Mengenal Danyon 464 Paskhas Letkol Pasukan A. Dicky Lukman Wijaya

Komandan Batalyon 464 Paskhas Letnan Kolonel (Letkol) Pasukan A. Dicky Lukman Wijaya S.I.P memang bukan orang biasa. Alumni AAU tahun 1996 ini juga pernah terpilih menjadi Komandan  Detasemen  Grup B Pasukan Pengamanan Presiden/Wakil Presiden (Paspampres). Bagaimana cerita dia terpilih, siapa orang yang diamankan, dan bagaimana hari-hari yang dilalui saat menjadi anggota Paspampres?, kepada Malang Post Dicky pun bercerita gamblang.

Ditemui di ruang kerjanya, Dicky memang tidak terlihat garang. Menggunakan baret warna orange, pria kelahiran Ciamis 1976  ini juga tampak murah senyum. Sembari melepas baret dan meletakkan tongkat komando di atas meja kerjanya, Dicky pun menyapa Malang Post dengan sangat ramah.
“Saya lahir di keluarga sangat sederhana. Usai SMA, saya bercita-cita menjadi anggota TNI AU, selanjutnya saya daftar Akademi Angkatan Udara (AAU),’’ katanya mengawali ceritanya.
Tahun 1996, Dicky pun  lulus. Dia memulai karirnya sebagai Kasubsi Pers Detasemen Bravo 90/AT. Sekalipun ditempatkan di golongan pasukan, Dicky tetap bersemangat. Karirnya cepat menanjak. Itu terbukti tidak lebih dari setahun dia menjabat sebagai Kasubsiops Detasemen Bravo 90/AT.
Jenjang karirnya pun terus naik, hingga tahun 2012 lalu dia mendapat tugas sebagai Wakil Komandan Batalyon 461 Paskhas. Selama menjadi Wakil Komandan Batalyon, Dicky menjalankan tugasnya dengan baik. Hingga akhirnya saat itu ada informasi, recruitmen untuk Detasemen Paspampres. Tanpa ragu, Dicky pun mendaftarkan diri.
“Daftar, bukan hanya karena jenjang karir, tapi ingin terlibat langsung dalam pengamanan kepala negara,’’ katanya dengan tersenyum.
Setelah melewati tahap ujian, Dicky pun lulus. Nilai ujian yang diperoleh bapak dua anak ini cukup memuaskan. Sehingga saat itu dia langsung ditempatkan sebagai Komandan Detasemen Grup B Paspampres. “Saat itu yang kami amankan adalah Wakil Presiden yang kala itu dijabat oleh bapak Budiono dan keluarga,’’ urainya.
Keluarga yang diamankan dari wakil presiden adalah istri, anak, cucu, ayah, ibu,  mertua, kakek, nenek (jika masih ada, Red).  Melakukan pengamanan VVIP berbeda dengan melakukan pengamanan masyarakat biasa. Pasukan yang tergabung disini, tidak sekadar melakukan pengamanan ekstra, tapi juga melayani kebutuhan yang dibutuhkan wakil presiden saat itu.
Lantaran itulah, tindakan ekstrem pun pernah dilakukan, agar orang yang diamankan ini mendapatkan layanan yang nyaman. “Waktu itu pak Budiono menghadiri kegiatan kenegaraan yaitu KTT di Bali. Saat itu semua kamar hotel kelas President Suit di hotel di Nusa Dua habis,’’ katanya.
Sebagai komandan, pria yang pernah juga mendapat misi operasi intelijen yang di selenggarakan oleh BAIS (Badan Inteleijen Strategis TNI) ini pun menghubungi Budiono. Rupanya Wapres tidak mempermasalahkan tempat. Meski begitu, sebagai prajurit, bapak dua anak ini pun berusaha yang terbaik.
Dicky pun mencari cara. Hingga akhirnya dia datang ke sebuah hotel, yang masih memiliki kamar kelas deluxe. “Kebetulan ada dua kamar deluxe saat itu. Kepada pihak hotel, saya meminta salah satu temboknya dijebol. Dan satu kamar itu tidak menjadi kamar tidur, tapi ruang makan. ekstrem ya, tapi itu harus saya lakukan, untuk memberikan kenyamanan kepada bapak waktu itu,’’ katanya sembari tersenyum.
Untuk menjebol dan menyetting ruangan tersebut, hanya dibutuhkan waktu dua hari. Dan begitu Wapres datang, dia pun kaget karena ruangan yang diinformasikan adalah kamar biasa ternyata sangat istimewa.
