Tak Jual Karya, Fokus Kembangkan Pabrik Biji Plastik

M Nor Muhlas, dan hasil karya lukisannya.

M Nor Muhlas, Mantan Anggota Dewan yang Jago Melukis
DI kalangan politisi, siapa yang tidak kenal dengan sosok M Nor Muhlas. Pria asal Kecamatan Wajak ini, adalah mantan anggota DPRD Kabupaten Malang, selama dua periode. Yaitu mulai 2004-2009 serta 2009-2014. Namun di balik kesibukannya selepas menjadi anggota dewan, ternyata ada sesuatu yang menarik.
Penampilan M Nor Muhlas, masih tetap sama seperti dulu. Sama sekali tidak ada perubahan antara sekarang dengan dulu saat masih menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Malang. Saat bertemu Malang Post, Rabu lalu pakaiannya rapi dan necis. Menandakan sosok orang yang berwibawa.
Di balik kepribadiannya yang kalem dan santun, Muhlas ternyata seorang seniman. Ia merupakan seorang pelukis. Jiwa lukis ini sudah tertanam sejak ia masih muda, sebelum terjun ke dunia politik.
“Saya ini orangnya memang basic seni. Saya sarjana S1 seni rupa di IKIP Negeri Malang (UM),” ujar Muhlas.
Ketika lulus kuliah beberapa tahun lalu, bakat seni rupa yang dimiliki memang tidak pernah ditonjolkan, sehingga tidak banyak yang tahu. Sebab setelah lulus kuliah, Muhlas yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ikut organisasi, memilih untuk bergabung dengan organisasi politik. Ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
“Awalnya dulu, saya bergabung dengan IPNU,” katanya. Dari organisasi itu, Muhlas lalu aktif dalam kegiatan politik. Kemudian pada 2004, Muhlas maju menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang dan terpilih untuk periode 2004-2009. Lalu berlanjut pada periode 2009-2014.
Selama menjadi politisi, Muhlas meninggalkan bakat seni yang dimiliknya. Ia lebih konsen pada pekerjaannya, sebagai wakil rakyat. Menjadi penyalur aspirasi dari permasalahan yang ada di masyarakat.
Baru setelah lepas dari anggota DPRD, bakat melukis yang dimiliki dikembangkan lagi. Namun bukan untuk bisnis. Tetapi hanya sebagai koleksi, sekaligus bagian media untuk bereskpresi saja.
“Melukis itu adalah hobi saya. Dulu saat menjadi anggota dewan, memang tidak sempat karena tidak ada waktu. Sekarang lebih banyak waktu, sehingga bisa menyalurkan hobi untuk media berkespresi saja,” tutur mantan Ketua KNPI Kabupaten Malang pada 2007 lalu.
Memang tidak banyak hasil karya yang sudah dibuat. Setelah berhenti menjadi anggota DPRD sampai sekarang ini, ada delapan lukisan yang sudah dikerjakan. Semua lukisannya sangat bagus dan memang layak untuk dijual. “Membuat lukisan tidak sehari langsung jadi, tetapi butuh beberapa hari untuk menyelesaikannya,” ujarnya.
Selain melukis yang menjadi hobi, pengurus DPC PKB Kabupaten Malang ini, juga sedang konsen mengembangkan bisnisnya. Yaitu mengelola pabrik limbah plastic menjadi biji plastik. “Pabrik ini sebetulnya sudah sejak 2012 saat masih menjadi anggota DPRD. Sekarang setelah tidak menjadi anggota dewan, saatnya fokus mengelolanya,” katanya.
Diceritakan Ketua DPC Persatuan Kontraktor Listrik Nasional Malang Raya ini, awal memulai bisnis biji plastik perlu perjuangan keras. Berawal dari usaha studio foto yang dimilikinya. Saat itu ada tawaran dari salah satu karyawannya, yang menawarkan mesin giling plastik yang dijual.
Saat mendapat tawaran itu, Muhlas tidak langsung menerima. Alasannya karena ia sama sekali tidak paham. Tetapi karena nekat dan berpikir bahwa mesin itu bisa menjadikan sebuah pekerjaan, ia kemudian membelinya. Kebetulan Muhlas juga memiliki lahan yang lumayan luas, untuk sebuah pabrik.
“Tetapi, begitu mesin giling datang dari Mojokerto, saya berpikir lagi untuk apa mesin itu. Akhirnya untuk mendapat informasi bagaimana memanfaatkannya, selain membuka internet, saya juga observasi dengan keliling ke beberapa pabrik plastik. Alhamdulillah, saat keliling itu ada salah satu teknisi dari pabrik plastik bersedia mengoperasikannya. Ia kemudian ikut saya dan menjalankan mesin giling yang berkapasitas dua ton itu setiap harinya,” jelasnya.
Awalnya hanya dikerjakan tujuh orang. Tetapi dengan berkembangnya pabrik biji plastic, sekarang ini ada 18 karyawan yang bekerja di pabrik, dan 38 orang karyawan yang bekerja di luar pabrik untuk memilah bahan plastik yang akan digiling.
Begitu pula dengan hasilnya saat ini, diakui lumayan cukup. Dari modal awal yang hanya sekitar Rp 250 juta, tetapi setiap bulannya bisa mendapatkan penghasilan (omset) kotor sekitar Rp 150 juta.
“Biji plastik hasil produksi, tidak setiap harinya kami kirim. Tetapi sebulan empat kali kirim ke pabrik-pabrik plastik di Malang Raya. Saya sendiri, membuka usaha pengelolaan limbah plastik ini, karena berangkat dari kecintaan terhadap lingkungan. Karena misi saya, selain untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, juga peduli terhadap lingkungan,” paparnya.
Untuk bahannya, selain limbah plastik masyarakat di Malang Raya, juga mengambil limbah plastik dari Lumajang dan Probolinggo. Ada sekitar 13 orang pengepul yang selalu rutin mengirimkan limbah plastik kepadanya.(agung priyo/ary)