Balik Modal 2 Tahun, Hasilkan Atlet Juara Asia

Sepakbola Indonesia sekarang sedang masuk masa suram. Penghasilan atlet sepakbola, merosot drastis. Namun, pelatih kiper Arema Cronus Alan Haviludin sudah antisipasi hal ini. Gaji selama aktif main dan melatih, sudah diinvestasikan menjadi gym fitness center. Bahkan, konon pusat kebugaran milik Alan bernama Pandawa Gym sudah menjadi yang terbesar di kota domisilinya, Bojonegoro dengan ratusan member.

Sejak awal, Alan Haviludin sudah menyadari pendeknya umur karir atlet sepakbola. Jauh sebelum sepakbola sesuram sekarang, Alan sudah berangan-angan untuk memiliki usaha sampingan yang bisa menyokong keluarganya, saat sepakbola sedang seret.
Pada masa akhir karirnya sebagai kiper, Alan yang masih membela Persegi Gianyar, memutuskan untuk berinvestasi dalam bisnis pusat kebugaran alias fitness center.
“Saya aktif pemain saat mau bikin gym sendiri. Saya sudah punya cita-cita untuk bikin gym sejak lama. Langsung, saya investasi pelan-pelan. Tahun 2004, cita-cita saya kesampaian. Saya bikin gym sekaligus sanggar senam di Bojonegoro,” ujar Alan kepada Malang Post, saat ditemui di guest house Hasanah, tempat tinggal asisten pelatih, siang kemarin.
Investasinya masih berupa beberapa alat fitness. Istrinya menjadi pengelola gym dan sanggar senam saat Alan sedang tur luar kota atau membela tim. Begitu menyempatkan pulang ke Bojonegoro, pelatih kiper berdarah Makassar tersebut mengontrol perkembangan gym-nya.
“Ya itung-itung usaha sampingan. Pelan-pelan saya bangun gym saya. Supaya ada kesibukan kalau pulang ke rumah,” tandas mantan pelatih kiper Persipura itu. Usaha gym-nya mulai berkembang, seiring dengan kehadiran member-member serta pelanggan baru yang ingin menjajal fitness center milik Alan.
Setelah berjalan enam tahun, Alan merenovasi gym-nya untuk jadi lebih besar lagi. Tahun 2010, alat-alat makin lengkap. Ruangan untuk nge-gym semakin luas. Puncaknya, saat membela Arema, Alan mampu membesarkan gym-nya di atas lahan seluas 30 x 16 meter persegi.
“Sekarang kita sudah memiliki member sekitar 150 orang. Lalu, ada pula para pelanggan yang bukan member. Dalam satu bulan, pendapatan dari gym sudah bisa menutupi kebutuhan harian, seperti listrik, air dan karyawan,” jelas pelatih lisensi C AFC itu.
Untuk setiap member, ia mematok uang bulanan sekitar Rp 100 ribuan. Ditambah dengan pelanggan insidentil yang hanya dipatok Rp 10 ribu sekali nge-gym, Alan sudah mendapatkan kembali modalnya pada tahun kedua. Ia menyebut, modal awalnya untuk membangun gym sekitar Rp 200 juta.
Setelah itu, dia pelan-pelan menjalankan gym bersama istrinya. Modal dari gaji melatih, diinvestasikan lagi untuk perluasan gym. “Ada yang bilang gym saya paling besar di Bojonegoro. Bisa jadi. Tapi, saya tak mau banding-bandingkan. Niat saya hanyalah berbisnis di bidang yang saya kuasai, memenuhi kebutuhan lifestyle orang untuk olahraga,” kata pelatih kiper Persela ini.
Dengan pengalaman menjadi atlet dan pelatih selama puluhan tahun, Alan merancang sendiri gym miliknya. Mulai dari penempatan alat berat hingga pemasangan aksesoris gym, dihandel oleh Alan. Ia mengaku sangat beruntung memiliki banyak pengalaman olah kebugaran dari para pelatihnya.
“Saya merasa beruntung dan bersyukur bisa mengalihkan pengalaman jadi bisnis. Dari buku-buku yang saya, dari pelatih-pelatih saya saat masih aktif, itu membantu saya membangun fitness center yang eksklusif, tapi murah,” sambung penggemar Gianluigi Buffon tersebut.
Ia menyadari, tidak semua olahragawan merasa perlu berbisnis untuk menyambung hidup. Apalagi, modal yang dibutuhkan cukup besar. Namun, hal itu harus dilakukan, mengingat karir atlet yang sangat pendek. Jika tak segera berpikir masa depan, maka atlet bola bakal merana di masa seperti sekarang.
“Kalau melangkah awal memang terasa berat. Rp 200 juta modal besar. Tapi, kalau sudah dijalankan, saya jadi ketagihan. Karena, bisnis fitness center ini menjanjikan. Bahkan, saya berani bilang ini bisnis yang hampir tanpa resiko,” tuturnya.
Menurutnya, alat-alat latihan di gym dianggap seperti barang yang tak akan berkurang. Alat-alat tersebut hanya butuh perawatan. Kalaupun harus ganti baru, kata Alan, harga jual alat lama masih sangat bagus dan tidak akan merosot drastis dari harga normal.
Tak heran, Alan merasa beruntung bisa berinvestasi dan mulai menuai buahnya, dalam situasi sepakbola yang sedang pelik seperti sekarang. “Sekarang saja, kita yang punya usaha sampingan masih merasakan efek tanpa kompetisi dan sanksi FIFA seperti sekarang. Apalagi, atlet yang tak punya usaha sampingan,” lanjutnya.
Apabila situasi sepakbola kembali normal dan ia bisa mendapat kontrak dengan nilai yang bagus, Alan berniat membesarkan fitness centernya lagi. “Mimpi saya adalah membuat sport center yang lengkap. Ada kolam renang hingga tempat futsalnya. Konsep masih sama. Eksklusif tapi murah,” kicaunya.
Alan juga menyebut, Pandawa Gym miliknya sudah menghasilkan atlet binaragawan kelas Asia. Rian Anton, salah satu member gym-nya, sudah menjadi jawara Asia dalam kontest body building. “Rian Anton itu member gym saya. Dia atlet binaraga yang jadi juara Asia,” tutup mantan kiper Arseto Solo ini.(fin)