Mahasiswa Fakultas Pertanian UB Penemu Penyubur Tanah

Bencana lumpur lapindo yang tak kunjung surut justru menjadi ladang inspirasi penelitian bagi lima mahasiswa fakultas pertanian Universitas Brawijaya ini.  Berkat bencana itu, mereka sukses menghasilkan produk bermanfaat bagi lahan yang tercemar logam berat di wilayah dekat industri.
 
Peristiwa semburan lumpur Lapindo Sidoarjo yang masih berlangsung hingga saat ini memunculkan ide dan penelitian baru. Peneliti muda dari UB, Ahmad Muhidin, Nur Fitria Dwi Retno Anggraini, Ike Novitasari, Ayu Sulistya Kusumaningtyas, dan Antika Anggraini turun lapangan. Mereka memanfaatkan lumpur tersebut sebagai alat penelitian baru.
Penelitian bermula pada fakta bahwa lahan disekitaran tempat industri, pertambangan, dan perminyakan banyak dirasuki residu berupa logam berat yang mampu masuk ke dalam tanah. Sayangnya, kandungan logam berat itu bisa mengalir ke sungai bersama air hujan dan dapat diserap oleh tanaman-tanaman disekitaran sungai. Parahnya, tanaman itu berbahaya untuk dikonsumsi manusia dan hewan karena kandungan logam di dalamnya.
 Menurut Ahmad Muhidin, bahaya yang ditimbulkan dari akumulasi logam berat seperti timbal, tembaga dan mangan dalam tubuh manusia bermacam-macam. Kandungan logam bisa menghambat aktivitas enzim yang terlibat dalam pembentukan haemoglobin dalam darah.
 “Apabila ini terjadi, maka akan mengakibatkan keracunan kronis yang bisa menekan sistem syaraf manusia,” ungkap mahasiswa jurusan agroekoteknologi angkatan 2011 tersebut kepada Malang Post.
 Selain itu, efek lainnya juga bisa berdampak pada gangguan saluran pernapasan dan otak. Gejala keracunan logam mangan misalnya. Bisa menyebabkan efek halusinasi, mudah lupa dan merusak sistem syaraf.
 “Logam-logam berat yang terserap oleh tanaman atau sayuran itu tidak bisa hilang meski telah di masak. Jadi ketika dimakan itu juga akan diserap oleh tubuh dan akibatnya akan berbahaya bagi kesehatan,” terang mahasiswa yang akrab disapa Adin tersebut.
 Untuk mengurangi dampak berbahaya tersebut, Adin dan kawan-kawan berusaha membuat produk yang mampu mereduksi kandungan logam berat pada tanah. Untuk melancarkan penelitian itu, mereka memilih lumpur lapindo sebagai alat uji coba.
 “Karena berdasarkan penelitian dari UNDAC, lumpur Lapindo banyak mengandung logam berat seperti timbal, tembaga dan mangan. Uniknya meski begitu, lumpur yang mulai dingin dengan rentang waktu yang lama bisa memunculkan tanaman-tanaman. Nah, dengan begitu, lumpur lapindo cocok untuk digunakan dalam penelitian kami,” tegas Adin.
Akhirnya, penelitian pun dilakukan selama lima bulan mulai dari bulan Maret hingga Juli 2014 di Laboratorium Bakteriologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan dan Laboratorium Kimia Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Untuk sampel lumpur, mereka mengambil dari daerah sekitar semburan lumpur dengan tiga titik pengambilan.
 Ide yang cemerlang itu pun berhasil mendapatkan dukungan penuh dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti). Dengan dana sebesar Rp. 6 juta, penelitian itupun berhasil dilakukan dan mampu menghasilkan produk bernama Biomer Kit Biometal Remediation Lumpur Sidoarjo (Ls-Kit) atau Pengembangbiakan Masal Bakteri Pereduksi Logam Berat di Daerah Tercemar.
Adin dan kawan-kawan pun berhasil mengidentifikasi dan menemukan bakteri yang terkandung dalam lumpur Lapindo Sidoarjo yang mampu mengurangi kandungan logam berat seperti timbal, tembaga dan mangan. Bakteri bernama Bacillus sp itu diambil untuk kemudian dibuat bahan cair aktif yang mampu diaplikasikan dengan mudah oleh masyarakat di wilayah tercemar seperti bekas pertambangan dan industri untuk menanam tumbuhan.
 “Setelah produk kami itu jadi, kami uji cobakan pada tanah yang telah kami campur dengan logam berat. Yang satu kami beri cairan itu, yang satu tidak. Hasilnya, biji kacang hijau bisa tumbuh ditanah yang telah kami berikan cairan. Sedangkan yang satunya lagi justru nggak kuat tumbuh karena kandungan logamnya masih tinggi,” urai Adin.
 Produk bernama Ls-Kit itupun ternyata mampu menurunkan konsentrasi logam berat dengan cukup signifikan. Sehingga tanah yang seharusnya tidak bisa digunakan sebagai tempat pertumbuhan tanaman karena kandungan logam berat justru bisa menjadi subur karena cairan itu tadi.
 Cara penggunaan bahan cair aktif itu, menurut Adin, hampir sama seperti pengaplikasian pupuk cair. Pengguna hanya perlu menuangkannya saja pada lahan yang memiliki kandungan logam berat.
 Sayangnya, produk ini belum banyak digunakan oleh masyarakat karena masih perlu pengembangan lebih lanjut. Menurut Adin, cairan ini sementara hanya bisa digunakan untuk mereduksi kandungan tiga logam saja yakni timbal, tembaga dan mangan.
 “Kami mendapatkan masukan untuk menambah jumlah variasi logam yang bisa direduksi. Untuk itu produk ini masih perlu dikembangkan agar cakupan logam semakin luas dan bisa digunakan dibanyak lahan tercemar,” tutur Adin.
 Adin pun mengaku, cairan semacam ini akan sangat berguna di wilayah padat industri seperti Surabaya dan Pasuruan. Untuk Kota Malang ini, menurut Adin masih jarang ditemukan lahan yang benar-benar tercemar logam berat. (Nunung Nasikhah/ary)