Tiga Siswa Raih Artist Prize Winner, Kini Fokus Kompetisi Eropa

Baru juga menginjak masa belajar tiga bulan, tiga siswa SD asuhan Arik S. Wartono mampu menembus penghargaan di kompetisi Picasso Art Contest yang diselenggarakan rutin di India, baru-baru ini. Golden Artist Prize Winner pun patut disandang atas karya gemilang ketiga gadis itu. Tiga siswa itu antara lain Diana Iswandari, Gusti Ayu Wedha Putri Surya, dan Jelita Anatachya Ridwan.

Mereka adalah siswa sekolah dasar yang telah mencetak prestasi gemilang di usia belianya. Mereka mampu memperoleh penghargaan dalam kompetisi internasional yang diselenggarakan di India. Tak main-main, kompetisi yang cukup populer itu diikuti oleh ratusan hingga ribuan peserta dari seluruh penjuru dunia.
Ditemui Malang Post, kemarin (27/4) siang, ketiga gadis cilik itu tampak sedang melukis di atas kertas berukuran A3 di ruang tamu kediaman I Gede Suryantara dan Putu Eka Juliani. Saat itu, ruangan dipenuhi dengan meja gambar, kertas, dan beberapa karya yang cukup menarik decak kagum bagi yang melihatnya.
Hebatnya, dalam waktu beberapa jam saja, ketiga gadis itu telah mampu membuat beberapa karya untuk dikirim ke kompetisi Internasional di Latvia, Inggris, Jerman, Amerika Serikat dan masih banyak lagi.
Ditemani dengan sang guru lukis, Arik S. Wartono dan sang ibunda masing-masing, ketiga gadis itu tampak tak mempedulikan sekitar. Mereka asyik dengan imajinasi dan permainan warna cat acrylic berjumlah puluhan.
Diana Iswandari atau yang akrab disapa Winda merupakan siswa SD Katolik Cor Jesu dan baru menginjak kelas I. Melalui karyanya yang berjudul ”Orchid”, putri dari pasangan Mohamad Setijo Juniarto dan Loey Meilamsari itu mampu menyandang penghargaan sebagai ”Best Technique” dalam kompetisi bergengsi tersebut.
Ceritanya pun cukup sederhana. Saat itu, menurut Loey Meilamsari, ibunda Winda menyatakan, karya Orchid yang menampilkan dua batang bunga Anggrek dengan background percikan cat air warna-warni itu berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam. Lokasinya pun tak jauh. Loey mengaku aksi menghasilkan karya gemilang itu dilakukan di depan rumah dengan sebuah pot bunga anggrek sebagai contoh.
”Waktu itu ada bunga anggrek di dalam pot yang berada didepan rumah. Sebentar kemudian lukisannya langsung jadi,” ungkap Loey kepada malang Post, kemarin (27/4).
Cerita serupa juga dialami oleh Gusti Ayu Wedha Putri Surya, siswa SD Taman Harapan kelas III yang berhasil menyandang kategori ”Best Idea”. Gadis yang akrab disapa Wedha itu membuat karya berjudul ”Back to School” dengan dominasi warna biru.
Ditanya oleh Malang Post, putri dari pasangan I Gede Suryantara dan Putu Eka Juliani  itu mengaku mendapatkan ide begitu saja. Ia bahkan tidak menyaksikan obyek lukisannya itu secara langsung. “Cuma membayangkan saja suasana di sekolah,” tutur Wedha dengan gaya lucunya.
Sementara penerima penghargaan lain, Jelita Anatachya Ridwan, siswa SDI Muhammad Hatta yang sedang menempuh pendidikan di kelas enam itu mendapatkan kategori ”Best Technique” atas karya uniknya yang berjudul “Me and My Brother”. Jelita mengaku, karyanya itu ia buat di Taman Bentoel Malang saat prosesi On The Spot Painting Februari lalu.
Kala itu, putri dari pasangan Edy Ridwan dan Lilik Kusmayanti itu mengaku melihat seorang gadis yang sedang berjalan bersama adiknya membawa balon berwarna biru sedang asyik bermain di Taman Bentoel. Sontak penampakan itu menarik perhatian Jelita untuk kemudian dituangkan dalam kertas.
Ditambah dengan goresan cat acrylic hijau membentuk hamparan rumput dan tumbuhan ilalang, karya itu tampak begitu hidup. Jelita pun juga menambahinya dengan percikan cat air warna-warni dipadu padankan dengan warna biru langit dan merah muda.
Jelita kala itu juga sedang mempersiapkan diri mengikuti kompetisi lukis internasional dengan tema ”Father” dan ”Voice of the Earth”. Kala itu, dengan santainya, ia mampu menyelesaikan dua karya dengan waktu yang terbilang tak lama.
Sementara itu, Arik S. Wartono yang saat itu hadir memberikan pengarahan kepada anak didiknya mengaku cukup bangga dengan prestasi yang didapatkan secara borongan itu. Arik juga menyatakan telah mengirim enam karya dalam Picasso Art Contest sesi kedua yang baru saja diumumkan Minggu (26/4).
”Kami mengirimnya bulan Maret sebanyak enam karya. Dan alhamdulillah yang menang tiga. Menurut saya ini cukup baik melihat jumlah peserta sebanyak itu,” ujar Arik.
Dalam metode pengajaran pun, Arik tak seperti pengajar lainnya. Ia memberikan arahan secukupnya saja. Tak banyak teori ataupun teknik yang ia ajarkan pada seluruh anak didiknya.
”Anak itu saya biarkan berkarya dengan tekniknya sendiri-sendiri. Karena masing-masing anak itu punya karakter yang unik. Karakter itu yang harus dikembangkan. Bukan justru memberikan teknik lain yang tidak sesuai dengan karakter anak,” urai Arik.
Arik pun sangat sering mengirimkan karya-karya anak didiknya ke kompetisi internasional. Bahkan setiap bulannya, anak didik Arik bisa mengikuti banyak kompetisi hanya dengan karya yang dibuat sehari-hari dalam pembelajaran.
”Setiap bulan kami selalu diberikan informasi tentang kompetisi lukis internasional. Dan anak-anak sangat antusias untuk bisa ikut,” pungkas pendiri dan pembina utama DAUN Sanggarlukisanak tersebut. (Nunung Nasikhah/ary)