Selama menjaga wakil presiden, Dicky tidak pernah jauh dari Budiono. Di rumah dinas contohnya, dia selalu ada di sekitar wapres. Bahkan, saat berjalan maupun berkendara dia tidak pernah jauh. Jika mendampingi berjalan jaraknya dengan wakil presiden adalah satu meter, jika berkendara, mobil yang ditumpanginya berada di depan mobil Wapres.
“Protapnya memang begitu. Sehingga jika terjadi kecelakaan, pasukan kamilah yang lebih dulu menjadi korban,’’ uraipria  yang pernah menjabat Kapokgumil Wing III Diklat Paskhas itu.
Pengamanan dilakukan 1 x 24 jam. Setiap berjaga baik di rumah dinas, di tempat kerja dan di tempat lainnya selalu memberikan layanan terbaik.
Mantan Dansatdik 2 Lanjut Wing III Diklat Paskhas ini juga mengatakan, sekalipun melakukan pengamanan VVIP, tidak terus menerus tegang. Beberapa kali juga ada kejadian yang menghibur dan dia menikmatinya. Salah satunya saat sang cucu Budiono ingin menonton film Sang Pemimpi. Saat itu Wapres langsung memberitahunya, kemudian dengan cepat Dicky melayani. “Karena waktu itu bioskop paling dekat ada di kawasan Pondok Indah saya langsung menghubungi pihak bioskop, untuk menyediakan tempat berikut dengan menghubungi para kru film baik artis, sutradara, pengisi sound track dan lainnya, yang wajib datang,’’ kata suami dari Rita Skouritama Safitri. Karena acaranya nonton, mantan Kasiops Skadron  464 Paskhas ini pun kebagian menikmati filmnya juga.
Pengalaman lainnya, Dicky mengaku juga pernah bersitegang dengan petugas keamanan luar negeri. Karena saat Budiono melakukan kunjungan disambut demo. “Karena kami melakukan pengamanan ekstra, kami pun merubah rute perjalanan. Jalan yang saat itu ada demo tidak kami lewati,’’ katanya.
Bagaimana sosok Budiono, seberapa dekat dia dengan mantan wakil presiden tersebut? Dicky mengaku Budiono adalah pria yang tegas, bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas. Budiono juga orang yang tidak pernah neko-neko. Bahkan, dia juga sangat jarang melakukan sesuatu yang tidak sesuai jadwal. “Kebetulan bapak ini sangat dekat sekali dengan ibu. Lebih-lebih soal makanan, beliau hampir tidak pernah makan yang di luar, karena sudah disediakan oleh ibu,’’ kata ayah dari Nabila Atha Yazahra Putri.
Sementara itu Dicky juga menyebut selain melaksanakan tugas,  hubungannya dengan Budiono layaknya bapak dan anak. Tapi begitu, sebagai anak dia tidak mau meminta.  Sebagai bapak Budiono kerap memberikan nasihat, dan selalu memberikan semangat. Bahkan, saat Dicky mendapatkan tugas menjadi Danyon 464 Paskhas, Budiono pun berpesan agar Dicky bisa menjalankan tugas dengan baik, dan selalu ingat Tuhan.
Apakah sering dimintai tolong orang atau menteri untuk menghadap Budiono? Dicky menggelengkan kepala. Sebagai Paspampres dia bertugas sesuai undang-undang. “Beda kalau ketemunya di luar ruangan, contohnya bapak menghadiri acara tiba-tiba ada orang yang ingin berbicara dengan bapak, saya langsung menyampaikan. Jika bapak berkenan orang tersebut langsung saya arahkan ke bapak,’’ tambahnya.
Hingga saat ini hubungan, Dicky dengan Budiono juga masih baik. Sekalipun tidak berkomunikasi, Dicky selalu memantau perkembangan Budiono.
“Telepon atau SMS saya tidak berani. Tapi kalau lebaran, atau beliau ada hajatan saya selalu datang. Beliau juga menerima dengan baik,’’ katanya.
Kebersamaan dengan Budiono, memang melekat di ingatan Dicky. Maklum, dia menemani mantan orang nomor dua di pemerintahan RI ini hampir dua tahun. “Suka dukanya banyak mbak. Yang pasti, sebagai pasukan yang bertugas melakukan pengamanan kita wajib ekstra peduli. Bahkan, keluarga pun bisa menjadi nomor dua, karena kami berpikir melakukan pengamanan merupakan tugas negara yang harus dilakukan sebaik-baiknya,” tandasnya.(Ira Ravika/Ary)