Mistono dan Daniel Prasetyo, Pemilik Coffee Luwak Dampit

KEBERANIAN  menangkap peluang bisnis membuat seseorang bisa merasakan perubahan yang positif di kemudian hari. Jenuh dengan aktivitas sebagai karyawan di pabrik, membuat sosok Mistono memberanikan diri untuk memulai bisnis yang diyakininya bisa membuatnya menjadi bos.

 Sejak tahun  2009 lalu, bersama kerabatnya Daniel Prasetyo, dia memutuskan untuk memulai bisnis kopi luwak, yang tengah naik naik daun di era millennium hingga akhirnya, kini produk mereka rutin dikirim ke Korea setiap bulannya.
Malang Post mencoba mengunjungi tempat produksi dari pemilik brand Coffee Luwak Dampit itu di Jalan Semeru Selatan, Kecamatan Dampit. Tidak salah memang Mistono memutuskan untuk berbisnis Kopi Luwak. Pasalnya, Amstirdam yang meliputi Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit dan Sumbermanjing sudah dikenal hingga ke luar pulau dan luar negeri sebagai daerah yang menghasilkan kopi dengan cita rasa yang khas.
“Tak terkecuali kopi luwak. Beberapa kelompok tani di kawasan Amstirdam ada beberapa yang memroduksi kopi ini,” ujar Mistono, mengawali cerita.
Mistono mengakui, langsung tertarik untuk memulai bisnis kopi ini sejak tahun 2009. Sebelumnya, dia bekerja di gudang kopi pula, namun hanya memroduksi kopi bubuk biasa, yang penjualannya masih di tingkat lokal.
“Waktu itu, ramai tentang berita kopi luwak yang memiliki rasa berbeda. Bukan dari Dampit sih. Tetapi, sebenarnya di beberapa wilayah di sekitar Amstirdam, sudah ada produksi kopi dari binatang luwak,” papar dia.
Setelah itu, dia memutuskan memulai melakukan survey mengenai ketersediaan kopi luwak. Berbeda dengan kopi biasa, kopi ini mesti dikonsumsi dulu oleh binatang, dan kotoran atau fesesnya menghasilkan biji kopi luwak. Setelah berhitung tentang kapasitas, pria berusia 43 tahun ini berani melangkah dan mengajak kerabatnya yang jauh lebih muda, Daniel Prasetyo.
Butuh waktu sekitar dua tahun bagi mereka berkeliling ke perkebunan miliki petani dan mencoba menawarkan kerjasama bisnis kopi luwak. Tidak mudah, apalagi mencoba meyakinkan penjualan produk kopi yang dibandrol sangat mahal ini. “Kami harus memastikan tentang kapasitas dan kualitas juga. Tidak hanya memproduksi namun rasanya sama saja,” beber dia kepada Malang Post.
Fase berikutnya pengorbanan bagi mereka. Setelah menemukan petani kopi luwak yang siap menyediakan stok untuk memenuhi kebutuhan produksi, Mistono dan Daniel mulai pada sisi produksi kopi yang berkualitas. Selama dua tahun atau hingga tahun 2013, mereka baru menemukan ras yang pas dan bisa diterima oleh pecinta kopi. Setelah itu, mereka mulai berani memproduksi dalam jumlah yang banyak.
“Ya sekitar 15 kg dalam sekali produksi. Itu sudah banyak, sebab harga kopi luwak sendiri sangat mahal. Waktu itu, Rp 1,2 juta per kilogram,” terang pria berkumis tipis ini, lantas disetujui oleh Daniel.
Menurutnya, setelah itu jalan mulai lapang. Sejak 2013 pula, mereka mencoba menarik perhatian Dinas Perkebunan Kabupaten Malang untuk menaungi bisnis kecil itu. Masuk dalam kategori usaha mikro kecil dan menengah, Coffee Luwak Dampit pun mulai dikenal oleh banyak orang.
Perlahan, produk ini mulai ditawarkan hingga ke luar kota. Dengan kerjasama pemerintah, Coffee Luwak Dampit mulai mengikuti pameran untuk mewakili Kabupaten Malang. Sebagai produksi khas lokal, dinas pun tidak segan mengirim mereka pameran ke Jakarta, Bali hingga beberapa wilayah lain.
“Dari sanalah kami dikenal banyak orang, mendapat pesanan luar pula seperti Sumatra dan Kalimantan serta setahun terakhir mulai menerima pesanan dari luar negeri. Meski tidak dalam jumlah besar, tetapi rutin,” kali ini Daniel Prasetyo yang mulai menjelaskan masalah pemasaran.
Menurut pria yang akrab disapa Dani ini, produksi mereka saat ini maksimal bisa mencapai 1 kuintal per hari. Jumlah ini, bila terjadi banyak permintaan, sebab pemasaran tidak hanya di wilayah Kabupaten Malang saja. Biasanya, satu atau dua bulan setelah pameran, pasti banyak yang mulai reservasi dan memesan dalam jumlah tertentu.
“Tahun lalu, setelah kami ikut Festival Kopi Internasional di Bali, permintaan melejit. Sebab, yang mengakui rasa fruity dari Coffee Luwak Dampit bukan hanya orang Indonesia. Beberapa barista internasional terkagum,” papar Dani, bangga.
Menurutnya, ada barista dari Brasil yang sempat mencicipi Coffee Luwak Dampit ini. Sang barista berani mengakui, bila olahan kopi luwak ini sangat bagus dan cita rasa kelas atas. Tidak heran, bila satu cangkir kopi luwak pun dibandrol sangat mahal, bisa mencapai Rp 125 ribu. “Apalagi ketika dijual di hotel berbintang di kawasan Bali, ya sudah lebih mahal lagi,” tambah pria yang sempat membintangi FTV tersebut.
Dani pun kini mulai sibuk dengan banyaknya permintaan. Untuk wilayah Jawa Timur, beberapa hotel mulai meminta suplai Coffee Luwak Dampit. Salah satunya, hotel Shangrila di Surabaya. Secara rutin, ada permintaan untuk mengirim bubuk kopi luwak ke hotel ini. Bisa dikatakan, hotel bintang lima ini merupakan salah satu pelanggan tetap yang membuat mereka bangga.
“Ada hotel lain juga. Di Malang, baru tahun ini juga mulai meminta stok kopi luwak. Selain itu kami permintaan banyak dari kafe juga yang makin bertaburan,” terang pria  berusia 31 tahun ini.
Sesuai dengan pengakuan Dani, kopi yang menghadirkan sensasi rasa antara 3-4 jam ini, juga telah membawa mereka meraih beberapa title. Seperti juara 1 Festival Agrowisata 2014 lalu dan kerap diminta pameran hingga luar kota.
Belum lagi, saat ini permintaan ke Bali yang kian banyak dan semakin melambungkan nama Coffee Luwak Dampit. Beberapa bulan terakhir, dua kerabat ini juga sibuk keluar masuk hotel, karena diminta menjadi penyuplai kopi luwak.
Disinggung mengenai omset, mereka belum memiliki jawaban pasti. Pasalnya, dengan harga Rp 1,5 juta per kilogram, mereka bisa jadi memutar uang hingga Rp 150 juta dalam sebulan. “Bahkan bisa lebih. Namun, ketika normal ya masih di bawah Rp 100 juta. Permintaan kopi luwak belum selaris kopi robusta,” pungkas bungsu dari tiga bersaudara ini. (stenley rehardson/nug)