Suyitno, Penyelamat Lahan Kritis Kabupaten Malang

LAHAN seluas 500 hektare (ha) di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, dulunya merupakan lahan kritis, tandus dan gersang. Namun, lahan kritis di desa tersebut, saat ini hanya tinggal dua hektare. Itu berkat kerja keras dari Poktan Sumber Rejeki yang diketuai Suyitno, sejak tahun 2003 lalu berkomitmen mengurangi luas lahan kritis tersebut.

Kondisi tanah di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, selama ini dikenal tandus dan gersang. Karena terdapat banyak bebatuan dan kapur yang ada di tanah tersebut. Hal itu, diperparah dengan aksi pembalakan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Sehingga, lahan di tempat itu, sulit untuk ditanami tumbuhan hijau.
Prihatin akan kondisi itu, membuat Ketua Poktan Sumber Rejeki, Suyitno, mencari solusinya. Pada tahun 2003 yang lalu, dia mempunyai inovasi untuk menyuburkan lahan kritis tersebut. Media yang digunakan, yakni keranjang anyaman bambu (besek, Red) yang sudah tidak dipakai. Kemudian, besek itu diisi dengan tanah dan pasir.
Setelah itu, besek tersebut diberi bibit pohon sengon dan air secukupnya. “Lantas saya taruh di lahan yang kritis itu,” kata Ketua Poktan Sumber Rejeki, Suyitno, kepada Malang Post, ditemui usai peringatan Hari Lingkungan Hidup se Dunia.
Besek berisi tanah, pasir dan bibit sengon itu, sengaja dia taruh di lahan yang kritis.  Karena, akar dari bibit sengon itu, ternyata bisa menembus tanah tandus dan gersang. Sukses melakukan inovasi itu, dia akhirnya memperbanyak membuat besek berisi pohon sengon itu. Seiring berjalannya waktu, besek bibit sengon itu jumlahnya teru bertambah.
“Karena besek itu, terbuat dari bambu. Sedangkan bambu itu, memang baik untuk tanah. Apalagi saya mencampurinya dengan tanah dan pasir, sehingga mempercepat penyuburan di lahan yang kritis tersebut,” paparnya.
Menurutnya, akar dari bibit pohon sengon yang ada di dalam besek itu, terus berkembang di dalam tanah. Sehingga, membuat lahan semakin subur dan dapat menyimpan air hujan dengan mudah. Sebelumnya, air hujan yang ada di lahan kritis itu, tidak bisa tersimpan dengan baik. Karena terbuang begitu saja ke sungai terdekat. “Melalui cara ini, jumlah sumber air menjadi bertambah. Dulunya hanya lima, sekarang ada 18 sumber air,” tuturnya.
Dalam upaya melakukan penyelamatan lahan kritis itu, dia tidak bekerja sendirian. Melainkan dibantu dengan anggota yang berada di bawah naungan Poktan Sumber Rejeki. Selama tahun 2003, poktan tersebut berkonsentrasi menyelamatkan lingkungan. Usaha itu, supaya menjaga agar lahan di tempat tersebut, menjadi subur.
Karena bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar, untuk menjalankan aktivitas pertanian dan pemanfaatan hutan produksi. “Kalau lahan tandus, petani di sini tidak bisa menanam apa-apa. Sedangkan bila lahan subur, para petani semakin makmur,” tuturnya. Akibat kesuksesannya mengolah lahan kritis itu, penghargaan tingkat nasional menghampirinya.
Yakni meraih penghargaan sebagai nominator Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan. Penghargaan diserahkan pada malam Anugerah Lingkungan di Jakarta, oleh Menteri Lingkungan Hidup, Dr Ir Siti Nurbaya M.Sc, Jumat (5/6) lalu.
Sedangkan di Kabupaten Malang, kesuksesannya itu, mendapat apresiasi dari Bupati Malang, H Rendra Kresna. Orang nomor satu di lingkungan Pemkab Malang ini, memberikan penghargaan kepada Suyitno, saat puncak, peringatan Hari Lingkungan Hidup se Dunia, di Rest Area Donowarih, Kecamatan Karangploso, akhir pekan kemarin.
Kegembiraan terpancar dari wajahnya, ketika mendapatkan penghargaan dari Bupati Malang, H Rendra Kresna tersebut. “Tahun 2003 yang lalu, terdapat 500 hektar luas lahan yang kritis. Alhamdulillah hingga sekarang, tersisa dua hektare, lahan kritis yang ada di desa kami,” paparnya.
Melalui kiprahnya itu, dia berharap bisa ditiru oleh petani maupun masyarakat lainnya. Utamanya, dalam hal pelestarian lingkungan. Karena menurutnya, dengan kondisi lingkungan yang terjaga, maka akan membuat masyarakat sejahtera. Selain itu, juga mewariskan kondisi bumi yang berkualitas, bagi generasi penerus.(Binar Gumilang/ary)