Catatan Perjalanan Umroh Bersama Abah Anton (2)

Geliat pembangunan perluasan Masjidil Haram di Makkatul Mukarromah dan Masjid Nabawi di Madinatul Munawwaroh terus dikebut, seiring dengan waktu pelaksanaan ibadah haji yang semakin dekat, yakni sekitar Agustus 2015 mendatang. Berikut catatan Wartawan Malang Post, Mahmudi yang mengikuti rombongan umroh bersama Abah Anton Wali Kota Malang beberapa hari lalu.

Cuaca yang cukup panas hingga mencapai 47 derajat celcius di Madinah, dan 42 derajat celcius di Makkah tidak mengurangi semangat para pekerja yang sedang melakukan pekerjaan perluasan pelataran Masjid Nabawi dan perluasan Masjidil Haram. ‘’Mereka bekerja siang malam dengan sistem shift. Hanya berhenti ketika waktu-waktu salat saja,’’ kata Ustadz H. Ahmad Jamaluddin, muthawif Agung Wisata yang mendampingi rombongan umroh bersama Abah Anton.
Dari pengamatan di lapangan, beberapa sisi bangunan perluasan di Masjidil Haram sudah mulai finishing, utamanya menuju King Fahad Gate. ’’Insyaallah pada musim haji tahun ini perluasan Masjidil Haram sudah bisa dipergunakan dan dinikmati jamaah haji,’’ ujar Ustadz Jamaluddin, yang sudah hampir 9 tahun menetap di Makkah.
Menurutnya, proyek Akbar perluasan Masjidil Haram itu dimulai sekitar Agustus 2011 lalu, Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz meletakkan batu pertama dimulainya proyek akbar tersebut. ’’Yang membanggakan, saat ini banyak orang-orang Indonesia ikut andil dalam pekerjaan pembangunan tersebut. Ya itu mungkin karena ada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Waskita Karya Tbk yang menjadi subkontraktor bersama Saudi Bin Ladin Group dalam renovasi di Makkah dan proyek perluasan Masjid Nabawi, di Madinah,’’ tambah pria asal Pamekasan Madura ini.
Hanya saja, meski perluasan Masjidil Haram ini bisa dinikmati jamaah haji, namun tempat thawaf sementara yang berlantai 3 tidak akan dibongkar dan tetap dipergunakan untuk thawaf jamaah.
Dikatakan Ustadz Jamal, panggilan akrab Ahmad Jamaluddin, perluasan akan menambah areal masjid menjadi seluas 400.000 meter persegi. Hal ini membuat daya tampung Masjidil Haram bertambah menjadi 1,2 juta orang. Perluasan Masjidil Haram akan meningkatkan kapasitas Masjidil Haram, baik itu ruang ibadah maupun ruang terbuka. Perluasan juga akan mengurangi kepadatan jamaah haji, saat melakukan ibadah di sekitar Masjidil Haram.
Kepada jamaah umroh yang tergabung dalam PT Agung Wisata, penyelenggara ibadah haji dan umroh, Ustadz Jamal bercerita jika perluasan tersebut juga akan dilakukan dengan menghubungkan pintu keluar Masjidil Haram dengan Mas’aa, yang merupakan jalur Sai (lari kecil) antara Safa dan Marwah, dengan serangkaian jembatan. Sejumlah penyejuk ruangan dan tangga berjalan juga akan dipasang.
Dikabarkan proyek Akbar tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran 40 miliar Real Saudi atau sekitar Rp 91 Triliun. Sistem pembangunan menggunakan tenaga mekanik dan sistem elektrik paling mutakhir. ’’Insyaallah pada musim haji tahun ini, perluasan Masjidil Haram sudah bisa dipergunakan meski belum 100 persen. Tapi paling tidak sudah bisa dimanfaatkan jamaah haji,’’ ujar H Sulaiman, asal Cilacap yang mengaku sudah dua tahun ini ikut dalam proyek pembangunan perluasan Masjidil Haram bersama PT Waskita Karya Tbk.
Seperti dilansir Gulf News, Ketua Umum Urusan Dua Masjid Suci Sheikh Abdul Rahman As-Sudais, yang bertanggung jawab atas Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, menyatakan pekerjaan pembongkaran yang sedang berlangsung terkait perluasan mataf atau tempat tawaf di sekeliling Ka’bah sejauh ini telah mencapai 70 persen dari seluruh pekerjaan.
Selain perluasan Masjidil Haram, Raja Abdullah juga membuka Makkah Royal Clock Tower, yang merupakan menara jam tertinggi di dunia. Di puncak menara juga berlapis emas. Makkah Clock Tower ini memiliki tinggi 601 meter, dan terlihat menjulang dari Masjidil Haram. Bangunan menara ini juga diproyeksikan menjadi bangunan tertinggi kedua dunia, setelah Burj Khalifa di Dubai. Menara jam ini sebesar enam kali dari Big Ben di London. Dengan bahan dari teknologi mutakhir yang digunakan di industri pesawat ulang-alik, jam ini kini menjadi patokan waktu alternatif selain GMT (Greenwich Mean Time).
Proyek terbaru yang tengah dimatangkan adalah pembangunan 60 ribu tenda tahan api dengan biaya 2 miliar riyal (sekitar Rp 5,5 triliun). Proyek ini ditargetkan rampung dalam tahun ke depan. "Proyek ini bagian dari memberi layanan terbaik bagi jamaah," kata Habib Zain Al-Abideen, deputi Menteri Pekerjaan Umum Arab Saudi.
Seluruh biaya proyek perluasan itu mencapai 12,6 miliar riyal. Ini sudah termasuk proyek transportasi kereta api yang akan menjangkau maktab-maktab jamaah terjauh yang ditaksir menelan 5 miliar riyal dan pembangunan terowongan terkoneksi antara Mina, Muzdalifah dan Arafat yang juga menghabiskan 5 miliar riyal. Pekerjaan yang dikebut dan harus selesai tahun ini adalah penambahan tenda bagi 30 ribu jamaah di Mina. Pemerintah Saudi akan menyiapkan bukit-bukit baru di Arafat bagi tenda-tenda tersebut. (bersambung)