Masuk Delegasi Indonesia di WorldSkills Sao Paulo Brasil

Dealonicha Andini Trisnawati, delegasi Indonesia dalam kompetisi desain grafis internasional di Brazil tahun ini

Dealonicha Andini Trisnawati, Desain Grafis Muda Asal Tlogomas
Bakat Dealonicha Andini Trisnawati dalam bidang desain memang tak diragukan lagi. Sejak masuk dalam kelas multimedia di SMK PGRI 3 Malang, bakatnya mulai nampak. Bulan Agustus mendatang, Dea sapaan akrabnya, turut masuk dalam delegasi Indonesia di kompetisi desain grafis internasional di Sao Paolo Brasil.

Menjadi delegasi dalam ajang internasional memang tak mudah. Selain ketekunan, bakat juga sangat dibutuhkan. Itu juga rupanya yang mendukung Dea menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam kompetisi Internasional WorldSkills 2015 di Anhembi Park, São Paulo, Brasil 11 hingga 16 Agustus mendatang.
WorldSkills sendiri dalam website resminya menyatakan dirinya adalah sebuah asosiasi non profit yang terbuka untuk institusi atau lembaga yang ingin mempromosikan pendidikan vokasi dan melakukan pelatihan di negara atau wilayahnya. Dalam periode dua tahun sekali, Worldskill mengadakan skill competition sebagai promosi keahlian anak muda dari seluruh penjuru dunia.
Khusus untuk kompetisi kali ini, kompetisi diikuti oleh 1.230 peserta dari 60 negara dengan 50 bidang keahlian yang dilombakan. Indonesia sendiri telah memilih 33 delegasi, salah satunya tercantum nama Dea. Gadis yang berdomisili di Tlogomas, Malang ini didaulat untuk mewakili Indonesia dalam bidang Graphic Design Technology.
Gadis kelahiran Malang ini tengah menjalani proses training dan karantina di Jakarta di bawah naungan Binus University hingga kompetisi usai dilaksanakan. Karantina berjalan ketat karena Dea harus bersaing dengan peserta dari negara lain.
“Kebetulan, untuk wilayah Indonesia, yang ikut dalam worldskills adalah Binus University,” ungkap Iva Khususia, Amd., SSn., Pembina Dea dalam Lomba Kreativitas Siswa (LKS) dari tingkat kota ke tingkat nasional.
Posisi Dea menjadi delegasi kehormatan Indonesia ini menurut Iva memang didapatkan dari LKS tingkat kota. Saat itu, Iva mengaku mengetahui bakat Dea dari goresan pen tablet yang ia buat dalam pelajaran mendesain.
”Ketahuannya saat Dea nggambar di pen tablet. Kan pembelajaran di SMK PGRI 3 ini kan menggunakan tablet. Pas Dea nggambar kok hasilnya bagus, akhirnya kami ikutkan dalam LKS kota dan menang,” urai Iva.
Bakat itupun kemudian dikembangkan oleh Iva hingga sukses menjuarai LKS nasional di palembang tahun lalu. Dalam kompetisi LKS nasional itu, Dea telah memenangkan prosesi tes teori hingga praktek membuat desain produk earphone yang girly dan sporty juga untuk tema cool. Tak hanya desain produk, Dea juga dituntut untuk membuat desain poster ajakan membaca untuk ibu dan anak-anak.
”Di awal kompetisi, Dea ikut tes teori dulu baru praktik membuat desain menggunakan corel draw. Nanti untuk kompetisi Worldskills, Dea harus mengoperasikan program Adobe Illustrator yang sudah kami latih sebelumnya,” papar dosen jurusan multimedia di SMK PGRI 3 tersebut.
Sedangkan, dalam masa karantina di Jakarta tersebut, Dea mengaku, jadwalnya sangat padat. Ia harus mengikuti pelatihan oleh Binus University sejak pagi hingga sore hari. Dalam training itu, selain belajar teori, ia juga harus banyak-banyak berlatih mengoperasikan aplikasi desain.
”Malamnya pun saya masih harus berlatih mengerjakan soal teroritis. Bisanya mulai habis magrib sampai jam 9 malam,” tutur alumni MTs Muhammadiyah 1 Malang tersebut.
Dihubungi Malang Post melalui sambungan telepon, anak pertama dari 3 bersaudara ini mengaku telah memiliki bakat menggambar sejak kecil. Bahkan ia menceritakan, semasa menginjak usia 5 tahun, ia mampu mengisi penuh satu buku gambar dengan goresan-goresan tangan munglnya dalam sehari.
”Saat buku gambar saya habis, saya cari media lain untuk menggambar. Saya coret-coret tembok rumah saya seperti halnya kanvas,” tandas gadis yang lahir pada 27 Agustus 1996 tersebut.
Saat berada di bangku TK, Dea juga menyatakan bahwa dia selalu mendapatkan nilai yang baik dalam pelajaran menggambar. Ia sering memperhatikan keadaan sekitarnya seperti kolam renang, ayunan dan lain-lain untuk bisa diwujudkan di atas kertas.
Bakat Dea kian terasah saat berada di bangku Madrasah Tsanawiyah. Dea mengaku,  semasa Mts, ia beberapa kali memenangkan lomba menggambar di sekolah.
”Saya juga terpilih menjadi ketua mading di sekolah. Saat itu, saya mulai aktif mengikuti kompetisi tingkat kota seperti lomba cipta karya puisi, lomba kaligrafi, lomba poster dan lain-lain,” pungkas putri Sutrisno yang juga memiliki hobi menulis tersebut.(Nunung Nasikhah)