Kisah Perempuan Pengepul Batu Akik Asal Malang

Demam batu akik sekarang ini sudah menggila. Tak hanya kaum adam, demam ini juga melandan kaum hawa. Mereka ikut menggandrungi. Bahkan, rela menukar batu akik dengan mobil ! Yulia, perempuan muda asal Kedungpedaringan Kepanjen ini salah satu buktinya.

Booming batu akik, dijadikannya sebagai momen untuk membuka bisnis baru. Ia menjadi pengepul batu akik di Malang Raya. Beragam jenis batu, dimiliki untuk dijual di pasaran.
“Awalnya saya hanya iseng saja. Karena sebelumnya tidak ada niatan untuk menjadi pengepul batu akik. Namun setelah lambat laun berjalan, bisnis batu akik ini sangat bagus,” ungkap Yulia.
Bisnis pengepul batu akik ini, sudah berjalan tiga bulan lalu saat batu akik mulai ramai dibicarakan. Awalnya dilakukan secara tidak sengaja. Saat itu, Yuli, sapaan akrabnya berniat menjual mobil sedan lawas merek Cruiser. Niatan awalnya, untuk ditukar dengan mobil jenis terbaru.
Ia menjualnya lewat seorang makelar mobil. Oleh makelar, mobil tersebut ditawarkan kepada seorang pembeli asal Kediri. Mobil tersebut ditawar dengan harga Rp 40 juta.
Namun pembayarannya tidak berupa uang. Sebaliknya, Yuli ditawari dengan dibayar batu bongkahan akik. “Kebetulan saat itu pembeli mobil asal Kediri, adalah pengepul batu akik besar di wilayah Kediri dan Jawa Timur,” ujarnya.
Saat ditawari, Yuli tidak langsung menerima. Ia berpikir dan berkonsultasi dengan temannya. Karena saat itu batu akik mulai ramai dan menjadi buruan masyarakat, akhirnya Yuli bersedia. Namun tidak semuanya, hanya Rp 30 juta dari harga mobil yang dirupakan batu. Sedangkan selisihnya Rp 10 juta diterima tunai.
“Waktu itu saya mendapatkan batu akik sebanyak dua mobil pick up,” tutur ibu satu anak ini. Begitu dibawa pulang, ia langsung mulai mencoba memasarkan batu akik. Awalnya dijual di depan kios miliknya di sekitar Stadion Kanjuruhan Kepanjen.
Selama sepekan ternyata, batu akik miliknya laris manis. Banyak masyarakat yang gandrung dengan batunya. Wanita asal Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang inipun, akhirnya berpikir untuk mengembangkan bisnisnya. Ia mulai membuka beberapa cabang di beberapa tempat di Malang Raya.
“Kalau tidak salah sudah ada sekitar 20 agen yang tersebar. Tidak hanya di Kabupaten Malang, di Kota Malang pun juga terdapat agen saya. Sistemnya, para agen ini mengambil dan menyetor,” katanya.
Tidak mudah untuk bisa bertemu dengan perempuan berusia 30 tahun ini. Malang Post yang ingin menemuinya, harus janjian terlebih dahulu karena terhalang kesibukannya. Namun demikian, begitu waktu ditentukan, Yuli sapaan akrabnya
Karena banyaknya minat pembeli, serta habisnya stok batu miliknya, Yuli pun mencari tambahan modal untuk menambah batu akiknya. Ia mencari pinjaman kepada temannya. Kemudian dengan modal kepercayaan, Yuli diberikan pinjaman lima mobil seperti truk diesel dan mobil Kijang. Semua mobil itu kemudian ditukarkan dengan batu akik.
“Total kalau diuangkan nilainya sekitar Rp 300 juta dari enam mobil itu. Saya mendapatkan batu akik sebanyak 13 ton. Alhamdulillah, selama tiga bulan ini modal saya sudah separoh yang kembali,” tutur perempuan berjilbab ini.
Jenis-jenis batu yang dimilikinya, tidak hanya batu dari Malang. Tetapi juga batu akik dari luar pulau, seperti Sumatera (panca warna, yaman, badar lumut dan sungai dare serta bulu kera), Kalimantan (kecubung teh) dan Sulawesi (lavender dan kecubung karang).
Harganya batu bongkahannya mulai dari Rp 5 ribu sampai ratusan ribu. Omset pendapatan kotor setiap hari yang didapatkannya adalah Rp 800 ribu sampai Rp 2 juta. “Saya berencana untuk pergi ke Sumatera atau Kalimantan sendiri, untuk mencari batu bongkahan sendiri dan dijual di Malang,” ucap perempuan berparas manis ini.
Bagaimana jika batu akik sudah tidak lagi ramai di pasaran ? Yuli mengaku tidak begitu resah. Karena nantinya batu akik tersebut juga akan dibuat kerajinan, yang bisa menjadi oleh-oleh khas Malang.
“Sekarang ini saja, saya juga membuat batu bongkahan itu menjadi batu akik. Tetapi pengerjaannya malam dan dikerjakan oleh pegawai saya. Pengerjaannya di agen pusat di kios sekitar Stadion Kanjuruhan. Sedangkan untuk gudangnya di Kecamatan Ngajum,” paparnya.(agung priyo/ary)