Mahasiswa Universitas Gajayana Malang Ciptakan Keramik Koran

Terinspirasi dari tumpukan koran bekas, Siti Hosi’ah dan kawan-kawannya mengubahnya menjadi barang bernilai. Siapa sangka, koran-koran bekas tersebut bisa dibuat sebagai keramik dinding rumah. Kreatifitas itu diciptakan oleh tiga mahasiswa Universitas Gajayana Malang itu adalah Siti Hosi’ah, Juma’ati Ningsih dan Yusuf Mulder.

Mereka berhasil menyulap tumpukan koran bekas yang tak banyak dilirik orang menjadi barang yang bernilai tinggi. Koran-koran bekas yang ia dapatkan dari pengepul itu ia olah sedemikian rupa menjadi kepingan keramik dengan berbagai macam warna. Hasilnya, peluang bisnis mereka ciptakan sendiri.
Siti Hosi’ah, ketua dalam kelompok ini mengaku harus melewati beberapa tahapan pengolahan seperti perendaman, penyaringan, pencetakan, pengeringan hingga pewarnaan.
Untuk membuat proyek pertama keramik dinding itu, Hosi dan kawan-kawannya membutuhkan koran bekas sebanyak 100 kilogram, lem fox kayu warna putih sebanyak 50 pcs, pemutih dan pewarna.
”Sementara ini kami hanya memiliki tiga warna keramik yakni Gold, Silver dan soft brown. Kedepannya varian warna akan kami tambah lagi,” ungkap mahasiswa jurusan manajemen tersebut.
Selain bahan-bahan pokok itu, Hosi tentunya membutuhkan cetakan keramik, kuas untuk mewarnai, ember besar dan sedang untuk merendam koran dan lain-lain. Hosi juga mengaku membutuhkan terpal untuk menyaring rendaman koran yang telah menjadi bubur yang selanjutnya akan dicetak.
”Ide kami ini telah kami ajukan ke Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) dan mendapatkan dana sebesar Rp. 4.350.000 awal Mei ini,” imbuh mahasiswa asal Probolinggo tersebut.
Karena tergolong masih baru beroperasi, produk Hosi dan kawan-kawan ini masih belum banyak dikenal masyarakat. Namun, beberapa upaya publikasi saat ini tengah mereka upayakan terlebih melalui media sosial, sebagai salah satu senjata ampuh.
”Kami sedang mengupayakan pengenalan produk kami ke masyarakat. Yang sudah kami lakukan yakni menyebar brosur, sticker, membuat blog sebagai promosi produk,” papar Hosi sapaan akrabnya.
Selanjutnya, menurut mahasiswa yang akrab disapa Hosi itu, ide kreatifnya ini bisa digunakan sebagai peluang usaha baru terlebih di kalangan mahasiswa. Selain itu, produk yang ia namai sebagai ”Keramik Gajayana” itu merupakan salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin mendapatkan keramik dengan harga yang terjangkau.
”Selama ini harga keramik dinding itu kan lumayan mahal. Dengan produk yang kami buat ini, masyarakat bisa membeli keramik dinding dengan harga yang murah. Kami menjualnya Rp. 35 ribu per lusinnya atau 12 keping ukurannya satu meter x setengah meter,” terang mahasiswa jurusan Manajemen tersebut.
Sebelum mencetuskan ide usaha keramik ini, Hosi dan kawan-kawan telah melakukan beberapa analisis terhadap prospek usaha keramik koran ini ke depan. Berdasarkan analisis itu, Hosi menyatakan produknya ini memiliki keunggulan yakni harga yang murah dengan desain yang bervariasi.
”Produk kami memiliki variasi yang unik dengan pola-pola tertentu. Selain itu, meski berasal dari bahan yang murah, tapi produk kami tahan air. Kami telah mencobanya dengan memberikan air di beberapa keramik dan memang nggak kenapa-kenapa,” urai Hosi.
Meski begitu, terdapat beberapa kelemahan yang dihadapi oleh Hosi dan kawan-kawan. Mereka masih belum bisa memproduksi keramik dinding itu dalam skala yang besar.
”Baru kalau nanti usaha kami sudah cukup berkembang, kami akan menambah jumlah tenaga kerja. Ini memang komitmen kami ikut membuka lapangan pekerjaan sehingga mengurangi jumlah pengangguran,” tuturnya.
Namun mereka optimis usahanya bisa berkembang karena masih belum adanya kompetitor lain khususnya dalam produk keramik koran.
Selanjutnya, Hosi dan kawan-kawan juga telah memasarkan produknya itu melalui broadcast Blackberry Messenger (BBM), facebook, blog, membuka stand juga melancarkan aksi direct selling. Untungnya, beberapa strategi itu memang ia pelajari dalam bangku kuliah. Hosi dan Yusuf yang merupakan mahasiswa jurusan manajemen telah mendapatkan mata kuliah manajemen pemasaran.
”Ini sekalian mengamalkan ilmu yang telah kami dapatkan dibangku kuliah. Jadi memang selain dari pemasaran online, untuk memperbesar profit margin, kami juga melakukan direct selling atau penjualan secara langsung,” tandas Hosi.
Untuk stand keramik, Hosi dan kawan-kawan memilih kawasan jalan mertojoyo sebagai stand pusat penjualan dan pemasaran keramik dinding tersebut. Letaknya tepat berada di depan Universitas Gajayana Malang dan berada dalam Kelurahan Merjosari Dinoyo, Malang. (Nunung Nasikhah/ary)