Semarang, Kota Industri Sekaligus Pusat Hiburan ‘Nakal’ di Jawa Tengah

SEMARANG  punya reputasi sebagai kota pelabuhan. Transaksi bisnis berjalan cepat, sehingga Semarang jadi kota terbesar nomor lima di Indonesia. Pertumbuhan ini, berjalan seiringan dengan bisnis pariwisata dan hospitality. Tak terkecuali, wisata malam hari, yang ikut bertumbuh, mengiringi perkembangan Semarang. Berikut penelusuran Malang Post, menjelajahi wisata malam yang digemari eksekutif luar kota yang singgah di kota lumpia.

Begitu banyak julukan yang diberikan kepada Semarang. Zaman Belanda, Semarang disebut Venetie van Java, alias Venesia versi Jawa. Banyak sungai yang melalui kota.  Walikota Semarang, menyebutnya sebagai Semarang Pesona Asia, disingkat SPA. Ada pula, sebutan Semarang Kota ATLAS, akronim dari Aman Tertib Lancar Asri dan Sehat.
Namun, dari sekian banyak sebutan, julukan Port of Java alias Pelabuhannya Jawa, paling cocok disematkan kepada Semarang. Pebisnis, pengusaha, pedagang dari berbagai kota dan provinsi, mampir di Semarang untuk singgah. Pelabuhan Tanjung Mas, adalah pelabuhan yang jadi jalan masuk pengusaha serta pedagang besar untuk berbisnis di Semarang.
Pelabuhan yang hanya berjarak 5 kilometer dari Tugu Muda Semarang, ikon sejarah Semarang, memiliki ukuran 400 hektar, dengan luas lahan 500 hektar. Tak heran, begitu banyak pengusaha luar kota yang masuk ke Semarang. Praktis, Semarang tidak sia-sia mengemban julukan Pelabuhannya Jawa.
Hal ini berdampak besar pada kultur Semarang. Salah satu wartawan senior Semarang yang sempat diwawancara Malang Post, sebut saja Hega, menyebut bahwa masyarakat Semarang adalah masyarakat yang plural. “Masyarakat sini adalah masyarakat abangan, tidak alergi dengan kultur asing yang masuk, selama tidak bertentangan dengan adat lokal,” tandasnya.
Ia berujar, masyarakat abangan Semarang, memberi toleransi untuk kultur baru, termasuk banyaknya pendatang. Tak heran, kota ini berkembang pesat, baik secara ekonomi maupun kultur. Sebab, katanya, Semarang sudah jadi kota megapolitan.
“Mungkin, Malang sudah bisa disebut metropolitan. Sedangkan, Semarang menyamai Surabaya dan Bandung, bisa disebut sebagai kota megapolitan. Semarang, punya semuanya. Hiburan malam dan bisnis servis pun laris,” sambungnya.
Dari penuturannya, pertumbuhan industri dan bisnis jasa di Semarang, membuka jalan untuk usaha yang nyrempet batasan norma. Satu di antaranya, panti pijat yang menyediakan jasa plus-plus untuk orang-orang luar kota, yang kebetulan sedang berbisnis di Semarang.
Selain memburu pundi rupiah, orang luar kota juga mencicipi hiburan malam Semarang yang hidup dan bergairah. Bahkan, Hega menyebut bahwa Semarang begitu toleran, sampai-sampai panti pijat tetap buka saat bulan puasa. “Klub malam, panti pijat, tetap buka walau puasa. Soalnya masyarakatnya abangan, toleran,” tambahnya.
Kebetulan, Malang Post sempat mewawancarai secara langsung, salah satu pekerja di panti pijat terbesar Semarang. Terletak di sebuah ruko daerah Peterongan, dekat Java Mall, wanita yang akrab disapa Bintang ini menceritakan tentang pengusaha luar kota, sekaligus penikmat jasa plus-plus di panti pijat tersebut.
“Saya sudah sering melayani tamu dari banyak kota. Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, serta luar pulau Jawa. Kebanyakan mereka datang ke sini, untuk cari hiburan,” tandas wanita 23 tahun asli Semarang tersebut. Lulusan SMK ini menyebut, tamu-tamu tersebut datang karena mendengar cerita tentang rumor panti pijat.
“Ya memang seperti itu. Kebanyakan memang dari mulut ke mulut. Mereka datang, ngakunya di antar teman asli Semarang. Cari pelepas ketegangan,” tandas ibu satu anak yang memiliki tato di punggung kanan tersebut. Bintang meyakini, orang luar kota yang datang, bukanla orang biasa.
Sebab, ia biasa menerima tips yang besar dari tamu luar kota. “Biasanya, saya terima Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu, tergantung servis, maunya apa. Mereka pun sering nambah. Belum lagi, harus bayar room pijatnya Rp 300 ribuan. Jelas, tamu-tamu saya tidak dari kalangan dompet tipis,” sambung wanita dengan kulit kuning langsat itu.
Dengan besarnya tips dari tamu, Bintang mengaku bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 2,1 juta per hari. “Kalau ramai, bisa sampai Rp 2,1 juta. Terutama, kalau ada tamu yang minta aneh-aneh. Pasti mau beri tips lebih,” sambung mantan SPG rokok ini.(tim)