Pulang Loper Koran, Cari Solusi Penerangan

DIBALIK heningnya kampung byaar pett yang serba terbatas, terdapat sosok yang gigih berjuang mengatasi keterbatasan situasi. Dia adalah Ahmad Sana’i. Loper koran ini cacat fisik  tapi daya juangnya tak pernah bisa dibatasi oleh keterbatasan. Pria 31 tahun ini berprinsip suatu saat nanti  RT 7, RW 4 Kedungkandang harus terang benderang oleh listrik.

Suatu siang dibawah teriknya matahari, Sana’i, sapaan akrab Ahmad Sana’i memacu motor diatas jalan sempit di pintu air Sungai Amprong. Punggungnya menunduk sangat dekat dua stir motor Astra Grand tahun 1997. Jalan itu merupakan route hariannya.
“Saya Sana’i, warga sini. Ya inilah kampung kami, sulit listrik,” ucapnya ramah memperkenalkan diri. Saat ditemui, dia baru saja pulang jualan  koran di perempatan Rampal.  
Sana’i terlahir dengan kondisi cacat pada dua tangannya. “Ya saya tuna daksa mas. Santai saja,” ucap dia. Tangan kanan dan kirinya hanya sepanjang lengan orang dewasa.  Jari tangannya pun hanya dua. “Saya tidak tahu ini jari apa saja,” sambungnya. Selama ini, Sana’i  tetap lincah naik motor.
Ia tak pernah malu terhadap situasinya. Situasi kampung tempat tinggal yang tertinggal dibandingkan kampung lain  dan cacat tubuhnya justru jadi energi besar. Sana’i gigih berjuang mengatasi persoalan listrik di kampungnya.
Bersama beberapa generasi muda seperti Cahyono dan warga lainnya, Sana’i sangatlah aktif. Ia selama ini mencari solusi. Mulai membangun jejaring dan informasi, mendatangi PLN dan menghubungi anggota DPRD Kota Malang, Sugiarto. Kepada Sugiarto ia menyampaikan aspirasi warga. “Saya sudah kenal Abag Gi (Sugiarto) sejak lama, ya sebelum jadi dewan,” kenangnya.
Mencari solusi melalui jalur anggota dewan semakin melengkapi perjuangan Sana’i. Kendati belum mendapat kepastian kapan masalah di kampungnya segera teratasi, dia pastikan tak akan berhenti.
Capek sepertinya tak ada dalam kamus pria yang asli ‘kampung byaar pett’ ini. Bahkan ia tak pernah bersedih hati walau diremehkan orang lain.  Bahkan ditertawakan  orang pun ia tak marah.
“Sering saya ditertawakan orang. Ya  sering dirasani. Saya pernah dirasani begini, wah,,, Sana’i apa bisa ngurusi listrik?” katanya lalu tersenyum. “Tapi saya tetap enjoy saja. Kalau nuruti pikirannya orang-orang seperti itu, kita  yang gak enak makan,” sambungnya sembari tertawa.  
Cemohan orang justru dijadikan penyemangat dan tantangan. Setiap tantangan harus diterima. "Karena itu perjuangan saya harus lebih gigi lagi" katanya bersemangat.
Tak hanya mengurusi listrik, ia kini sedang mengatasi persoalan jalan di kampungnya itu. Perjuangannya  dimulai akhir Desember 2014 lalu. Salah satu supaya yang ditempuh yakni mengajukan proposal ke Dinas PU, Perumahan dan Pengawasanan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang.
”Kami minta bantuan stimulant paving untuk jalan kampung. Usulannya 500 meter karena jalannya tidak layak. Kalau tunggu aspal rasanya tidak mungkin, jadi ya minta paving saja,” katanya.  Jika DPUPPB menyetujui permintaan  paving, maka warga yang akan mengerjakannya. “Kalau dibiarkan terus nanti bisa bahaya. Kasihan pengendara dan warga yang jalan, rawan celaka,”  kata dia iba.
Dibalik kegigihannya, Sana’i punya alasan yang sangat sederhana. Selain bercita-cita warga di kampungnya hidup dengan standar layaknya warga yang cukup penerangan, ia ingin anak-anaknya belajar dibawah terangnya lampu.
“Motivasi saya untuk masa depan anak-anak  saya. Supaya lingkungan lebih baik dari yang  sekarang. Kalau berjuang untuk  anak, pasti tidak ada  putus asa,” paparnya.
Ia bisa jadi contoh untuk membantu diri sendiri dan sesama. Selain mengandalkan semangat, Sana’i juga tekun belajar. Pada tahun 2007 lalu, dia menuntaskan kuliah di program jarak jauh Universitas Lamongan. “Saya kuliah Minggu di Fakultas Pendidikan Agama Islam,” kata pria yang bergelar S.PdI ini.
Karena itu ketika berdiskusi dengan Sana’i, maka jangan pernah meremehkan. Cara berpikirnya sistematis, gaya bicaranya sistematis. Ia tak bisa diremehkan. Namun Sana’i tetap merendah. Alasannya dia tak seorang diri tapi bersama generasi muda dan warga kampung yang ingin hidup lebih baik. (van)