Mengenal Tokoh Buruh Kota Malang Asmuri

Semangat dan kerja keras, mengantar buruh untuk meraih sukses. Asmuri salah satunya. Pria 51 tahun, yang memulai karirnya sebagai buruh di bagian produksi rokok merek Grendel ini mampu menembus berbagai profesi. Bahkan, dia juga pernah terpilih, dan menjabat sebagai anggota DPRD Kota Malang.  

Raut mukanya masih tetap sama, memiliki. Seperti saat dia menjabat sebagai anggota DPRD Kota Malang.  Dengan potongan rambut pendek, serta kumis sedikit tebal, bapak dua anak ini tetap murah senyum. Gaya bicaranya pun tidak berbeda. Tetap santun, tapi juga kritis.
“Silahkan-silahkan, kok tumben ini ada apa?,’’ tanyanya saat menjemput Malang Post di pos satpam PT Karya Niaga Bersama, kemarin.  
Asmuri mulai membeber cerita. “Setelah menjadi anggota DPRD tahun 2009 lalu, saya kembali bekerja di sini. Sekarang ditempatkan di bagian Personalia,’’ katanya.
Asmuri pun menceritakan petualangan hidupnya. Karirnya sebagai buruh dimulai tahun 2000 lalu. Asmuri yang saat itu menganggur coba-coba untuk mendaftarkan diri  menjadi pekerja di PT Karya Niaga Bersama. Nasib baik diterima pria yang kala itu berusia 36 tahun.  Dari ijazah yang disertakan saat mendaftarkan diri sebagai pekerja, Asmuri ditempatkan di bagian produksi pabrik tersebut. Dia ditempatkan di bagian mesin.  
Di bagian tersebut, Asmuri sangat menikmati. Gaji kecil yaitu kisaran Rp 350 ribuan yang diterimanya dalam dua minggu bekerja memberikan semangat luar biasa. Itu dibuktikan dengan lintingan-lintingan rokok yang dihasilkan melalui mesin yang dioperasionalkannya.  Sebagai pekerja Asmuri cukup bertanggung jawab, dia tidak mau ada cacat dengan hasil produksinya.
Kecakapan Asmuri inilah yang menjadikan karirnya menanjak. Terbukti, satu tahun kemudian, dia tidak lagi menjadi operator mesin, tapi diangkat menjadi pengawas. “Bagiannya sama yaitu produksi, tapi saya saat itu dipercaya sebagai pengawas,’’ katanya. Tidak sekadar mengawasi mesin, tapi ayah dari Sofia Imania ini juga mengawasi para pekerja. Tidak main-main, ada 800 pekerja yang harus diawasi olehnya. Yaitu 400 pekerja di bagian Making dan Packing. “Tidak sulit kok melakukan pengawasan. Pekerja itu tahun yang dikerjakan,’’ katanya.
Menjadi pengawas di pabrik rokok hanya ditekuninya selama tiga tahun. Pria yang aktif dalam gerakan SPSI ini kemudian menerjuni dunia politik.  Berangkat dari buruh, Asmuri sama sekali tidak takut dengan  orang lain yang juga ikut terjun di dunia politik. Bahkan, dengan percaya diri, ayah dari Farhah Inayah Nabila ini yakin jika dirinya terpilih.
“Waktu itu niat saya terjun di panggung politik hanya untuk sekedar tahu, bagaimana pemerintah penyikapi soal buruh,’’ katanya. Perjuangannya pun sukses. Tahun 2004 lalu, dia terpilih menjadi salah satu anggota DPRD Kota Malang, dan duduk di Komisi D.
“Jadi anggota DPRD itu bukan kemudian saya lupa dengan buruh. Sebaliknya, di kursi itu saya terus memperjuangan nasib buruh. Mulai dari kesejahteraannya, kesehatannya, dan lainnya, berusaha diperjuangkan,’’ katanya.
Karena itulah, Asmuri pun dinilai sangat vocal saat menyangkut buruh. Pria ini tidak segan-segan menemui para buruh, saat mereka melakukan aksi. Dia juga tidak segan-segan turun langsung ke lapangan.
“Sudah banyak masalah buruh terselesaikan saat saya menjabat. Itu menjadi kepuasan dari saya,’’ urainya. Namun begitu, dari persoalan buruh yang ada, satu paling dia ingat, yaitu buruh Adi Putro.
Dia tidak bisa lupa karena tidak bisa memperjuangkan nasib buruh perusahaan karoseri tersebut. “Saat duduk di dewan saya tidak pernah berhenti memperjuangkan masalah buruh. Karena memang saya berangkat dari buruh. Saya memang menjadi dewan, tapi pemikiran saya saat itu tetap sebagai buruh,’’ urainya.
Panggung politiknya hanya bertahan lima tahun atau satu periode saja. Bukan lantaran tidak terpilih, tapi Asmuri tidak mencalonkan lagi di tahun 2009. Dia mengatakan, lima tahun sudah cukup baginya mengetahui, sikap pemerintah memandang buruh. “Terakhir menjabat gaji saya hampir Rp 10 juta. Tapi saya sudah lelah, dan sudah cukup bagi saya menjadi anggota dewan,’’ katanya.
Setelah menjadi anggota dewan selesai, Asmuri tidaklah menganggur. Dia justru kembali ke PT Karya Niaga Bersama. Di perusahaan yang menaunginya sejak awal inilah, Asmuri kembali meniti karir. Hingga saat ini dirinya duduk sebagai staf personalia, dan di dapuk menjadi bendahara koperasi di tempat kerjanya itu.  Asmuri mengaku puas sekalipun saat ini gajinya tidak lebih dari Rp 5 juta.
“Gaji saya kecil, tapi saya nyaman. Bekerja itu yang dicari adalah nyaman. Para buruh disini pun begitu, mereka bekerja gajinya tidaklah pas-pasan, tapi masih ada yang bisa disimpan setiap bulannya,’’ katanya, sembari mengatakan kunci sukses adalah sabar, bekerja keras, kreatif, dan selalu bersyukur. (ira ravika/ary)