Kehidupan Ansori, Eks TKI di Korea Selatan

BERSTATUS eks buruh migran  tidak bisa dipandang sebelah mata. Seperti ditunjukan Ansori, 40 tahun, warga Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare ini. Purna Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Korea Selatan ini, sukses menjalankan usahanya sendiri. Dia kini memiliki toko yang menjual aneka macam kebutuhan dengan omzet Rp 10 juta per hari.


Ada salah satu rumah di Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare tampak lebih besar dibandingkan  di sekelilingnya. Di rumah itu, juga sekaligus menjadi tempat usaha penjualan beraneka macam kebutuhan. Ya, rumah itu milik Ansori. Saat itu, Ansori tengah sibuk melayani pelangganya. Meski sudah mempunyai sembilan karyawan tetapi dia tidak canggung melayani pembeli.
Sejenak aktivitasnya terhenti, setelah mengetahui kedatangan Malang Post. Kemudian dia mempersilahkan masuk ke ruang tamu, yang berada di lantai dua. Di dalam ruamg tamu itu, terdapat berbvagai macam peralatan rumah modern, seperti LCD, AC, Komputer dan Lapotop. Kemudian, dia mulai menceritakan kisah kesuksesannya menjalani usaha itu, selepas menjadi TKI.
Berawal dari cita-cita ingin mengadu nasib ke negeri orang dan ingin meraih keuksesan, membuat Ansori memberanikan diri bekerja ke luar negeri. Pertama kali, dia mencoba peruntungan ke Malaysia, pada tahun 1997 silam. Namun, saat itu, upaya tersebut tidak terlalu berhasil. Meski bisa dinyatakan gagal, dia tidak pernah jera untuk mencoba kembali bekerja sebagai TKI.
Pada tahun 2001 lalu, dia memtuskan untuk bekerja di Korea Selatan, memakai salah satu Perusahaan Jasa Pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Bermodalkan Rp 10 juta, dia memberanikan diri berangkat ke negeri K-Pop tersebut. Tujuannya adalan Ansan City di Korea Selatan.
 “Tugas saya di perusahaan tersebut, melipat kain dan kemudia mengemasnya. Saya juga menjadi operator mesin tekstil,” ujarnya.  Sedangkan waktu bekerjanya, kata dia, yakni selama 13 jam. Yakni mulai pukul 07.00 hingga 20.00. Diakuinya waktu yang cukup panjang untuk bekerja. Namun, dia tidak mengeluh karena menikmati pekerjaanya tersebut.
Saat itu, dia digaji Rp 8 Juta per bulan. Sedangkan 80 persen dari gajinya itu, dikirimkan kepada keluarganya yang ada di Arjowilangun. Sedangkan sisanya, ditabung dan dipergunakan untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Lantaran dia berhemat dan  rajin menabung, maka bisa mengumpulkan uang senilai Rp 70 juta selama 3,5 tahun bekerja di negara itu.
“Saat di Korea Selatan, saya tidak neko-neko. Kebutuhan hidup di Ansan City, juga sangat terjangkau. Sehingga saya bisa menabung,” ujar bapak dua anak ini. Setelah 3,5 tahun bekerja, dia memberanikan pulang ke asalnya. Apalagi tabungannya senilai Rp 70 juta dirasa sudah cukup. Usai pulang dari Korea Selatan pada tahun 2005, dia membuka usaha toko di rumahnya tersebut.
Aneka produk dia jual. Seperti baju, kebutuhan pokok, jam tangan, mainan anak dan sebagainya. Modal awal yang dia keluarkan, yakni sebesar Rp 10 juta. Modal sebesar itu, ternyata mengatarkan menuju gerbang kesuksesan. Hingga saat ini, dia memperoleh omset rata-rata Rp 10 juta per hari dari transaksi penjualannya.
“Menjelang Lebaran, omzet saya pernah tembus Rp 20 juta per hari,” urainya. Nah, keuntungan dari berjualan pakaian itulah, dia pergunakan untuk membangun rumah dan memberi peralatannya. Dia mengatakan, kesuksesannya itu harus ditiru oleh Purna TKI lainnya yang ada di desa tersebut. Setiap pulang bekerja dari luar negeri, para Purna TKI itu harus memanfaatkan gajinya secara bijak.
Tidak boleh dipergunakan untuk membeli mobi, perhiasan maupun barang mewah lainnya. Melainkan dipergunakan sebagai modal usaha maupun investasi. “Biasanya usai pulang kerja dari luar negeri, mereka langsung berpola hidup mewah. Seperti membangun rumah dan mobil. Mainset seperti ini, harus dihilangkan,” cetusnya. Setelah uang habis, kata dia, eks TKI itu kembali bekerja keluar negeri.
Padahal, bila gaji mereka dimanfaatkan dengan baik untuk modal usaha kata dia, bisa memeporelh keuksesan. Asalkan Dilandasi dengan keultan dan keseriusan, dia percaya eks TKI Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare ini, bisa melakukan hal tersebut. (binar gumilang/nug)