu katanya, hingga ke Kalimantan seperti Samarinda dan Balikpapan. Pupuk organik itu, banyak dipesan oleh petani dari dua daerah tersebut. Sedangkan karya dompet plastik, sudah tembus hingga Jepara, Jawa Tengah.
Untuk satu kerajinan dari plastik, dijual seharga paling murah Rp 5.000 hingga paling mahal senilai ratusan ribu rupiah. Sedangkan harga pupuk organik per sak Rp 80 ribu
“Seluruh karya kerajinan dari sampah ini, murni kreasi dari seluruh anggota Green Community Kepanjen Ijo,” tutur berkacamata ini.
Awal mula ia membentuk komunitas tersebut, atas keprihatinannya atas permasalahan sampah di Kepanjen. Apalagi Kecamatan Kepanjen sudah dinobatkan sebagai Ibukota Kabupaten Malang.
Sehingga, menurutnya, Kepanjen terus berkembang menjadi perkotaan modern. Hal itu membuat permasalahan berada di perkotaan modern, patut diantisipasi sejak dini, Salah satunya, merupakan permasalahan sampah yang tidak bisa terkendali. Bermula dari sampah itu, menimbulkan permasalahan yang beraneka ragam.
Diantaranya penimbunan sampah, sampah dibuang sembarangan menyebabkan banjir dan mudah menimbulkan penyakit. Sehingga, kata Shodiq, sampah perlu dikendalikan, salah satu caranya didaur ulang. Karena sampah, juga bisa bermanfaat dan dikembangkan, Sampah, bisa bernilai tinggi bila dikembangkan dengan baik dan benar.
“Untuk itulah, digagas Green Community Kepanjen Ijo. Tujuannya, untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada,” tuturnya. Komunitas yang dibentuk pada tahun 2011 lalu, awalnya dipandang sebelah mata. Apalagi, saat itu anggotanya belum banyak. Sehingga kiprah dari komunitas ini, sempat dipandang sebelah mata.
Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas ini bisa menunjukkan jati dirinya. Selain itu, menghasilkan karya yang inovatif. Saat ini, komunitas tersebut, sedikitnya terdapat 50 anggota. Semua anggotanya, menggantungkan kehidupannya melalui sampah. Karena dapat meningkatkan perekenomian dan pendapatan mereka.
“Melalui komunitas ini, memberikan manfaat bagi anggotanya,” imbuhnya.
Disinggung mengenai perputaran uang melalui komunitas itu, ia mengaku mencapai jutaan rupiah tiap bulannya. Paling tidak, sebulannya paling sedikit mendapat Rp 5 Juta. Yang terpenting katanya, mampu membuat anggotanya berkembang dan kreatif.
Soal pendapatan, bisa berkembangnya sesuai kreatifitas anggota. Anggota komunitas itu, terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan para pemuda yang sebelumnya, tidak mempunyai pekerjaan, Melalui komunitas ini, ia berharap menggugah seluruh masyarakat.
Namun, yang patut diapresiasi, adalah kiprah Shodiq dalam mengembangkan kommunitas ini. Di tengah keterbatasannya, ia tetap eksis serta mempunyai semangat berlipat. Ia berharap, dapat ditiru masyarakat lainnya, utamanya kepada para pemuda di Kabupaten Malang.(Binar Gumilang/ary)