Doni Suherman, Antar Arema Junior Juarai Jawa Bali League

Saat Arema senior sedang lesu, tim junior tak mengendurkan semangatnya. Sabtu (16/5) lalu, Arema Junior mengangkat trofi juara Jawa Bali League, yang dihelat di Banyuwangi. Selain kerja keras dan semangat siswa Akademi Arema, sosok Doni Suherman sebagai pelatih, menjadi rahasia penampilan impresif Arema U-17.

Siapa yang bisa melupakan generasi emas Dendi Santoso-Sunarto-Alfarizi saat memenangkan Piala Suratin 2007. Joko “Gethuk” Susilo yang juga menjadi salah satu staf pelatih Arema Junior, menandai masa keemasan Akademi Arema era Bentoel.
Prestasi tertinggi di level junior yang dicapai Arema di Piala Suratin, menghasilkan tiga pemain senior jebolan Akademi Arema, yang masih aktif sampai sekarang. Namun demikian, silih berganti anak-anak muda terjun di Akademi Arema.
Belum ada generasi yang bisa menyamai prestasi Arema Junior era Suratin 2007. Beruntung, masa penantian bibit baru sepak bola Malangan, bisa saja segera berakhir. Baru-baru ini, Arema Junior U-17, merangsek ke papan atas klasemen Jawa Bali League, dan merebut gelar juara.
Bahkan, dua pemain Arema Junior, merebut gelar pemain terbaik dan topskor di liga junior Jawa Bali ini. Doni Suherman, pelatih Arema Junior, menjadi sosok penting dibalik gelar juara ini. Mantan pemain Arema era Ligina II ini mengatakan, Arema Junior baru mendaftar Jawa Bali League H-1 batas akhir registrasi.
“Sebenarnya saya tidak menyangka kita akan berangkat ke Jawa Bali League. Karena, kita baru tahu ada liga junior Jawa Bali ini H-1 batas akhir registrasi. Kita mendaftar atas instruksi manajemen Arema,” tutur Doni, saat bertemu dengan Malang Post, di Linud Jabung.
Menurut Doni, sebelum mendaftar, ada tim lain yang ingin meminjam pemain Akademi Arema di Jawa Bali League. Setelah ada pembicaraan dengan manajemen, Arema Junior tidak boleh meminjamkan pemain. Sebaliknya, seluruh skuad Arema U-17, harus mendaftar dan ikut dalam Jawa Bali League.
“Awalnya kita malah tidak tahu kalau ada liga junior ini. Ada tim lain yang ingin pinjam pemain Akademi. Tapi, manajemen langsung menginstruksikan kita berangkat untuk ikut liga ini. Daftar kurang sehari, kita berangkat Banyuwangi,” kata Doni.
Jawa Bali League ini menjadi liga junior debutan untuk Arema Junior. Dengan berangkat mendadak, Arema Junior seperti tanpa persiapan. Rombongan tim, berangkat pukul 20.00 WIB, H-1 pertandingan. Arema Junior, tiba di Banyuwangi pukul 02.00 WIB.
“Kita berangkat malam hari, sampai dini hari. Tidur sebentar, jam 10 pagi langsung menghadapi pertandingan pertama kita di Jawa Bali League menang 3-1. Lalu, menang atas unggulan dari Bali, Putra Tresna 1-0,” sambung pemain Arema era Ligina yang sempat satu tim dengan Gethuk dan Kuncoro itu.
Meskipun berangkat mendadak, dan tanpa persiapan spesifik untuk Jawa Bali League, Arema Junior sudah matang sejak latihan di rayon-rayon Akademi Arema. Latihan yang diterapkan pelatih rayon, adalah lima kali seminggu. Dengan frekuensi latihan yang tinggi, mental serta fisik pemain sudah terbentuk.
Secara teknis, mereka juga pemain yang telah disaring dari ribuan calon siswa Akademi Arema lainnya. Tak heran, Arema Junior mampu menggulingkan tim seperti Putra Tresna. Apalagi, kata Doni, tim asal Bali tersebut, adalah Banteng Muda versi Bali.
“Putra Tresna itu seperti Banteng Muda. Mengambil pemain-pemain terbaik dari klub lokal, dan dijadikan satu dalam klub. Namun, lawan kita bukan cuma itu. Ada tim juara lain, seperti Swada Banyuwangi Juara Liga Pendidikan,” tutur pria domisili Gadang ini.
Dengan lawan-lawan berpengalaman, Arema Junior mampu mencatatkan 14 poin, empat kali kemenangan dan dua kali imbang. Belum lagi, masa recovery untuk tim Jawa Bali League sangat minim. Sehari, mereka harus main dua kali. Fisik serta mental tim, diperas hingga habis.
Beruntung, Arema Junior mampu bertahan dengan rotasi 27 pemain. Doni menyebut, ia merahasiakan reputasi dan prestasi tim-tim lawan, seperti Putra Tresna, Jenggolo Sidoarjo dan Swada Banyuwangi. “Yang saya inginkan, mereka menghadapi tim yang ada di depannya. Satu per satu. Fokus melewati pertandingan demi pertandingan,” tuturnya.
Menurut bapak dua anak tersebut, permainan Arema Junior tak lepas dari sikap pemain yang tidak mengeluh ketika latihan reguler. Katanya, program lima hari seminggu dilahap dengan antusias. Tak heran, kemauan tinggi untuk memenangkan pertandingan, memberi hasil positif.
“Sebenarnya, mereka ini adalah tim proyeksi Piala Suratin. Namun, karena seluruh kompetisi di bawah PSSI berhenti, kita salurkan energi dan motivasi mereka untuk Jawa Bali League. Hasilnya cukup menggembirakan,” sambung Doni.
Meski demikian, langkahnya sebagai pelatih Arema U-17, tidak berhenti sampai di situ. Ia menyebut, mimpinya adalah mencetak pemain yang layak untuk menghuni skuad senior. “Saya rasa, semua pelatih Akademi Arema dan Arema Junior punya mimpi yang sama. Anak-anak didik kita, tembus tim senior, dan melanjutkan warisan Malangan dari pemain seperti Dendi-Sunarto-Alfarizi,” tutup Doni.(fino yudistira/ary)