Tata Kota Frankfurt Bisa Diaplikasikan di Kabupaten Malang

Ir Romdhoni berfoto dengan latar belakang salah satu bangunan bersejarah di Jerman.

Dari Kunjungan Pemkab Malang ke Jerman
PEMKAB Malang patut berbangga diri. Lantaran baru-baru ini, Kabupaten Malang ditunjuk oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU), untuk belajar tata kota di Jerman. Hanya ada tujuh kota dan kabupaten di Indonesia yang dipilih untuk mengikuti kegiatan ini. Kabupaten Malang, hanya satu-satunya daerah dari Provinsi Jawa Timur yang diutus ke Jerman.  

Bupati Malang H Rendra Kresna yang langsung terbang ke Jerman bersama tujuh kepala daerah lainnya. Orang nomor satu di lingkungan Pemkab Malang ini, didampingi Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR), Ir Romdhoni. Tujuannya, adalah Kota Frankfurt. Selama dua pekan lebih, keduanya belajar tata kota di negara tersebut.
Tepatnya mulai tanggal 2 Mei hingga16 Mei 2015 yang lalu. Selama berada di kota metropolitan terbesar kedua di Jerman itu, keduanya belajar banyak hal terkait tata kota. Mulai dari penataan pemukiman, penempatan Ruang Terbuka Hijau (RTH), pembangunan sarana serta prasarana umum dan pengelolaan sampah.
“Kota Frankfurt tertata dengan rapi dan tidak ada kesan kumuh. Selain itu, setiap kawasan pemukiman padat penduduk, selalu ada taman maupun hutan kota,” ujar Kepala DCKTR Kabupaten Malang, Ir Romdhoni kepada Malang Post.
Area pemukiman pada penduduk yang selalu terdapat taman dan hutan itu, membuat kota tersebut asri.
Apalagi dalam penataannya, sudah dikonsep secara matang sebelumnya. Yakni setiap dua blok dari kawasan padat penduduk, selalu ada RTH. Masyarakat, juga bisa memanfaatkan RTH itu untuk melakukan berbagai aktivitas. Diantaranya olah raga, kumpul bersama teman-teman maupun keluarga, hingga belajar bersama.
“Sistem penataan kota seperti ini, sebenarnya bisa diterapkan di Kabupaten Malang. Apalagi di Kabupaten Malang, cukup banyak RTH dan lahan yang belum dimanfaatkan. Hanya RTH itu nantinya bisa dikonsep lebih modern lagi,” terangnya. Selain itu, kata dia, pengelolaan sampah di kota tersebut, sangat modern dan canggih.
Maklum, Jerman merupakan negara maju dari segi teknologi maupun industrinya. Sehingga, wajar saja bila pengelolaan sampahnya lebih canggih. Menurutnya, hal itu bisa diadopsi oleh Kabupaten Malang. Hanya saja, memang membutuhkan waktu. “Bila ada kemauan, saya yakin pengelolaan sampah di Frankfurt itu bisa diadopsi di sini,” imbuhnya.
Namun, yang tidak dia lupakan adalah masyarakat Kota Frankfurt yang sadar akan pelestarian lingkungan. Sehingga, masyarakat kota tersebut tidak ada yang membuang sampah sembarangan. Sehingga, kenyamanan dari kota tersebut sangat terjaga. Lantaran tidak ada sampah yang berserakan maupun sampah yang dibuang ke sungai.
Masih kata Romdhoni, ada pengelolaan sampah di Kota Frankfurt, yang sama dengan pengelolaahan sampah di Kabupaten Malang. “Tepatnya pengolahan sampah menjadi gas metan. Di Kabupaten Malang, sampah sudah bisa diolah menjadi biogas,” tuturnya.
Sedangkan masyarakat dan pemerintah di Kota Frankfurt, Jerman, sangat menghargai tamu dari luar negara. Setiap Kepala Desa (Kades) yang ada di Kota Frankfurt, Jerman, memakai dasi dan jas, ketika menemui tamu dari luar negara, salah satunya Indonesia. Menurutnya, perlakuan yang ditunjukan seperti itu merupakan hal kecil dan sederhana.
“Intinya, dimulai dari diri sendiri dan kesederhanaan. Dengan begitu, bisa menghargai diri sendiri dan orang lain,” katanya.
Kabupaten Malang ditunjuk belajar ke Kota Frankfurt, Jerman itu, atas prestasi yang diraih sebelumnya. Tepatnya yakni pengelolaan sampah melalui Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST).
TPST Talangagung, Kecamatan Kepanjen, yang mengolah sampah menjadi gas metan. Selain itu, mengubah sampah yang organik dan bermanfaat, diolah menjadi aneka produk berkualitas yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. (Binar Gumilang/ary)