Ketika Demam Akik Jadi Berkah Bagi Perajin Batu

Demam batu akik, menjadi berkah bagi para perajin batu jenis ini. Tak sekadar menjual batu akik, para perajin ini semakin banyak dimanfaatkan jasanya. Salah satunya adalah Febri Lucky, pria 35 tahun ini, sejak dua minggu lalu membuka jasa pembentukan batu di Jalan MGR Sugiyo Pranoto Kota Malang.

Desing dinamo yang dioperasikan Febri Lucky, ditelan deru kendaraan di tengah padatnya lalu lintas kendaraan  Jalan MGR Sugiyo Pranoto. Lucky sapaan akrabnya serius menekuni batu akik di salah salah satu outlet. Jika jalan sepi,  suara gerenda (mesin pemotong batu akik,  Red)  pasti terdengar.
Febri sibuk membentuk batu yang dipegangnya.  Sepintas aktifitas itu memang tidak tampak seperti, sebab batu yang diseriusi tersebut sangat kecil.
Sekalipun terlihat cukup mudah, tapi Lucky menyebutkan membentuk bukanlah hal yang sulit. Penghobi batu datang, mengatakan maunya, Lucky yang kemudian memainkan kreatifitasnya.
Bujangan  ini mengaku, butuh waktu antara satu hingga dua jam untuk membentuk batu. Sebelumnya, jika batu berbentuk bongkahan, lebih dulu dipotong.  Pemotongan batu pun disesuaikan dengan keinginan pemilik. Umumnya pemilik melihat alur atau serat batu. Untuk memotong batu, Lucky menggunakan serkel.
Setelah terpotong kecil, batu pun mulai di bentuk. Pembentukan batu ini dia tidak menggunakan perangkat canggih. Cukup dengan gerenda duduk, yang diletakkan di atas meja. Tangan kanan Lucky pun terlihat cekatan, membentuk batu tersebut. Seringkali dia mengangkat batu ke atas menghadap sinar matahari, dan tangan kirinya mengusap sisi depan batu.  
“Proses pembentukan batu, lebih lama dari lainnya,’’ katanya. Dalam proses ini, dia dituntut merasakan halusnya batu.
Baru setelah batu tersebut terbentuk sempurna, Lucky pun berpindah. “Proses terakhir adalah menghaluskan. Gerenda yang digunakan pun ganti yang disamping,’’ ujar Lucky.
Seperti pembentukan batu, masuk proses penghalusan, tangannya sangat cekatan. Tangan kirinya juga diikutkan untuk merasakan kondisi batu. “Tidak semuanya batu itu mengkilat. Seperti ini, batunya tidak mengkilat,’’ urainya.
Setelah batu betul-betul halus, Lucky pun langsung memasukkannya dalam plastik kecil.
Pekerjaan membentuk batu memang bukanlah yang sulit, dan tidak berisiko. Namun Lucky juga tidak ingin mengabaikan keselamatan. Karena proses penghalusan itu banyak serbuk yang bertebaran, dia pun menggunakan masker dalam kesehariannya.
Lucky menyebutkan, pekerjaan ini dilakoninya karena memang tidak ada pekerjaan lain. Menurutnya, dalam sehari dia bisa membawa pulang uang Rp 300 ribu. “Untuk membuat batu kecil saya mematok harga Rp 30 ribu, sedangkan batu besar Rp 40 ribu. Kadang-kadang user memberi lebih,’’ katanya.
Tidak hanya Lucky, orang yang yang memanfaatkan demam batu akik ini adalah Ali. Warga jalan Muharto ini membuka jasa pembentukan batu di ruko Mojopahit. Dan setiap hari dia mendapatkan orderan pembuatan batu akik ini antara delapan hingga 10 orang.
“Dulunya saya berjualan akik di sini juga, tapi karena banyak warga yang datang membawa bongkahan, saya mengembangkan dengan membuat juga,’’ katanya.
Ali mengaku tidak kesulitan saat membentuk, karena sudah terbiasa.  “Setiap hari bawa pulang Rp 300 – Rp 500 ribu. Lumayan untuk menambah penghasilan,’’ tandasnya.
Dengan hitungan Rp 300 ribu per hari. Jadi jika lancar selama 24 hari, uang yang dibawa bisa sekitar Rp 7,2 juta. Angka itu mengalahkan gaji PNS Golongan IVe yang sekitar Rp 5 juta.(ira ravika/ary)