Ketika Kota Malang Diserbu Pedagang Akik Luar Kota

Batu akik tidak hanya bisa digunakan sebagai aksesoris cincin, atau bandul.  Tren saat ini batu akik justru dijual pengrajin berupa bongkahan. Seperti di Plaza Araya Kota Malang kemarin.  Dalam pameran batu akik yang digelar sejak Senin (26/4) lalu, tak sedikit stand yang memamerkan batu akik dengan bentuk bongkahan.

Pedagangnya dari Kalimantan, Surabaya, kota-kota di Jatim dan tentu lokal Malang Raya. Yang menarik ada juga pedagang dari Kalimantan yang membawa bongkahan. Dua pedagang ini pun juga gadis cantik. Walhasil, standnya cukup sering disinggahi penggemar akik yang mayoritas kaum Adam. 
Restu Purwitasari salah satu peserta pameran menyebutkan, jika dia dan beberapa rekannya berasal dari Kalimantan Selatan. Dalam event ini pihaknya membawa beragam batu akik. Bahkan, ada dua batu akik kebanggaan yang ikut dipamerkan kemarin. Yaitu jenis seribu sungai dan sirangan. “Dinamakan seribu sungai karena coraknya. Selain banyak sungai, di tengah batu ini juga ada muara. Batu ini ditemukan dari sungai wilayah Mandi Angin, dengan kedalaman enam meter,’’ kata Restu.
Sementara rekannya Noor Lathifa Hamrin menyebutkan, batu sirangan itu karena coraknya mirip dengan kain Sasaringan. “Kain Sasaringan  ini asli Kalimantan Selatan. Kebetulan ada batu yang motifnya sama dengan kain ini. Jadi namanya adalah batu Sasaringan,’’ katanya. Karena bentuknya sama, batu sasaringan ini pun dijual paket berikut kain Sasaringan. Harganya pun tidak terlalu mahal, untuk para pecinta akik yakni Rp 5 juta.
“Batu seribu sungai juga kami banderol dengan harga Rp 5 juta,’’ katanya sembari menyebutkan jika usai mengikuti pameran di plaza Araya, dia dan timnya akan ikut pameran di Kota Surabaya.
Ada juga bongkahan akik yang harganya lebih mahal dibandingkan batu yang telah dibentuk. Bahkan satu bongkah batu akik ukuran 20  sentimeter x 15 sentimeter  harganya mencapai Rp 45 juta.
“Ini jenisnya Red Borneo. Ini masih berbentuk bongkahan,’’ kata Wahyudi Supriono  salah satu peserta pameran.  
Pemilik Banua Gem Stone ini menyebutkan, bongkahan batu akik ini sengaja dibawa untuk dipamerkan. Bahkan tidak hanya di Malang, tapi juga di beberapa kota lainnya. “Sekarang sedang tren batu akik. Tapi begitu, mungkin banyak orang bosan dengan cincin atau kalung, makanya kami memproduksi bongkahan,’’ katanya.
Bongkahan ini sengaja diciptakan, bukan untuk bahan mentah akik, tapi sebagai aksesoris. Layaknya keramik, bongkahan batu akik tersebut bisa dipajang di sudut-sudut rumah, atau di lemari. “Untuk bentuknya bermacam-macam. Dan sudah mengkilat, artinya pembeli tidak perlu menggosok atau mengolah lagi, cukup diletakkan di atas meja atau lainnya,’’ katanya.
Wahyudi menyebutkan, harga bongkahan batu akik yang mahal ini tak lain selain ukurannya jenis batunya juga mempengaruhi. Dia menguraikan, warna batu sangat menentukan. “Usia batu yang sangat tua bisa dilihat dari corak dan warnanya. Semakin tua harganya pun semakin mahal,’’ katanya.
Dan umumnya, warga yang membeli bongkahan itu menjadikan batu tersebut sebagai salah satu aksesoris di rumahnya.
Tidak hanya Wahyudi,  M Nasir pun membawa bongkahan batu akik untuk ikut dipamerkan. Bedanya, Nasir selain membawa bongkahan batu untuk aksesoris juga bahan mentah batu akik. “Yang kecil-kecil ini kami jual Rp 500 ribu perbongkahan, sedangkan yang besar atau yang didisplay itu harganya Rp 30 juta,’’ katanya.
Dia menyebutkan, bongkahan akik tidak kalah dengan cincin atau bandul batu akik. Itu terbukti, animo masyarakat cukup tinggi. Bahkan, sekalipun harganya mahal, warga pun membelinya.
Selain bongkahan batu akik, karya kreatif dilihatkan oleh Mohammad Iqbal Zainudin. Pria asal Singosari ini tidak sekadar memamerkan cincin, dalam pameran tersebut dia juga memamerkan lukisan yang terbuat dari batu akik. Tampak dalam lukisan tersebut sebuah sungai lengkap dengan perahu, dan pohon serta rumah, semuanya ditempel dengan batu.
“Bahan dasarnya kanvas,  tapi gambarnya dibuat dari batu,’’ katanya. Dia pun menyebutkan batu yang terdapat pada lukisan itu ada tiga jenis, yaitu batu giok, batu raflesia, dan yakud.  Tak ayal, lukisan batu akik ini pun menjadi pusat perhatian pengunjung stand pameran akik. “Kemarin ini sudah ditawar Rp 25 juta. Tapi belum dilepas,’’ katanya.
Sementara dalam pameran ini batu akik yang dibalut dalam sebuah cincin tetap mendominasi. Tapi tidak jarang, peserta pameran menjual batu kecil-kecil. Jenisnya pun berbagai macam, mulai dari red borneo, kecubung teh, kecubung rambut emas, kecubung es , kecubung kopi dan lainnya.  Harga yang ditawarkan masing-masing stand pun beragam, yaitu mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 25 juta.
Di salah satu stand juga terlihat batu jenis bacan dengan warna merah putih. Yang menarik adalah cincin pembalutnya. Di sisi kiri dan kanan cincin itu terlihat dua burung garuda. “Iya, ini koleksi paman, katanya pemberian salah satu menteri di era presiden Suharto,’’ tandas  Iqbal. (ira ravika/ary)