Mursih, Ubah Botol Bekas Jadi Lampion Indah

SAMPAH plastik yang biasanya terbuang percuma, ternyata bisa diolah menjadi karya yang memiliki ekonomi tinggi. Mursih, 48 tahun, warga Kelurahan/Kecamatan Kepanjen ini berhasil mengubah botol bekas menjadi benda bernilai tinggi. Selain diminati para pejabat, produk lampion dari botol bekas mampu menembus sejumlah kota besar di Indonesia.

Di stand penjualan di Stadion Kanjuruhan, Mursih sibuk mempromosikan karya kreatifnya itu kepada pengunjung. Dia mengikuti event akbar Pasar Rakyat, dalam rangka memperingati HUT ke 68, Koperasi.
Lampionnya berawal botol minuman bekas. Mursih, memanfaatkannya sejak tahun 2013 lalu.
“Karena banyaknya sampah plastik di pemukiman yang adai di Kepanjen ini, saya berinisiatif mendaur ulangnya,” ujarnya kepada Malang Post.
Mulanya, ibu dua anak ini membuat dompet dan tas dari plastik. Sedangkan plastik itu, didapatkannya dari Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen. Plastik bungkus kopi, yang dia kumpulkan. Kemudian, plastik tersebut dipilah dan dicuci hingga bersih.
Setelah dicuci dengan bersih, kemudian plastik tersebut dipotong kecil-kecil dan dibentuk sesuai dengan keinginan. “Kalau untuk satu tas dan satu dompet, plastiknya harus satu jenis. Karena sesuai dengan tema yang akan dibuat,” terangnya. Setelah dipotong, kemudian plastik tersebut ditempelkan dengan lem.
Setelah itu, diberi hiasan manik-manik untuk mempercantik dan siap dijual. Pasca sukses membuat tas dan dompet, dia langsung mengembangkan keahliannya. Yakni membuat lampion, sebagai hiasan rumah. Prosesnya hampir sama dengan membuat tas dan dompet. Namun, dibutuhkan waktu yang lama untuk membuatnya.
Paling cepat, 10 hari membuat lampion tersebut. Lantaran tingkat kesulitannya cukup tinggi, saat proses pembuatannya. “Yang paling susah itu, merangkai plastiknya dan dibentuk menjadi sebuah lampion,” imbuhnya. Lanjut dia, satu lampion membutuhkan 400 botol plastik dan mengeluarkan biaya produksi Rp 200 ribu.
Meski harga produksinya cukup tinggi, hal itu tertutupi dengan harga jual yang cukup tinggi pula. Satu lampion, dia jual dengan harga Rp 500 ribu rupiah. Artinya, dia mempunyai keuntungan lehbih dari 50 persen, setelah dikurangi biaya produksi. Peminat lampion berbahan bekas dan di daur ulang itu, ternyata tidak main-main.
Ketua TP PKK Kabupaten Malang, Hj Jajuk Rendra Kresna, membeli lampion tersebut. Selain itu, ibu-ibu pejabat Pemkab Malang dan istri-istri para Pejabat Pemkab Malang, juga tidak mau ktinggalan memborong lampion tersebut.
“Karena bentuknya memang unik dan tidak ada di daerah lain. Selain itu, bahan pembuatannya plastik, sehingga aman. Beda dengan lampion hias rumahan pada umunya, yang terbuat dari kaca,” paparnya.
Selain itu, lampion buatannya tersebut pernah mengikuti Pameran di Jakarta. Sedangkan peminatnya, juga beberapa daerah. Diantaranya Jogjakarta, Balikpapan, Samarinda, Bandung, Medan dan Denpasar. Kesuksesannya itu, dia berharap ditiru oleh ibu-ibu rumah tangga lainnya.
“Ibu rumah tangga itu bisa produktif dan membantu pekerjaan suaminya untuk meperoleh tambahan pendapat. Selain itu, mengasah kreativitas dari ibu-ibu rumah tangga ini,” pungkasnya. (Binar Gumilang/ary)