Rumah Sakit di Sengkaling Rujukan Pecandu Narkoba

NAMA Hayunanto Medical Center (HMC) akhir-akhir ini kian banyak dibicarakan oleh masyarakat. Pasalnya, rumah sakit  di jalan raya Sengkaling Kabupaten Malang ini telah direkomendasikan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai tempat rujukan untuk para pecandu narkoba. Bagaimana model perawatan dan fisilitas apa saja tersedia di HMC?


Terlihat dari luar, HMC tidak seperti rumah sakit pada umumnya. Bahkan bagian depan gedung ini pun tidak nampak sebagai bangunan rumah sakit. Itu karena bagian depannya memiliki konsep minimalis. Menariknya,  di RS ini juga tidak terpasang tanda plus seperti di rumah sakit lain. Termasuk di bagian lobi. Meja kursi tertata rapi dengan konsep minimalis. Memang di bagian lobi ini ada apotek serta tempat informasi. Tapi karena tatanannya  sangat rapi, sehingga sama sekali tidak mengesankan jika ini adalah rumah sakit.
“Kenapa?  Suasananya  disini berbeda ya?,” sapa akrab  Aan Widodo  kepada  Malang Post.Pria yang menjabat sebagai Kepala Bidang Operasional HMC ini pun mengatakan, jika gedung ini sengaja di konsep seperti itu. Alasannya adalah, agar masyarakat tidak memiliki pemikiran negatif, terkait RS yang khusus menangani masalah terapi mental dan narkoba.
“Kami memang memberikan ruangan nyaman bagi siapa saja yang berkunjung. Dengan ruangan  nyaman, akan membantu penyembuhan kejiwaan atau mental seseorang,’’ tambah Aan. Dia pun membawa Malang Post menuju bagian belakang rumah sakit. Seperti dibagian depan, di bagian belakang ini juga sama sekali tidak mirip dengan rumah sakit  pada umumnya. Di atas tanah seluas 1 hektar tersebut, dibagun beberapa ruangan, dan di tengahnya ada gazebo. Di bagian belakang ini juga terasa sangat sejuk. Karena banyak pohon rindang tertanam. Dua gazebo memberikan tempat ini lebih nyaman dibanding dengan RS lain pada umumnya.
“Ada gedung untuk pasien rawat inap. Termasuk pecandu narkoba yang masuk sini dan harus menjalani rawat inap mereka di rawat disana,’’ katanya menujukkan salah satu ruang untuk rawat inap. Seperti dibagian depan, ruangan untuk menginap pecandu narkoba itu tidak mirip dengan rumah sakit, tapi justru mirip hotel berbintang.
Sesuai kelas, satu ruangan dilengkapi dengan kamar tidur, sofa, lemari dan kamar mandi di bagian dalam kamar. “Ya beginilah. Ruangan ini didesain senyaman mungkin untuk para pecandu narkoba. Pertama mereka tidak diasingkan, mereka tetap nyaman, sambil menjalani pengobatan dan terapi medis untuk penyembuhan ketergantuannya pada narkoba,’’ tambah Aan.
Pria bertubuh kurus inipun menjelaskan detail perawatan untuk para pecandu narkoba. Para pecandu narkoba yang datang, umumnya sudah lebih dulu diassessment oleh tim dari BNN. Hasil assesment inilah yang memutuskan apakah pecandu tersebut di rawat inap atau tidak. “Seperti dua pecandu  yang baru-baru ini telah diamankan BNN Kota Malang. Keduanya di assessment lebih dulu, sebelum dibawa ke sini. Dari hasil itulah, tim medis memutuskan jika keduanya wajib rawat inap,’’ katanya.
Saat masuk pertama, para pecandu tidak lagi di tes urine. Tapi langsung melakukan pengobatan, dengan cara detoxinasi. Dengan obat yang ditentukan, tim medis akan melakukan detoxinasi kepada pasien guna mengeluarkan seluruh racun dan pengaruh obat di dalam tubuh. Detoksinasi dilakukan tidak hanya sekali, tapi beberapa kali, tergantung seberapa banyak racun ada di tubuh pasien.
“Perlu digaris bawahi, detoksinasi ini hanya untuk melunturkan racun atau pengaruh narkoba di tubuh pecandu. Tapi untuk menyembuhkan pecandu dari ketergantungan obat, adalah merubah pola pikir mereka. Ini yang sulit,’’ katanya.
Berbagai terapi pun diberikan para pecandu.  Atau disebut Complete Reality Therapy (Comrety). Terapi ini diberikan oleh tenaga profesional, dengan metode yang inovatif. “Macam-macam terapinya. Intinya, semua terapi yang diberikan adalah mengubah pola pikir mereka tentang narkoba. Yang sebelumnya menggunakan narkoba enak, pola pikir itu dirubah, yaitu menggunakan narkoba sangat berbahaya,’’ tambah Aan, yang mengatakan untuk pasien narkoba ditangani tim khusus, yaitu dua dokter spesialis dan tiga dokter umum.
Dalam terapi itu, di dalamnya terdapat konseling. Konseling ini menjadi dasar, tim medis menentukan apakah pola pikir pasien tersebut telah berubah atau tidak. Dan pasien juga melakukan sharing. “Disini untuk bisa sembuh harus terbuka. Karena dengan keterbukaan akan memudahkan penyembuhan,’’ katanya. Sementara untu pecandu yang dirujuk oleh BNN mendapat waktu pengobatan selama dua minggu sampai dengan satu bulan.
“Aktifitasnya normal saja, pagi mereka yang muslim melakukan salat, lalu olahraga, mandi,  makan lalu terapi, ada juga sesi sharing. Begitu saja. Kalau pasien harus minum obat yang mereka disediakan obat. Intinya secara fisik mereka sehat, dan yang disembuhkan adalah mentalnya,’’ urainya, sembari mengatakan kegiatan lain saat terapi adalah Barrier Breaking, kegiatan grup, atau kegiatan-kegiatan lain.
Para pasien ini diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Pihak HMC akan mengembalikan pasien kepada BNN setelah proses terapi selesai.
Aan juga menyatakan  bahwa tidak semua pecandu sukses diterapi. Ada beberapa yang kembali. Secara umum, mereka yang kembali karena pergaulan. “Orang terpengaruh narkoba itu ada tiga masalahnya, lingkungan keluarga, pergaulan dan punya uang. Meski pecandu diterapi banyak kali, tapi pergaulannya tidak berubah di dukung dengan lingkungan keluarga yang tidak nyaman, besar kemungkinan mereka akan kembali mengkonsumsi,’’ katanya.
Selama memberikan terapi pada para pecandu, pihak HMC sama sekali tidak kesulitan. Bahkan, saat menangani pasien yang sakau, tim medis dengan sangat profesional menanganinya. “Semua pasien disini ditangani secara profesional. Mereka ada di belakang, dan pintu gerbang ini berlapis dua, semuanya harus terkunci. Para pecandu dilarang merokok, membawa ponsel, dan menerima tamu sembarangan,’’ tandas Aan.(ira ravika/nug)