Tamsin, Spesialis Pengawet Hewan dari Kepanjen

Membuat kerajinan patung hewan dari kayu, atau bahan lainnya mungkin sudah biasa. Tetapi patung yang terbuat dari hewan asli, tidak semua orang bisa melakukannya. Tamsin, pria kelahiran 1943 ini ahlinya. Segala macam hewan, pernah dibuatnya menjadi patung.

Seorang pria tua, dengan membawa seekor macan rembah kecil dan burung tengkek berjalan di tengah panas terik matahari. Ia menawarkan hewan yang dipegangnya itu kepada setiap orang. Kendati setiap orang yang ditawari menolak membeli, namun pria tua ini tidak pernah putus asa. Ia terus menawarkan sembari sesekali mengumbar senyum.
Pria itu adalah Tamsin. Dari kejauhan, dua hewan yang dibawanya tersebut memang terlihat seperti hidup. Namun ketika didekati dan dipegang, hewan itu sudah mati dan menjadi patung.
“Ini buatan saya sendiri. Tidak akan mungkin membusuk atau rusak. Hanya Rp 150 ribu saja untuk macan rembang,” tawar Tamsin, kepada Malang Post.
Sembari menikmati sebatang rokok kretek, Tamsin bercerita pembuatan patung hewan asli ini, dimulai pada tahun 1991 lalu. Teori pembuatannya secara otodidak. Tidak ada yang mengajarinya sama sekali. Bapak satu anak dan dua cucu ini, belajar karena sering melihat temannya membuat.
Saat pertama kali belajar membuat patung hewan, Tamsin mencoba menjadikan luwak dan macan rembah yang didapat dari berburu. Pembuatannya dilakukan di dalam kamar rumahnya, di Desa Sukoraharjo, RT01 RW01, Kecamatan Kepanjen.
“Saat itu saya mencoba membuat pada jam satu malam. Ketika membuat itu, saya hampir mati, karena menghirup cairan obat untuk mengawetkan hewan. Beruntung saya cepat keluar kamar dan ditolong istri,” ujar Tamsin.
Pengalaman pertama itu, tidak membuat Tamsin putus asa dan kapok. Sebaliknya justru dijadikannya sebagai pelajaran. Ia mencoba mencari tempat terbuka, supaya obatnya tidak tercium. Setelah karya pertamanya jadi dan dibeli orang, Tamsin semakin yakin untuk menjadikannya sebagai usaha sampai sekarang.
Sudah berbagai macam hewan yang dijadikan patung. Mulai dari landak, trenggiling, ikan hias, kijang hingga kambing sekalipun. Hewan-hewan lainnya seperti macan rembang, burung, ular serta garangan juga sering.
Sebelum usianya lanjut, hewan-hewan yang dijadikan patung tersebut didapat dari berburu di hutan dan gunung. Seperti Gunung Kawi, Gunung Arjuno, Gunung Bromo dan Gunung Semeru. “Ketika berburu dulu ada cerita lucu. Saat saya berburu hewan, ada orang mau mencuri burung. Sewaktu berpapasan, kami sama-sama takut dan lari. Saya lari karena mengira dia itu, mau menegur saya. Sedangkan maling kayu itu lari karena mengira saya petugas,” ceritanya sambil tertawa.
Cerita lain yang diingat Tamsin sampai sekarang, saat dia disuruh membuat patung hewan dari kambing. Tamsin diberi ongkos Rp 1 juta, namun disuruh menggantung kambing itu supaya mati. “Permintaan itu, saya tolak dan saya lari keluar rumah karena tidak tega. Akhirnya untuk menggantung, saya memanggil orang yang dulu memang dikenal raja tega membunuh hewan,” jelasnya.
Namun karena sekarang usianya sudah tua, Tamsin tidak lagi berburu. Ia sekarang hanya menunggu kiriman hasil buruan beberapa pemuda. Ia membeli hasil buruan itu seharga Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu, baru kemudian dijadikan patung.
Setelah jadi patung, hasil karyanya tersebut dibawa keliling ke beberapa tempat untuk ditawarkan. Harganya tergantung dengan besar kecil dan kesulitan membuatnya. “Kalau laku ya alhamdulillah, tetapi kalau tidak laku yang dibawa pulang. Berbeda dengan dulu ketika masih banyak hewan yang dijadikan patung, sebab setiap bulannya ada orang Jakarta yang memborong,” paparnya.
Proses pembuatan patung hewan asli ini, dikatakan Tamsin tidak butuh waktu lama. Hanya 2 – 3 jam saja. Prosesnya hewan yang sudah mati, diboleng untuk diambil daging dan tulangnya. Setelah itu kulit dan bagian tubuh yang tersisa, direndam dengan formalin serta obat mayat. Baru setelah itu diberi kawat untuk rangka, dan kapuk serta serbuk kayu sebagai pengganti dagingnya.
“Daging hewan yang sudah saya boleng, ya dimasak sama istri. Kalau tidak begitu diminta dan dibeli oleh tetangga untuk dimasak. Karena dagingnya bisa untuk obat gatal-gatal,” bebernya.(agung priyo)