Paul Cumming Pelatih Asal Inggris yang Kini WNI (Habis)

SOSOK  Paul Cumming yang kini terbaring lemah di rumah sakit  Panti Nirmala Kota Malang,dikenal merupakan sosok pelatih hebat. Sang istri,Dwi Rahmatus Selviati mengungkapkan beragam kisah tentang suaminya.Termasuk beberapa keinginan yang belum terlaksana hingga sekarang.

Lebih dari 90 persen kisah hidup Paul memutuskan menjadi WNI dan akhirnya kini menetap di Dusun Drigu, Kecamatan Poncokusumo,  Kabupaten Malang relatif sama. Hal ini membuktikan, sekalipun 2013 lalu sosok pelatih yang karier kepelatihannya lebih banyak di tanah Papua itu dalam keadaan sakit, ingatannya masih sangat kuat. “Ya, Paul memang tetap kuat meskipun baru operasi dan dalam masa pemulihan. Begitu pula sekarang, ketika sudah tidak bisa berbicara, kemauannya untuk sembuh sangat tinggi,” terang dia perempuan yang akrab disapa Fifing ini.
 
Tak terasa, pembicaraan panjang terjadi dan hampir dua jam Malang Post berada di RS. Panti Nirmal. Fifing makin tampak sangat setia dengan Paul. Menurutnya, usahanya selain merawat di rumah sakit, juga dengan meminta dukungan dari sahabat dan keluarga. Setiap hari, sejak pertama kali dirawat, Rosalind yang berada di Skotalandia selalu menelepon sekalipun Paul tidak bisa membalasnya dengan kata-kata. Dalam sambungan interlokal ini, saudara perempuan Paul ini menceritakan banyak hal. “Termasuk Hendon FC. Klub favoritnya di London. Cerita soal kemenangan juga,” beber dia kepada Malang Post.

Menurutnya, Paul memang menyukai segala sesuatu tentang Hendon FC. Secara rutin, pria yang kini berusia 67 tahun ini mendapatkan kiriman matchday program dari saudaranya di Inggris. Mungkin, cara ini pun bisa membantu agar Paul memiliki semangat untuk pulih. Selain itu, di atas ranjang rumah sakit tempat Paul berbaring, tampak pula tiga bantal dengan sarung Liverpool, klub professional yang dia idolai.

Cara lain, dia mencoba menghadirkan atmosfer lapangan di dalam kamar rumah sakit. Laptop yang dibawa, selain berfungsi untuk mengerjakan kewajibannya sebagai pengajar, juga digunakan untuk memutar lagu tentang Arema.“Paul sangat suka dengan lagu Ayo Arema, Salam Satu Jiwa, di Indonesia. Lagu ini sering dia putar dulu, makanya sekarang pun sering saya putarkan juga,” tambah Fifing.
Beruntung, keluarga pasien di ruang yang sama tidak protes. Apalagi, ketika alunan lagu Salam Satu Jiwa dan beberapa chant Arema diputar. Menurut Fifing, upaya ini sesuai dengan saran dokter pula, untuk menghadirkan segala sesuatu yang bisa menyenangkan otak Paul.

“Saya sebenarnya tidak terlalu suka bola. Tetapi mulai memahami Arema, ketika suami masih sehat dan sering memutar lagu ini. Akhirnya, video dan lagu itu yang kini sering saya putar. Seperti Aremania dan Aremanita sekarang,” tambah dia, lantas tertawa kecil.

Dia berharap, Paul bisa memberikan respon positif ketika mendengarkan lagu itu.Sesaat teringat, Paul juga mengidolakan striker lokal Arema, Sunarto. Selain itu, nama Bambang Pamungkas diakui sebagai striker paling baik pula di Indonesia. “Dua nama itu memang diidolakan Paul. Mereka striker terbaik ,” tegas dia.
Menurutnya, terkadang Paul memberikan respon meskipun tidak bisa berkata. Senyum terbaik ketika sakit, sudah menjadi penawar rindu bagi Fifing. “Saya pun kini semangat mendengarkan lagu Arema. Atmosfernya bagus juga, kata Paul sih, tidak ada supporter di dunia yang seperti ini. Makanya dia cinta Arema, cinta Malang dan tidak mau pulang ke negaranya,” urai dia panjang lebar.

Sesuai dengan pengakuan Fifing, Paul kerap meyakinkan istri dan saudaranya, orang Indonesia itu baik. Sekalipun, jalan hidupnya terhitung tidak begitu bagus. Menurut dia, sang suami menganggap, hanya kurang beruntung. “Tetapi tetap cinta Indonesia. Dia sangat yakin ingin menghabiskan sisa hidupnya di sini,” ungkap Fifing, disertai kecupan di kening Paul.

Fifing berharap, Paul segera melewati masa sulit ini. Pasalnya, dia merindukan candaan khas dari sang suami. Termasuk pula, kernyitan dahi yang menunjukkan suaminya dalam kondisi marah. Ketika demikian, Fifing akan mengingatkan sembari bercanda, agar mantan pelatih Persipura ini menahan emosi.

“Ya, semoga dia cepat bangun dan berjalan lagi. Sekarang, dia sudah sadar, saraf sensorik bagus, tinggal motorik untuk menjawab dan berkomunikasi saja. Sebentar lagi, juga belajar untuk duduk. Saya ingin segera pulang dan membawanya ke Poncokusumo yang tenang, rumah yang disukai Paul,” tambah guru pengajar Biologi ini.

Di tengah kesetiaannya menunggui Paul, Fifing juga berharap pada sosok keluarga yang dulu berarti bagi kisah mereka berdua. Keluarga Brigjen (purn) Sugiyono, yang membawa Paul ke Indonesia. “Meskipun Ebes Sugiyono sudah tiada, kan masih ada keluarganya. Kami pengin ketemu putra sulung almarhum Ebes Sugiyono yaitu  Pak Eddy Rumpoko,” kali ini dia benar berharap.

Setidaknya, pertemuan ini untuk mengucapkan terima kasih. Sebab, Paul belum sempat menyampaikannya kepada Ebes Sugiyono ketika kembali ke Malang, beberapa tahun lalu. Mereka sepakat, kesuksesan Paul merupakan andil dari mantan Wagub Papua tersebut. 

“Tidak berharap banyak kok. Minta doanya bagi semua sahabat Paul agar dia cepat sehat. Kalaupun sempat, cita-cita ini semoga terkabul ketemu dengan Pak Eddy,” pungkas dia. (stenly rehardson/nug)