Biasa Cuci Ratusan Jersey Tim, Kini Menganggur dan Prihatin

Dicky Hermawan ball boy Arema tampil cekatan membawakan kebutuhan tim di lapangan.

Orang Kecil Di Balik Arema Cronus
SITUASI sulit dalam sepak bola Indonesia tidak hanya mengorbankan pemain yang bergaji puluhan bahkan ratusan juta per bulan. Faktanya, orang-orang kecil dalam klub Arema Cronus, seperti ball boy, tukang pijat, supir, tukang masak hingga penjaga mess, juga kena imbasnya.
    

Salah satu ball boy yang ikut kehilangan pekerjaan, karena berhentinya sepak bola adalah Dicky Hermawan. Dicky, yang sudah tiga musim ikut membela Arema ini, tinggal di gang kecil yang masuk lewat Jalan Welirang. Dari seberang mess Unmer, markas lawas skuad Arema, orang yang ingin bertamu masih harus blusukan lagi.
Rumah sederhananya terletak di pemukiman padat Kecamatan Oro-Oro Dowo. Setelah masuk gang-gang sempit yang seukuran sepeda motor, kemarin Malang Post menghampiri kediaman Dicky. Rumah ini adalah kontrakan baru. Ukurannya tidak besar.
“Kontrakan pindah. Dulunya di rumah yang masuk gang ujung Jalan Batok. Sekarang, masuk lewat gang Jalan Welirang. Ya sekarang tidak ada pekerjaan, jadinya di rumah saja, ngurus anak,” ujar Dicky, mengawali perbincangan dengan Malang Post, kemarin.
Dicky, biasanya selalu sibuk dan bersemangat ketika rutinitas tim berjalan. Sebagai pekerja yang mempersiapkan kebutuhan tim siang dan malam, Dicky dan ball boy lain sudah jadi andalan. Dia menceritakan, keseharian sebagai ball boy, tidak hanya sekadar mengambil bola di pinggir lapangan ketika latihan.
Ball boy adalah sosok yang mempersiapkan kebutuhan pemain, mulai dari sepatu, kaos kaki dan jersey. Dicky menerangkan, ball boy mengatur jersey apa yang dipakai pemain untuk latihan sampai jersey pertandingan, atas instruksi pelatih.
Ball boy, juga mencuci serta membersihkan seluruh pakaian latihan, pakaian pertandingan, kaos kaki hingga sepatu bola. Perlu diketahui, kata Dicky, jumlah tim Arema saat ini adalah 26 pemain. Sedangkan, tiap pemain memiliki setidaknya enam pasang baju latihan, enam pasang jersey home, away dan netral, serta belasan sepatu.
Belum lagi, tim pelatih dan offisial tim. “Praktis yang diurusi ya ratusan baju, celana dan puluhan sepatu skuad. Kita juga yang mencuci dan membersihkan. Itu sudah jadi tugas kita. Kita membantu tim lewat pekerjaan tersebut. Karena itu, begitu kompetisi mandek, kita kehilangan juga,” sambung Dicky.
Meskipun pekerjaan ball boy juga tidak kalah melelahkan dibandingkan pemain, jangan pikir gajinya sama. Pemain sepak bola, bisa bergaji puluhan hingga ratusan juta per bulan. Sedangkan, ball boy tidak ada secuilnya. Meskipun enggan menyebut soal gaji, Dicky menyadari bahwa kebutuhan hidupnya ikut terganggu setelah kompetisi mandek.
“Kalau ball boy seperti kita-kita ya jelas cuma nol koma nol nol sekian persen dari pemain. Karena, beban pemain adalah menang. Kita ini bersyukur bisa kerja di Arema, gaji lancar. Tapi, kalau kompetisi mandeg seperti ini ya susah juga,” sambung bapak dua anak tersebut.
Situasi ball boy yang tanpa pekerjaan ini, tentu berbanding lurus dengan situasi mess Arema. Biasanya, mess Arema Jalan Buring selalu hangat dan diisi kesibukan para pegawainya, tukang masak hingga penjaga mess. Namun, suasana itu kini tak lagi ada. Karena sepakbola berhenti, mess Arema pun kosong.
“Mungkin hanya ada Jello (penjaga mess) yang tiap hari di situ. Kadang-kadang ada ball boy yang datang untuk cuci baju, pantau mess. Pak Taufan (Sekretaris Tim) juga kadang datang. Tapi, suasana mess sudah sepi,” sambung mantan sekretaris tim Pelita Jaya itu.
Media Officer Arema, Sudarmaji mengakui, suasana kantor Arema pun demikian. Meskipun sehari-harinya masih aktif dengan urusan administratif, kantor Arema tanpa sepak bola terasa hambar. “Semuanya sedang prihatin. Staf keuangan, teman-teman legal, ticketing, supir hingga penjaga kantor pun demikian,” tuturnya.
“Meski demikian, kita masih bersemangat. Karena, kita percaya Arema akan tetap eksis. Dengan eksistensi Arema itu pula, karyawan serta orang-orang di balik Arema pun bisa tetap ada penghasilan,” tutupnya.(fino yudistira)