Mengenal Drs. H. Moh Saleh M.Pd Kepala Sekolah Lintas Wilayah

MENGABDIKAN diri sejak 1970, Drs. H. Moh Saleh M.Pd. sudah malang melintang di dunia pendidikan. Di usianya yang sudah 70 tahun pada April lalu, harusnya ia sudah menikmati masa pensiun. Tapi, justru guru kimia alumni Universitas Negeri Malang (UM) ini masih mandegani salah satu sekolah swasta di Kota Malang.
Sekilas sosok Kepala SMA Brawijaya Smart School (BSS), Saleh adalah sosok pendiam dan susah tersenyum. Tapi anggapan itu akan cepat terbantahkan kalau sudah berbicara panjang lebar dengannya. Helas, begitu ia biasa disapa, sangat ramah dan bersahaja. Kematangan sudah diperolehnya sejak menjadi guru Kimia di SMAN 3 Malang pada 1970 lalu. Tak heran, ketika pada 2005 lalu pensiun setelah menjabat sebagai Kepala SMAN 3 Malang, Saleh langsung diminta kampus Universitas Brawijaya (UB) untuk memimpin salah satu sekolah yang dikembangkan kampus ini.
“Waktu itu saya ditelepon oleh pengawas, dan diminta mengembangkan SMA BSS yang dulu namanya SMA Dharma Wanita,” katanya mengawali cerita.
Kelahiran Lumajang, 13 April 1945 ini melangkah yakin memasuki gerbang UB. Meski sebenarnya, tugas yang akan ia pikul bukan tugas ringan. Kala itu, sekolah di bawah yayasan kampus UB itu tak begitu diminati dan kurang dikenal. Saleh pun dengan penuh keberanian menyodorkan ide luar biasa dalam sebuah rapat senat UB yang ketika itu masih dipimpin rektor Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito. Saleh mengusulkan, agar nama SMA Dharma Wanita diubah menjadi Brawijaya Smart School. Nama baru pun disematkan, dan lambat laun SMA BSS makin banyak peminatnya. Apalah arti sebuah nama, tapi terbukti nama baru membawa perubahan baru.
Instruktur Guru Kimia di Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), Bandung pada 1986 itu sebenarnya tak hanya ditempa saat menjadi kepala sekolah di Malang saja. Tapi, Benua Eropa pernah membentuknya menjadi guru hebat di bidang Kimia. Di tahun 1992 – 1995, Saleh adalah kepala SMA Negeri 1 Dampit, 1995 – 1998, ia menjabat kepala SMA Negeri 1 Kepanjen, dan pada 1998 – 2005, baktinya dicurahkan untuk SMA Negeri 3 Malang sebagai Kepala Sekolah. Ketika menjadi menjadi instruktur kimia, ia pernah mengunjungi 25 Negara untuk studi banding saat menjadi instruktur Guru Kimia di PKB, dibiayai oleh Pemerintah. Negara tersebut antara lain, Inggris, Perancis, Singapura, dan Amerika.
”Saya pernah studi diploma di King College London, ketika akan mengambil master saya keburu dipanggil Kanwil Disdik untuk menjadi kepala sekolah di SMAN 1 Dampit,” kenangnya.
Ketika menjadi kepala sekolah, ia pernah juga mendapatkan fasilitas mengikuti pelatihan di Frankfurt, Jerman selama enam bulan.
“Waktu itu tidak sulit untuk berkeliling negara-negara di Eropa, dalam sehari saya bisa mengunjungi tiga Negara,” ujarnya sambil tersenyum.
Luar negeri, memberikan banyak wawasan baru bagi Saleh. Perbedaan kultur Indonesia dan negara maju begitu kental. Salah satunya budaya literasi mereka yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan Indonesia. ”Contoh yang menarik waktu saya berkunjung ke Inggris misalnya, saya waktu itu bersama delapan teman masuk ke kereta bawah tanah. Dalam kereta, warga negara Inggris lebih suka diam dan sibuk membuka buku, sementara kami malah ngobrol jadinya mereka melihat kita aneh,” kata Saleh.
Ia mengakui budaya membaca di Indonesia juga telah mengalami penyusutan, bila dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya. ”Saya dulu sering menulis buku pelajaran kimia, dan Alhamdulillah laris sekali, kalau saya rasa, waktu itu budaya membaca memang cukup tinggi dan buku masih langka juga waktu itu,” ungkapnya.
Menurutnya solusi untuk mengatasi longsornya budaya membaca, sosialisasi  harus bersama-sama diupayakan. ”Perlu adanya sinergi, antara masyarakat dan pemerintah,” pungkas pria yang juga pernah membantu pengembangan pendidikan di daerah-daerah terpencil, Indonesia timur itu.
Satu hal yang perlu ditekankan dalam pendidikan masa kini yaitu pendidikan moral dan kepribadian. ”Moral dan kepribadian siswa akan berpengaruh kepada tindakan mereka, dan perlu adanya penanaman hal itu ke siswa, karena ini punya peranan disaat mereka nantinya aktif bermasyarakat,” terang pria yang pernah memperoleh gelar Sarjana Muda, IKIP Negeri Malang tahun 1969 ini.
Saleh berpendapat, bila dilihat ke lapangan, banyak pelaku pelaku kriminalyang saat ini sedang ramai diperbincangkan, ternyata dari kalangan yang pernah mencicipi pendidikan bahkan masih berada di bangku sekolah.
”Pelaku begal-begal sebagai contohnya mereka banyak yang telah mengalami masa sekolah, tapi tetap saja menjadi pelaku kejahatan. Ini terjadi karena pendidikan yang masih belum optimal menekankan nilai moral dan kepribadian bagi generasi muda penerus bangsa,” pungkasnya. (mg11/oci)