Dikerjakan Tanpa Kaki, Produksinya Tembus Level Nasional

SIAPA bilang keterbatasan fisik menghambat kesuksesan seseorang. Buktinya, Rokhaniyatul Khasanah (40 tahun) bisa membangun industri sepatu meski cacat secara fisik . Tanpa kaki, warga  Dusun Bugis Timur Desa Saptorenggo Kecamatan Pakis mampu memasarkan sepatunya ke level nasional.

Tidak sulit menemukan rumah Rokhaniyatul Khasanah di Dusun Bugis Timur. Rumahnya terletak di pinggir jalan dan berlantai dua. Di rumah sederhananya itu juga dipergunakannya untuk membuat sepatu kulit.
Saat ditemui di rumahnya, bapak dua anak ini sedang asyik membuat sepatu. Aktivitasnya terhenti, ketika melihat kedatangan wartawan Malang Post ke rumahnya. Rokhaniatul Khasanah berjalan menghampiri dengan tongkat di ketiak.
Pria yang biasa dipanggil Rokhan kehilangan kaki kanan sejak tahun 2010 lalu. Lantaran kecelakaan. Peristiwa terjadi, usai menjemput sekolah putrinya bernama Ima, naik sepeda motor. Saat sampai di Jalan Raya Wendit, dia mengalami kecelakaan tragis.
Sepeda motor yang dikendarainya menabrak truk, saat hendak menyalip. Membuat kaki kanannya, terlindas oleh roda truk tersebut. Terpaksa harus diamputasi agar nyawanya selamat.
"Beruntung, anak saya yang dibonceng, tidak mengalami luka sedikitpun," ujarnya kepada Malang Post.
Meski tidak mempunyai kaki, dia tetap tidak berputus asa. Dia tetap menjalankan aktivitasnya sehari-hari, yakni membuat sepatu. bisnis Rokhan bisa dibilang moncer. Dalam satu minggu, rata-rata mendapatkan pesanan sepuluh pasang sandal dan sepatu kulit.
”Lumayan untuk hidup dua anak sudah cukup,” ucap pria asli kelahiran Kecamatan Pakis Kabupaten Malang ini.
Sedangkan dia membuat berbagai macam jenis sepatu. Mulai dari sepatu sekolah, sepatu drumband, sepatu Pantofel dan sepatu olahraga. Pemasarannya hingga keluar pulau seperti Sumatera meliputi Palembang dan Medan. Sedangkan Kalimantan meliputi Samarinda, Balikpapan dan Bontang.
"Kalau paling banyak yang memesan, menjelang hari raya Idul Fitri. Saat itu, saya bisa membuat hingga 100 pasang sepatu," urainya.
Sepatu buatannya itu, diberi label Castello. Namanya memang dari latin, seperti gerai dan produsen sepatu Donatello. Dikatakannya, memang ada hubungan dengan merek sepatu ternama itu.
Pada tahun 2005, dia pernah bekerja di produsen sepatu ternama di Malang itu. "Dulu, namanya masih Sekul dan belum terkenal seperti saat ini. Saat itu, saya bekerja sebagai kepala bagian produksi," tuturnya.
Mempunyai keahlian sepatu itu, kemudian diimplementasikan hingga saat ini. Sepatu buatannya, dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp 120 ribu per pasang, hingga Rp 300 ribu per pasang. Tergantung tingkat kesulitan pembuatannya dan bahannya.
"Pendapatan bersih cukup untuk kehidupan sehari-hari bersama kedua anak saya dan menyekolahkannya," terangnya.
Kesuksesannya membuat sepatu, diharapkan ditiru oleh Penyandang disabilitas lainnya. Dijelaskannya, saat menjalankan produksinya, dia dibantu dengan tujuh orang pekerja yang masih saudara. Seorang pekerja, digaji senilai Rp 2 juta per bulan atau disesuaikan dengan produk yang berhasil dijual
“Pendapatan saya, rata-rata mencapai Rp 36 juta per bulan. Namun, belum dipotong dengan ongkos produksi, membayar listrik dan membayar honor pekerja,” imbuhnya.
Ongkos produksi, mencapai Rp 10 juta, rinciannya membeli bahan baku produksi berupa kulit, benang, bahan-bahan pendukung dan servis mesin. Sedangkan kebutuhan lainnya dipergunakan untuk membayar listrik, membayar air, membeli konsumsi dan biaya tidak terduga lainnya.
“Saat lebaran, saya pernah mencapai keuntungan Rp 10 juta. Meski sempat kewalahan dan capek, lantaran banyaknya permintaan. Namun, tetap saya nikmati pekerjaan ini,” sambungnya.  
Menurutnya, menyandang cacat fisik, bukanlah akhir dari segalanya. Mereka bisa membuat karya yang membanggakan. "Asal ada kemauan dan motivasi, Insyallah bisa," imbuhnya. Kedepannya, dia mengharapkan usahanya tersebut terus berkembang.
Serta dapat memberikan pelajaran dan motivasi, bagi Penyandang cacat lainnya sepertinya. Diharapkan penyandang cacat tidak hanya bisa berpangku tangan dan menerima nasib. Melainkan bisa terus berkarya dan mandiri, sehingga dapat meraih kesuksesan.(Binar Gumilang/ary)