Trya Febrianie Desainer Batik Malangan

Sebuah karya memiliki nilai kekayaan intelektual. Sehingga karya tersebut itupun tidak boleh dijiplak, bahkan diakui oleh orang yang bukan penciptanya. Trya Febrianie adalah salah satu desainer Batik Malangan yang getol mengurus sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Karya batiknya terinspirasi dari perkelahian Ken Arok dan motif di candid an arca di Malang Raya.

Tidak seperti beberapa tahun silam, sertifikat yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dapat dimiliki gratis. Salah satu pelaku UKM di Malang adalah orang yang beruntung mendapatkan sertifikat HAKI gratis tersebut. Yaitu Trya Febrianie. Pemilik Antique Batik Malang inipun mengaku bahagia, dan berencana ingin mendaftarkan semua karyanya.
Beberapa wanita cantik terlihat melakukan fitting busana di gallery Antique Batik Malang. Di depan kaca berukuran besar, wanita-wanita yang memiliki bodi ala model ini itu terlihat anggun dengan pakaian berbahan batik yang dikenakan.
Paling sibuk adalah salah satu perempuan cantik berjilbab. Seringkali menata letak lipatan lain yang digunakan wanita-wanita cantik tersebut. Dia adalah Triya Febrianie. Sekalipun menjadi pemilik, wanita ini tidak kemudian memiliki sifat bossy, tapi dia menangani langsung setiap klien yang datang ke butiknya.
Febri sapaan akrabnya, menceritakan bisnisnya. “Kalau bisnisnya dimulai dari mama, dulu hanya usaha konfeksi saja. Tapi dari tahun 2005 lalu mulai berkembang, yaitu menciptakan kreasi Batik Malangan,’’ urai perempuan kelahiran 1978 ini.
Alumni Universitas Brawijaya (Unibraw) inipun mengatakan jika Batik Malangan ini diciptakan setelah ibunya Prof Dr Hj Nurhajati mendatangi di beberapa daerah, seperti Jogjakarta, Solo, Pekalongan atau kota-kota yang memproduksi batik. Tentu saja, Nurhajati tidak sekadar datang dan berekreasi, tapi juga melakukan studi, majunya usaha batik disana.
“Malang memiliki beragam simbol yang bisa dituangkan dalam lukisan batik tulis,’’ katanya.
Kreasi itupun dikembangkan, hingga akhirnya tahun 2005, Febri mampu menciptakan kreasi batik tulis yang sempurna. Ciptaan pertama batik Malangan karya Febri adalah motif Parama Iswari. Batik yang memuat berbagai simbol Kota Malang ini cukup laris manis di pasaran. Itu karena memang motifnya berbeda dengan yang lain.
Lantaran laris itulah, banyak orang tak bertanggung jawab menjiplaknya. Hal inilah yang membuat Febri dan keluarganya kecewa. Sehingga agar hak intelektualnya diakui, Febri pun mendaftarkan motif batik ciptaannya itu ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Tapi begitu, hak cipta itu tidak seketika diperolehnya. Butuh waktu yang lama, proses yang panjang dan biaya yang tidak sedikit. “Kami mendaftarkan tahun 2005, permohonan kami diterima tahun 2007 dan sertifikat HAKI baru terbit 2008. Tiga tahun, kami baru mendapatkan sertifikat HAKI,’’ terangnya.
Lantaran proses yang bertele-tele tersebut, Febri pun mengaku putus asa. Dia enggan mendaftarkan karyanya. “Kalau satu karya, prosesnya tiga tahun dengan biaya besar, terus di sini ada lebih 50 karya, berapa lama kami harus menunggu. Makanya saat itu kami pun enggan mendaftarkan lagi,’’ katanya.
Tapi takdir berkata lain. Sebulan lalu, Febri mendapat kejutan. Dia dihubungi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang, yang mengatakan akan mendapatkan sertifikat HAKI gratis. Awalnya memang tidak percaya, tapi saat dia diminta mengirimkan portofolio, termasuk karya yang didaftarkan, ibu dua anak ini pun mengaku senang.
“Senang, tidak menyangka, dan seperti mimpi saja,’’ katanya. Dan mimpi itupun menjadi kenyataan, pertengahan April lalu, dia betul-betul mendapat sertifikat gratis, dan diberikan langsu oleh Menteri Perindustrian.
“Sebelumnya istri pak menteri datang ke sini, beliau juga bertanya tentang HAKI, dan saya bilang baru satu. Beliau juga yang meminta saya untuk mendaftarkan HAKI karya-karya disini, karena gratis,’’ urainya.
Berbeda saat dia mengurus HAKI sendiri. Sertifikat HAKI gratis yang diperolehnya justru lebih simple dan tidak bertele-tele. Bahkan, waktunya hanya tiga hari saja. “Dulu saya nunggunya sampai 3 tahun, yang gratis malah cuma tiga hari,’’ katanya.
Lantaran kemudahan itulah, alumni SMAN 3 Malang inipun berencana mendaftarkan semua karya ciptanya. “Kalau di total karya kami ada 50 lebih, saat ini kami sudah memiliki tiga sertifikat HAKI, yaitu batik tulis motif Parama Iswari, motif keris lekuk lima, dan motif gunungan,’’ tambah alumni SMPN 3 Malang ini.
Terkait dengan kreasi batik, Febri pun menceritakan dengan gamblang. Sebagai alumni arsitektur, wanita ini kebagian mendesain. Tapi begitu, desain yang dituangkan bukanlah desain biasa. Riset untuk membentuk motif penting dilakukan. Seperti batik motif keris lekuk lima, batik ini menceritakan perkelahian antara Ken Arok dan Tunggul Ametung. Di sana banyak simbol yang digambarkan selain batik.
“Ada garudea, ada simbol candi, ada senjata, ada sulur, dan gringsing. Simbol-simbol ini sebetulnya memiliki cerita,’’ terang Febri.
Simbol-simbol yang dituangkan itu diperolehnya dari pembacaan gambar-gambar relief yang ditemukan di beberapa candi di Malang. “Batik tulis selain menjadi seni karya, juga menjadi wadah bagi saya untuk menuangkan kembali sejarah,’’ katanya. Tapi begitu, Febri pun mengaku tidak segan-segan menggambarkan kondisi geografis Kota Malang, dengan memasukkan simbol kedelai maupun tempe di dalam batik ciptaannya.(ira ravika/ary)