Keliling Klub Malam di Indonesia, Miliki Album Nagaswara

DJ Abaz saat manggung di My Place beberapa waktu lalu, wanti-wanti agar DJ tak pakai narkoba.

Abaz, DJ Senior Malang, Tiga Dekade Guncang Pesta
Abaz, resident DJ My Place, sudah menancapkan namanya sebagai salah satu DJ paling senior di Indonesia. Selama 29 tahun atau hampir tiga dekade terakhir, pekerjaannya adalah menghentak klub-klub malam lewat permainan DJ-nya. Heryanto, nama aslinya, membagi cerita perjalanan panjang serta liku karirnya dalam profesi yang kerap dekat dengan miras, narkoba dan wanita.
Disc Jockey (DJ) makin populer sejak ledakan Electro Dance Music (EDM) di seluruh dunia. Padahal, sebelum EDM mendunia, musik yang dimainkan DJ, hanya terbatas di klub-klub malam dan private party para kaum jetset. Masa-masa keemasan DJ pun seperti sudah lewat.
Musik electro, trance, progressive house hingga techno pun tak lagi jadi konsumsi penghobi dugem saja. Pendengar EDM, kini makin meluas. Sekarang, tak perlu lagi datang ke klub untuk menikmati musik yang begitu kental dengan pesta dan gemerlap malam.
Para penikmatnya, cukup membuka Youtube hingga download dari Soundcloud untuk menambah perbendaharaan lagu EDM.  Setali tiga uang, perkembangan EDM, membuat profesi DJ makin populer dan makin diminati. Meski demikian, situasi ini tak merontokkan eksistensi salah satu DJ legendaris Malang, Abaz, atau Heryanto.
Memasuki usianya yang sudah 48 tahun, Abaz masih tetap aktif menekuni profesi DJ. Makin banyak DJ muda yang bermunculan, tapi semangat Abaz tak juga sirna. Raut wajah Abaz pun, terlihat sumringah ketika Malang Post menyambangi kediamannya di Permata Jingga, siang kemarin.
Abaz pun menceritakan, dia sudah menekuni profesi DJ sejak tahun 1986. “Tahun 86 saya pertama belajar DJ. Tahun-tahun itu juga, keliling Indonesia. Dari Bogor, Jakarta, Makassar atau Ujung Pandang hingga Medan. Lalu, masuk tahun 1989 saya datang ke Malang. Saya ketemu jodoh dan kecantol di sini,” urai Abaz.
Sejak tiba tahun 1989, Abaz yang bertemu Elly, istrinya sekarang, langsung menetap di Malang. Dari situ, dia terus bermain di klub-klub malam, seperti NASA (Malang Plasa), Kanevora (Margosuko), Basement, My Place lama, hingga Laguna (Plaosan).
“Belasan tahun saya jadi resident di klub-klub. Saya tidak pernah resign tanpa alasan dan selalu long time kalau jadi resident DJ. Tahun 90-an saya resign dari NASA karena ditutup. Saya resign dari Basement karena klubnya kebakaran,” jelas bapak dua anak tersebut.
Medio 2000-an, nama Abaz makin meroket. Dia pun dilirik oleh label Nagaswara untuk memproduksi lagu. Merasa dapat lahan untuk memperluas kreativitasnya, resident DJ di new My Place ini, Abaz melebarkan sayapnya. Dari label Nagaswara, Abaz menelurkan tiga albumnya sendiri.
“Saya luncurkan tiga album saya sendiri. Kalau kompilasi album, bisa mencapai puluhan. Setelah satu tahun gabung Nagaswara, saya pindah label ke Suara Mega Mandiri (SMM) dan keluarkan tiga album pribadi juga,” tambah pria yang kini mengoleksi enam album miliknya sendiri itu.
Sejak meroket lewat album, Abaz makin sering dapat job luar kota. Menurut pria yang menggemari musik multi-genre ini, albumnya terjual di seluruh Indonesia. Sehingga, tawaran untuk main di klub luar kota dan luar pulau pun bertambah. Ia sudah berkeliling Indonesia, sembari menekuni hobinya bermain DJ.
“Pekerjaan terbaik yaitu hobi yang dibayar. Setelah rilis album, banyak tawaran manggung. Mulai Medan, Bandung, Jakarta, Purwokerto, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, hingga Palangkaraya,” kata pria yang menikah pada 1996 tersebut.
Abaz sudah merasakan puncak tertinggi karir sebagai DJ, hingga jurang terdalam gelapnya dunia malam. Ia pun pernah menjadi langganan private party di Malang. Setelah pesta di klub bubar, ada tamu yang memintanya untuk manggung di rumahnya.
“Ada istilah ‘lanjut’. Meski klub sudah tutup, tamu membayar saya untuk tetap main di rumahnya. Pesta sampai matahari terbit. Itu sudah pernah saya alami. Apalagi, miras, wanita dan obat-obatan. Itu juga ada masanya,” sambung pria yang menggemari Armin Van Buuren, DJ internasional asal Belanda ini.
Abaz tidak menampik, bahwa pada awal karirnya sebagai DJ, pernah tersandung obat-obatan dan wanita. Namun, seiring perjalanan waktu, dia bisa meninggalkan semua itu. Pernikahannya pada tahun 1996 sangat membantunya untuk lepas dari star syndrome, yang membuatnya terjerembab di dunia gelap.
“Saya sudah lepas dari semua itu, seiring berjalannya waktu, terutama setelah menikah. Hanya, saat bujang, saya memang nakal. Itu tidak lepas dari star syndrome. Soalnya, DJ itu adalah artis di klub malam. Cewek pun datang sendiri,” lanjutnya.
Menurut Abaz, DJ yang baru naik daun, paling rawan bersentuhan dengan narkoba dan wanita. Karena star syndrome tersebut, DJ merasa jadi artis, sehingga merasa perlu menjaga pergaulan, lewat narkoba dan wanita. Namun, hal tersebut pudar, dengan bertambahnya usia.
Ia menyebut, owner klub malam tidak mau ambil resiko mengorbankan citranya hanya demi beberapa orang yang mencari popularitas lewat narkoba. Karena itu, hampir semua pemilik klub pun menerapkan aturan no drugs atau melarang narkoba agar aman dari razia.
“Kalau sekarang ada DJ yang makai narkoba hanya untuk pergaulan di klub malam, itu adalah orang paling bodoh dan konyol. Soalnya, pemerintah sendiri kan sekarang ketat menjaga klub malam bebas narkoba, belum lagi ownernya,” tutup Abaz.(fino yudistira/ary)