Mahasiswa UB Raih Medali Emas Ajang Internasional di Malaysia

Dua mahasiswa jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya tampil mengejutkan di kompetisi internasional yang digelar oleh Universitas Malaysia Perlis baru-baru ini. Berbekal produk panganan sehat dari olahan rumput laut coklat, Jefri Anjaini dan Syifa Rizkyawati berhasil merebut medali emas dari tangan ratusan delegasi lainnya.

International Engineering Invention and Inovation Exhibition (I-ENVEX) merupakan ajang kompetisi bergengsi skala Internasional yang digelar di Malaysia pada 17 hingga 19 April lalu. Ajang kompetisi ini mampu menghadirkan sekitar 400 tim dari beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Korea, Oman, Filipina, Taiwan, Vietnam, Mesir, Iran, Iraq dan masih banyak lagi.
Persaingan berlangsung cukup ketat dengan tujuh jenis kategori lomba. Adalah Agriculture, Environmental and Renewable Energy, Automotive Transportation adn industrial design, biotechnology, health and chemical, building construction and materials. Dilanjut dengan kategori  ICT Multimedia, Telecommunications electricity and electronic, Manufacturing process, machines and equipment, dan terakhir social science.
Jefri dan Syifa, salah satu dari 10 delegasi Indonesia yang dikirim ke kompetisi itu berhasil membawa pulang medali emas dalam kategori Biotecnology, Health and Chemical gara-gara produk yang dinamai Browsea (Brown Seaweed). Browsea adalah coklat rumput laut yang diajukan sebagai solusi pencegahan kanker payudara dengan campuran theobroma cacao dan sargassum siliquosum salah satu jenis rumput laut coklat.
“Rumput laut yang saya gunakan itu mengandung senyawa fucoidan dan bisa memotong sel kanker payudara. Studi itu sudah ada banyak di jurnal-jurnal. Saya hanya mengolahnya menjadi panganan sehat sebagai pencegah kanker payudara,” ungkap Jefri kepada Malang Post.
Untuk membuatnya, Jefri mengaku membutuhkan ekstrak rumput laut, bubuk rumput laut, dan rumput laut asli. Untuk komposisi Browsea, Jefri mengaku membutuhkan perbandingan coklat sebanyak 40 persen dan sisanya adalah rumput laut asli.
Produk olahan sehat ini menurut Jefri telah ditemukan setahun yang lalu. Ia juga menyatakan produk ini telah didanai oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) dan sudah dijual secara bebas di outlet fakultas.
”Produknya sudah ada sejak lama. Tapi kami mendaftarkannya lagi untuk kompetisi itu,” tandas Mahasiswa asal Jombang tersebut.
Perjuangan Jefri dan Syifa menuju kompetisi itu tak mudah. Dua bulan sebelum keberangkatan ke Malaysia, Jefri dan Syifa harus mengirim karyanya melalui Indonesian Invention and Inovation Organitation Promotion Association (INNOPA). INNOPA sendiri adalah sebuah organisasi yang menangani lomba inovasi tingkat nasional.
Setelah diseleksi, terjaringlah 10 delegasi dari Indonesia yang didaulat mewakili Indonesia ke Malaysia. Mereka berasal dari Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Diponegoro, Sekolah Guru Indonesia dan perwakilan dari Aceh.
Kompetisi dimulai dari tanggal 17, 18, 19 April dengan menampilkan masing-masing produk dalam sebuah pameran. Peserta selain diminta untuk menyiapkan booth, juga diwajibkan menyajikan informasi berbahasa inggris kepada setiap juri yang berkunjung ke booth mereka. Hasil keluar pada akhir acara pada 19 April malam.
Jefri mengaku sangat nervous semasa pelaksanaan kompetisi bergensi tersebut. Menurutnya, perasaan itu disebabkan oleh adanya beban karena menaruhkan nama baik Indonesia di mata negara lain.
Dari awal kompetisi itupun, Jefri mengaku telah mentarget perolehan medali emas. Kendati demikian, optimisme itu sedikit terduksi manakala mengetahui ratusan pesaing dari negara lain yang memiliki inovasi sangat bagus.
”Namun kita tak gentar. Kita terus berjuang dan berusaha agar bisa mendapatkan gold medal,” papar mahasiswa angkatan 2012 tersebut.
Dari banyaknya pesaing, Jefri merasa kompetitor terberatnya adalah Malaysia. Alsannya, sebagai tuan rumah, Malaysia mengirimkan delegasi yang cukup banyak dengan inovasi yang jempolan.
Kemenangan itu akhirnya bisa diraih berkat kemampuan bahasa Inggris Jefri dan Syifa dalam menyajikan informasi kepada para juri. Ia juga menyampaikan pesan kepada para pelajar dan mahasiswa Indonesia agar terus mengasah kemampuan bahasa inggrisnya sejak kecil.
”Tipsnya adalah belajar bahasa inggris dari kecil karena menurut saya itu sangat penting. Terutama dalam kondisi yang seperti itu. Bahasa Inggris mutlak dibutuhkan,” tutur Jefri.
Selain presentasi, sebab kemenangannya juga berasal dari usaha penjualan produk Browsea selama ini. Jefri menuturkan, kebanyakan peserta hanya melakukan penelitian dan bahkan hanya berupa ide saja.
”Kalau produk kami kan memang sudah dijual dan dipasarkan. Yang lain hanya berupa penelitian dan ide saja,” pungkas Jefri.
Jefri juga mengaku selalu berusaha semaksimal mungkin dan tidak lupa berdoa kepada Allah serta meminta restu orang tua. Meski berasal dari keluarga yang sederhana, Jefri selalu berusaha memberikan yang terbaik. Jefri ini juga merupakan salah satu mahasiswa yang beruntung menerima beasiswa bidikmisi.(Nunung Nasikhah/ary)