Paul Cumming Pelatih Asal Inggris yang Kini WNI

Di tengah ramainya kemelut sepak bola Indonesia, salah satu tokoh bola tengah bergelut dengan penyakitnya. Paul Cumming mantan pelatih Perseman Manokwari yang bermukim di Poncokusumo terbaring lemah di rumah sakit.  Paul sapaan akrabnya berjuang dengan penyakit stroke karena penyempitan pembuluh darah di otak (infark cerebri).

Sebuah Short Message Service (SMS) dari nomor yang familiar masuk ke Malang Post awal pekan lalu. Pesan itu berasal dari nomor dengan nama Paul Cumming. Tidak ada pikiran aneh ketika hendak membuka pesan tersebut. Sebab, mungkin Paul sedang bertanya kabar. Ya, dia memang sosok ramah, termasuk kepada wartawan yang dulu sempat berbincang dengannya.
Namun, begitu membuka, pesan tersebut berisi permohonan doa untuk kesembuhan pelatih kelahiran Inggris tersebut. Di akhir pesan, ternyata yang menulis merupakan Dwi Rahmatus Selviati, istri dari Paul Cumming yang akrab disapa Fifing.
Sejenak, ingatan tentang perbincangan dengan mantan pelatih PSBL Bandar Lampung ini pun menguap, mulai dari kesuksesan, nasib apes hingga keadaan terakhir di kediamannya, Dusun Drigu, Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Malang Post pun mengunjungi Rumah Sakit Panti Nirmala, tempat di mana dia dirawat dan tidak berdaya. Berada di Panti Nirmala 1B Kamar 306, Paul lemah sembari ditunggui oleh Fifing. Kebetulan, ketika berkunjung, pria ini baru meminum obat yang membuat dia pulas.
Fifing mencoba membangunkan dan berbisik di telinga Paul. Efek obat tidur, pria yang pernah membesut Persiwon Wondama ini hanya membuka mata sejenak sembari menyunggingkan senyum tipis. “Paul, ada Malang Post. Dia ingin melihat keadaanmu,” ujar Fifing, sembari memegang tangan Paul.
Perempuan berusia 55 tahun ini pun menceritakan, bagaimana akhirnya Paul kalah dengan stroke, setelah sekian lama berjuang dengan berbagai macam penyakit. “Kondisi yang membuat dia tidak sadar memang saat ini. Sebelumnya, ketika sakit dia masih senang bercanda,” sebut dia, ketika mengawali cerita.
Dia pun menyebutkan kehebatan pria yang merupakan pelatih kedua di Indonesia yang mendapatkan gelar WNI ini. Ketika terkena kanker kulit dan spondilosis sejak 2012 lalu, dia sangat tegar dan kuat, serta masih berusaha menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. “Dia sangat kuat. Tidak mau menyerah dengan sakit punggung dan kanket di hidung dan kepala. Begitu pula ketika awal-awal dia sudah merasakan tanda akan terserang stroke,” beber perempuan keturunan Pamekasan ini.
Ya, teringat memang dua tahun lalu ketika mengunjungi rumahnya, Paul memiliki segudang aktivitas demi memperoleh penghasilan. Di luar pelatih sepak bola, pekerjaan yang selama ini ditekuninya sejak meninggalkan Inggris. Ada rental PS, kebun jeruk dan penyewaan kolam renang yang dia miliki, sekalipun hasilnya hanya sedikit, tidak mencapai Rp 1 juta per bulan.
“Ingat kan, dulu ketika dia baru operasi. Masih ramah menerima tamu meskipun terkadang merasakan pusing. Waktu itu, tanda-tanda stroke pun sudah membayangi,” tambah Fifing.
Hingga akhirnya, akhir April lalu, Paul menyerah dan tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya sendiri. Sebelum itu, saudara kandung dari Rosalind dan Erika ini masih sempat ke dokter bersama sang istri. “Tetapi dia tidak mau untuk dirawat. Capek katanya harus opname lagi, makanya berlagak sehat di depan dokter. Eh dia ternyata sekarang benar-benar sakit,” imbuhnya.
Fifing menyebutkan, ketika Paul masih belum masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya, persiapan telah dilakukan oleh Fifing. Termasuk mengurus BPJS untuk perawatan sang suami. Secara diam-diam, ternyata usahanya telah selesai dan ketika Paul ambruk, dia dengan tegas menggunakan BPJS Kesehatan. “Saya menggunakan hak bagi keluarga saya. Sebagai PNS, sudah rutin dan taat dengan BPJS. Sekarang saatnya dipakai,” tegas dia, sembari kembali mencoba memanggil Paul.(stenly rehardson/ary/bersambung)