Lebih Dekat dengan Satuan Polisi Air Sendangbiru

Tugas polisi ternyata tidak mudah. Apalagi yang bertugas di Satuan Polisi Air (Satpolair), yang memiliki tanggungjawab menjaga perairan laut. Siapa sangka, wilayah kerjanya amat luas, dengan jumlah personil yang minim. Berikut liputan yang dihimpun oleh wartawan Malang Post Agung Priyo.

Satpolair Sendangbiru berada di bawah pembinaan Polres Malang. Satpolair Sendangbiru dipimpin oleh seorang perwira pertama (Pama), yaitu Ajun Komisari Polisi (AKP) Nyoto Gelar. Anggotanya hanya berjumlah delapan personil, dan tambahan satu anggota PNS. Sehingga total ada 10 personil, dari standart minimal yang seharusnya 30 personil.
Personil yang bertugas di Satpolair ini, bukanlah personil buangan. Sebaliknya mereka memang yang memiliki keahlian dalam penjagaan laut. “Saya jadi Kasatpolair, karena pada 2013 lalu pernah ikut kejuruan Daspa (Dasar Perwira) Polair di Tanjung Priok,” ujar Nyoto Gelar.
Sepuluh personil Satpolair ini, menjaga luas laut di pesisir Kabupaten Malang. Mulai dari Pantai Modangan di Kecamatan Donomulyo, yang berbatasan dengan Kabupaten Blitar, hingga Pantai Licin di Kecamatan Tirtoyudo, yang berbatasan dengan Kabupaten Lumajang.
“Tugas kami adalah mengawasi dan menjaga laut yang melintasi enam polsek atau kecamatan. Yaitu Kecamatan Donomulyo, Gedangan, Bantur, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo serta Ampelgading. Dari enam kecamatan itu, panjang laut yang kami jaga adalah 109,9 kilometer dengan jarak ke tengah laut, sejauh 12 mil,” terang mantan Kapolsek Tiris, Probolinggo ini.
Sekalipun kondisi personil yang minim, namun setiap hari kondisi keamanan wilayah laut sepanjang 109,9 km tersebut harus terpantau. Mulai pengamanan hewan laut, tumbuhan mangrove hingga terumbu karangnya.
“Termasuk juga pengawasan terhadap imigran gelap. Karena selama ini pantai di Kabupaten Malang, sering dijadikan lintasan oleh imigran gelap yang mau menuju ke Australia,” tuturnya.
Untuk menjaga keamanan wilayah tersebut, selain terus berkoordinasi dengan enam Polsek di jajaran Polres Malang, personil juga dibagi untuk melakukan patroli rutin. Yaitu patroli menggunakan perahu, serta patroli darat dengan menggunakan motor.
“Kalau kondisi cuaca buruk, patroli kami lakukan dengan sepeda motor. Namun kalau cuaca tidak buruk, baru menggunakan perahu. Selain itu, kami juga menggandeng beberapa tokoh masyarakat di pesisir pantai. Mereka kami minta memberikan informasi sekecil apapun, terkait peristiwa atau kondisi apapun di laut,” paparnya.
“Sehingga setiap waktu dan kapanpun, kondisi laut bisa terpantau. Sebab dengan personil yang terbatas, tidak mungkin setiap harinya personil patroli dari ujung timur ke ujung barat, sehingga harus dibutuhkan komunikasi,” sambung mantan Kapolsek Banyuanyar Probolinggo.
Dengan jumlah personil yang sangat terbatas itu, maka berpikir untuk berkumpul keluarga setiap hari harus dihilangkan. Untuk bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga, harus mengatur waktu bersama. Minimal sepekan sekali baru bisa pulang dan kumpul keluarga.
“Saya pulangnya seminggu sekali. Kalau saya pulang, yang menggantikan tugas Kanit Gakkum dan KBO saya. Begitu juga ketika saya ada tugas ke Polres Malang. Namun waktu libur ini juga diatur bergantian. Tetapi ketika ada kejadian menonjol, maka kapanpun harus siap berangkat. Karena motto kami, personil kurang tetapi kerja harus maksimal. Jangan dijadikan kekurangan, menjadi kelemahan. Semuanya harus semangat, karena ini adalah tugas dan kewajiban yang harus dijalani sebagai anggota Satpolair,” beber bapak tiga putri, warga asli Sawojajar Kota Malang ini.(agp/ary)