Admira Wijaya, Ilustrator Asal Malang yang Go Internasional (1)

Setelah Alm. Teguh Santosa, Malang rupanya masih memiliki komikus berbakat. Bahkan karyanya juga mendunia. Dia adalah Admiranto Wijayadi atau biasa dikenal dengan nama Admira Wijaya. Pria yang memiliki studio Jl Soekarno Hatta Indah I ini, turut berperan film Batman v Superman: Dawn of Justice yang akan tayang di layar lebar pada 2016.

Barangkali sebagian besar masyarakat sudah mengetahui kabar penayangan Batman v Superman: Dawn of Justice pada tahun 2016. Akan tetapi, belum tentu semua tahu kalau ada peran warga asli Kota Malang yang terlibat di dalamnya. Ya, di dalam film tersebut, Admira menjadi Character Guide Artist, ilustrator yang bertugas membuat guide untuk gerak tubuh karakter di film tersebut.
Pria kelahiran 2 April 1976 ini diminta langsung oleh DC Comic untuk menjadi ilustrator guide dalam film tersebut. Karena memang sudah bertahun-tahun, Admira melayani permintaan dari produsen animasi hero tingkat dunia itu. Berkat karya-karyanya yang dia publish secara online pada 2005 silam, sekarang dia menjadi seniman yang sudah go internasional.
Keterlibatan Admira dalam film dan animasi Hollywood ini tidak hanya di Batman v Superman 2016 saja. Admira sudah sering menjadi ilsutrator pada komik-komik DC. Kalau ada yang tahu salah satu film series DC, Arrow, Admira salah satu pengonsep karakter Arrow. Admira juga pembuat kostum alternatif dari superhero yang identik dengan alat panahnya itu.
Dalam film The Dark Night pada tahun 2008 silam, Admira juga membuat desain dari motor Batman saat itu. Meski akhirnya tidak dijadikan desain utama yang digunakan film, tapi desain motor Batman yang dibuat Admira menjadi salah satu gambar pilihan yang ditetapkan DC Comic sebagai koleksi motor batman.
Tak hanya di situ, bila ingat film Hercules: The Thracian Wars yang tayang pada 2014 silam, di situlah terdapat peran penuh Admira. Mulai dari pembuatan karakter, sampai gerakan dari tokoh tersebut.
“Waktu penggarapan saya mengerjakan di Singapura, terus launching di New York saya juga diajak," ujar Admira kepada Malang Post saat ditemui kemarin (29/5/15).
Ya, jam terbang Admira di dunia ilustrasi memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Kesuksesan dia membangun studio pribadi di Jl Soekarno Hatta Indah I, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tidak bisa dibilang garapan iseng-iseng. Meski begitu, keringat yang keluar untuk menjadi seperti itu tidak sedikit.
Terutama saat kecil dulu. Admira mengaku berasal dari kalangan menengah ke bawah. Setiap pagi sebelum sekolah, dia harus mengantarkan donat buatan ibunya ke warung-warung yang ada di sepanjang perjalanan dari rumahnya di Jl Kedawung, Tulusrejo, Lowokwaru Kota Malang, ke SMPN 11 Malang di Jl Ikan Piranha Atas, Tunjungsekar, Lowokwaru Kota Malang.
"Waktu itu saya sambil jalan kaki, bawa dua rantang di tangan kanan dan kiri, sambil jalan petenteng-petenteng antar donat ke warung-warung," katanya sambil mempraktikan jalan petantang-petentengnya.
Dikatakannya, saat itu teman-temannya sudah pada membawa sepeda, bahkan sepeda motor. Tapi, hal tersebut tak membuat semangatnya luntur. Tidak hanya itu saja, lanjut Admira, saat SMP dulu, setiap pagi sekitar pukul 04.00 WIB, dia juga harus membantu ibunya melubangi donat tersebut dengan menggulung-gulungnya. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku, kehidupannya dulu sampai sekarang masih dia ingat.
Di luar itu, lanjut Admira, ada satu kejadian lucu di masa kecil yang tidak dia ingat. Yaitu saat SD, dimana untuk menonton televisi, Admira harus menumpang di rumah tetangga. "Tapi tetangga saya waktu itu pelit, jadi kalau ada saya sedikit, pintu langsung ditutup. Waktu saya intip dari jendela, gorden langsung ditutup. Dulu sering sekali seperti itu, saya sampai dendam sendiri," terang Admira.
Waktu itu, Admira mengumpat dalam hati. "Baru punya TV kecil saja, awas nanti saya punya TV sebesar tembok," kata Admira mencontohkan umpatan masa kecilnya. "Nah, ternyata malah saya sekarang seperti ini (karyanya sering dimuat di layar lebar, Red)," tambahnya.
Ayah dari Aditya Darma Rajasa Wijayadi dan Michelly Dante Armandio ini sebenarnya tidak menyangka dia bisa menjadi illustrator. Karena menggambar, baginya dulu, hanya sekadar hobi. Bahkan, dulu sejak SMA Admira malah menjadi penyanyi café, bersama teman-temannya. Waktu kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dia satu grup band dengan para personel Naif.
“Dulu nama bandnya Akapela, saya bareng para personel Naif saat itu. Tapi akhirnya, saya kembali lagi ke dunia ilustrasi. Kalau kata David (Vokalis Naif), kehidupan manusia sudah ada blue printnya, mau lari kemana, pasti balik ke situ juga," ujarnya sambil tertawa kecil.
Lepas dari kegiatannya sebagai musisi, Admira mencoba ke dunia perfilman dan advertising. Di saat itu, setelah beberapa waktu lamanya menjadi kru film, ada seorang yang mengetahui bakat menggambarnya. "Awalnya saya diajak ikut di advertising agency, sampai pada akhirnya ada orang yang menyarankan saya untuk mempublish di web," tutur Admira.
Dari situlah, dia mulai dilirik oleh produsen-produsen animasi besar di dunia. Produsen pertama yang merekrutnya adalah Imaginary Friend, di mana saat itu Admira menjadi illustrator untuk card games Street Fighter, King of Fighter dan lain-lain, yang nge-trend pada zamannya. "Cerita saya di dunia komik internasional, dimulai dari sini," imbuh Admira.(muhamad erza wansyah/ary/bersambung).