Admira Wijaya, Ilustrator asal Malang yang Go Internasional (2/habis)

KARIR  Admiranto Wijayadi atau biasa dikenal Admira Wijaya, memang sudah mendunia. Bahkan sampai saat ini, dia tetap aktif menjadi ilustrator bagi produsen animasi raksasa di dunia, terutama DC Comics. Tapi bukan  berarti Admira termasuk "kacang yang lupa kulitnya".

Komikus asli Kota Malang ini sempat berusaha mengembangkan industri komik nasional dengan cara  membuat studio. Meski pada akhirnya, harapannya kandas di tengah jalan.
Studio itu sudah dibentuk pada  TAHUN 2010 lalu. Di studio ini, Admira bertujuan mengajak pemuda-pemuda asal Malang yang memiliki bakat untuk berkecimpung di dunia ilustrasi dunia. Di studio ini juga, Admira mengajarkan para pemuda ini banyak hal, mulai dari teknik pewarnaan, teknik menggambar karakter, sampai menggambar dan melakukan editing menggunakan komputer.
Bahkan, nama studio yang dibangun Admira saat itu sempat besar. Namun, sayangnya tidak bertahan lama. Dua tahun setelah berdiri, studio ini dibubarkan. Admira tidak ingin alasan kenapa studio ini akhirnya dibubarkan, sebab ia tak ingin mengingat kembali kejadian tersebut. Meski begitu, Admira memastikan kalau kegagalan dia dalam mengembangkan studio itu merupakan pengalaman paling memukul baginya.
Admira saat itu mengaku sampai trauma untuk menggambar. Selama enam bulan sejak kejadian tersebut, hidupnya berubah 180 derajat. Ayah dua anak ini biasanya tak pernah melewati hari-harinya tanpa menggambar, namun karena trauma berkepanjangan, selama enam bulan sama sekali Admira tidak menggambar.
Trauma itu juga menyebabkan Admira seakan menjadi Anti Sosial. Dia tak berani keluar dari rumahnya. Sampai-sampai saat itu, saking trauma dengan kegagalan tersebut, Admira hampir menutup karirnya sebagai ilustrator. "Saya berpikir waktu itu mau menyudahi menggambar. Karena saat itu saya trauma sekali," ujar Admira.
Beruntung saat itu Admira cepat berubah pikiran. Lama-lama dia sadar kalau dirinya tidak bisa jauh dari dunia gambar menggambar. Kembali ia ceburkan diri di dunia ilustrasi. "Akhirnya saya balik lagi (ke dunia ilustrasi), sampai sekarang," jelasnya.
Admira menilai, industri komik di Indonesia tidak mendukung para komikus nasional. Selain karena apresiasi yang diberikan kurang, masyarakat Indonesia masih lebih tertarik dengan produk-produk internasional. Bila ada komikus asal Indonesia yang membuat komik, kata Admira, komik tersebut ditaruh di belakang atau tempat-tempat yang tak menjual.
"Yang ditonjolkan bukan karya anak bangsanya sendiri, tapi malah karya dari luar negeri. Bagaimana mau berkembang kalau begitu," ungkap Admira.
Pria berusia 39 tahun ini juga mengkritik budaya "latah" orang Indonesia. Berbeda dengan masyarakat di negara lain, masyarakat Indonesia cenderung ikut-ikutan negara lain. Bila tak mau kalah, seharusnya mencari sesuatu yang baru, tapi berbeda. Bukan malah ikut-ikutan dan 'sok' menyaingi.
Budaya latah ini juga dapat dilihat dari industri perfilman. Admira mengatakan, satu film tentang pocong muncul, semuanya ikut-ikutan bikin film pocong. Sambil agak menggeleng-geleng, Admira menyatakan turut perihatin dengan kondisi di Indonesia yang seperti itu. "Kondisinya masih seperti ini. Untuk waktu dekat saya tidak punya bayangan mau buka studio lagi. Masih agak trauma," katanya.
Meski tak ingin membuka studio, bukan berarti dia tak punya mimpi jangka panjang. Ya, memang tidak ingin membuka studio. Tapi, Admira punya mimpi untuk membuat rumah produksi raksasa layaknya Warner Bros. "Bikin Warner Bros versi Indonesia," cetus Admira membayangkan mimpi besarnya itu.
Dengan memiliki rumah produksi ini, Admira ingin membawa karya-karya anak bangsa bersaing di kelas dunia. Inilah cara Admira untuk menunjukan kecintaan terhadap Indonesia. "Ya, tapi itu masih panjang. Sekarang industri komik di Indonesia tidak memungkinkan untuk kami (komikus Indonesia) hidup. Jadi cita-cita ini, sekaligus untuk menghidupkan para komikus di Indonesia," pungkasnya.
Mungkin, Admira hanya satu dari sekian banyak ilustrator berbakat di Indonesia. Namun, segelintir kisah Admira mengenai kisahnya di dunia ilustrasi dunia diharap bisa menjadi pelajaran bagi berbagai elemen masyarakat di Indonesia, mulai dari warga sipil, sampai pemerintah. Semoga Admira mampu merealisasikan mimpinya, sehingga tak ada lagi ilustrator yang trauma karena kecintaannya kepada Indonesia. (muhamad erza wansyah/habis)