Rancang Robot E-Pertiwi V3 yang Jago Bergoyang

NAMA Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang kembali berkibar di ajang bergengsi Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI) 2015. Di tingkat Regional IV, mahasiswa ITN Malang sukses meraih juara 4 setelah Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS), Universitas Brawijaya (UB), dan ITS Surabaya. Robot pandai menari yang dirancang Gunawan Eko Hendroyono, Kondang Pria Sembada, Amy Mahendra dan Mufti Al Kohri ini diberi nama e-Pertiwi V3.
Berani mencoba dan tidak takut dengan kegagalan, itulah yang menjadi prinsip para mahasiswa ITN Malang ini. Mereka harus melewati beberapa kali trial dan eror sampai akhirnya bisa membuat robot yang pandai menari. Tak hanya luwes dengan gerakannya, robot ini juga memiliki kepekaan suara yang bagus. Sehingga ketika musik iringan tarian berhenti, otomatis robot pun akan berhenti menari.
“Dalam perlombaan ini robot tidak hanya diperintahkan menari, tapi juga harus bisa tiba-tiba berhenti ketika musik dimatikan,” ungkap Gunawan kepada Malang Post ditemui di ruang Humas ITN Malang, beberapa waktu lalu.
Tantangan ini tentu tidak mudah, jika sensor yang dipasang kurang pas maka robot tidak akan bisa membedakan apakah music berhenti atau tidak. Sehingga ketika music dimatikan, bisa jadi robot masih akan bergoyang.
Sayangnya dua robot andalan tim ini tak bisa ditunjukkan, Malang Post hanya melihat dokumentasi foto-foto robot tersebut. Rancangannya unik, apalagi kostum yang dipakai ditambah pula dengan topeng khas. Pakaiannya disesuaikan dengan tema Bambangan Cakil, yakni tarian khas Jawa Tengah. Tari ini menggambarkan perang antara kesatria melawan raksasa. Karena itulah, robot yang dibuat pun berjumlah dua buah, satu robot adalah Kesatria Bambangan dan satu lagi robot raksasa. Robot ini harus menari sekitar 4 menit dengan berpasangan, hingga di akhir cerita raksasa kalah dan perang berakhir.
“Cerita ini mengandung pesan bahwa kejahatan pasti akan dikalahkan dengan kebaikan. Karena ditarikan oleh robot maka menurut saya sangat cocok ditarikan untuk menarik minat pemuda masa kini belajar budaya,” ujarnya.
Kesenian Bambangan Cakil bisa jadi tak banyak dikenal oleh para generasi muda. Tapi melalui lomba ini, tim tak hanya ditantang untuk bisa membuat robot yang canggih, namun juga harus menguasai tarian tradisional yang sarat akan pesan moral itu.
Kisah kalahnya sang Cakil digambarkan pada akhir perang dimana raksasa berhenti dan tidak bergerak. Adegan sebenarnya, Cakil rubuh dan mati setelah tertusuk keris. Namun mereka memodifikasi dengan model diam, alasannya untuk keamanan robot agar tidak rusak.
“Sayang kalau robotnya roboh, khawatir rusak. Tapi ada juga tim yang membuat robot roboh di akhir perkelahian, tergantung kreasi masing-masing,” kata dia.
Menurutnya, jika perancang dan programmer robot ini piawai, maka gerakan robot pun akan tak kalah luwes dengan penari asli. Tim ITN juga terbilang sukses membuat robot bergerak sesuai irama dan peka dengan music. Gerakan robot pun berhasil dibuat sesuai dengan zona yang sudah ditentukan. Ada tiga zona yang harus dilewati yakni pembuka, tengah dan perang.
“Kami belajar tarian ini dari youtube, kemudian mengaplikasikan pada software. Kami juga banyak mengeksplorasi gerakan tarian dengan gerakan yang paling menarik,” bebernya.
Berlatih dan gagal, lalu berlatih lagi, terus dilakukan mahasiswa ITN. Hingga robot mereka bisa melakukan gerakan dengan sangat baik. Menurutnya, untuk bisa menggerakkan robot sesuai program, ada beberapa sensor yang harus disediakan. Seperti sensor pendengaran, suara, gambar dan kamera.
Untuk membuat robot ini, tim ITN Malang memanfaatkan robot yang dipakai berlomba pada KRSI tahun sebelumnya. Untuk perbaikan, dana yang dikeluarkan sekitar Rp 8 juta. Istimewanya, tim mahasiswa yang terdiri dari para pria ini juga membuat sendiri kostum tari yang dipakai robot. Mereka memilih bahan sendiri dan kemudian menjahitnya. Sayangnya, mereka tidak menemukan topeng yang cocok untuk dipakai raksasa sebagai cakilnya. Sementara tim dari perguruan tinggi lain ada yang bisa memakaikan topeng khas cakil.
KRSI merupakan bagian dari Kontes Robot Indonesia (KRI) 2015. Pemenang KRI akan mewakili Indonesia dalam ABU (Asia-Pacific Broadcasting Union) Robocon. KRI dibagi dalam 4 kategori yaitu Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI), dan Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI). Di tingkat regional IV diikuti sekitar 27 perguruan tinggi. Seleksi regional digelar di STIKOM Surabaya pada 30 April sampai 2 Mei 2015. (lailatul rosida/red)