Miliki Sekopor Alat yang Pacu Kreatifitas Anak

Keceriaan dan kegembiraan anak-anak tak harus dari mainan yang mahal. Buktinya lewat sekopor buku dan alat tulis, komunitas Nandvr Dvlvr (dari kata Nandur Dulur, Red) bisa menyebarkan virus kreatifitas. Setiap Hari Minggu, sekelompok anak muda kreatif, meluangkan waktunya di Merbabu Family Park untuk menghibur anak-anak.

Nandur dalam bahasa Jawa memiliki arti menanam. Sementara ‘dulur’ memiliki arti saudara. Ketika dua kata ini digabungkan, memiliki arti menanam persaudaraan, sesuai pula dengan tujuan dari  kelompok yang bermula pada Oktober 2014 lalu. Sejatinya, namanya pun Nandur Dulur. Ketika membuat poster dengan manual dan memanfaatkan selotip, huruf ‘U’ diakui susah dan terpaksa tertulis ‘V’ yang justru kini menjadi nama kelompok ini.
 Anak-anak muda yang terdiri dari Lintang Kertoamiprodjo, Nadia Agustina Putri Altari, Didi Painsugar, Arief Puji, Rio Krisma dan Agnes Denok ini memiliki gagasan untuk membangun keceriaan di salah satu taman kota Malang tersebut. “Banyak anak bermain bersama keluarga disana. Kami coba berbagi keceriaan bersama mereka,” ujar salah satu anggota Nandvr Dvlvr, Lintang Kertoamiprodjo.
Dia mengungkapkan, taman kota yang berisi anak-anak harus tetap ceria, begitu pula orang tua. Akan lebih bahagia, bila ternyata kebahagiaan ini tidak dirasakan oleh satu keluarga saja. “Bila liburan satu keluarga di taman, pulang ya sudah, tidak ada yang berkesan. Sayang sekali kan hari libur hanya untuk demikian,” paparnya ketika berbincang dengan Malang Post, beberapa waktu lalu.
 Lintang menyampaikan, kebetulan dia dan teman-temannya yang bersama mendirikan Nandvr Dvlvr, merasakan hal yang sama. Mereka menginginkan sesuatu yang berbeda yang ingin dibagikan, ditunjang dengan kreativitas yang bisa anak-anak ini kerjakan. “Kami coba memulai dengan keahlian yang ada, misalnya menggambar, bernyanyi, bermain musik,” tambahnya.
 Alhasil, pertengahan Oktober, Nandvr Dvlvr pertama kali menggelar perkumpulan pertama kali. Tidak banyak yang tertarik waktu itu, hanya beberapa saja. Mungkin, banyak yang mengira itu acara pribadi yang tidak bisa diikuti.
 Namun perlahan, pengunjung taman Merbabu tertarik. Satu dua anak memberanikan diri mendekat dan bertanya. Sesekali, anak kecil yang datang lari lagi sebelum bertanya. “Ya memang awalnya mungkin mereka takut karena tidak mengenal. Seiring berjalannya waktu, yang setiap minggu datang pasti mulai mengetahui kami,” beber pria yang berambut gondrong ini.
Menurut dia, pada akhirnya sang anak pun tidak takut. Ada yang berani meminta gambar untuk mewarnai, ada yang melukis dan ada pula yang minta diajari menyanyi. Sebisanya, sang anak ini berkomunikasi dengan kakak-kakak Nandvr Dvlvr. Meskipun hanya satu dua patah kata, pada akhirnya sang anak berani berkomunikasi, dengan orang yang pertama kali dikenal.
“Itu yang menjadi tujuan kami. Mengajak mereka berkomunikasi dengan teman-teman. Tidak hanya dengan keluarga, atau dunianya sendiri. Yang menyedihkan, sekarang banyak anak yang sibuk dengan dunia gadget sampai lupa sekitar. Padahal dunia anak ini sangat menyenangkan,” papar Lintang.
Pria yang piawai bermain gitar ini pun mengakui, setelah beberapa kali ‘membuka lapak’, jumlah anak yang ingin belajar semakin banyak. Dari awal yang bisa dihitung dengan jari, kini tidak jarang seperti satu atau dua kelas pelajar. Belum lagi ditambah dengan sang orang tua. Semakin banyak anak, maka semakin bagus pula menumbuhkan keinginan berkomunikasi.
Menurut pengakuannya, kegiatan yang dilakukan dan membuat anak kreatif seperti melukis. Sang anak bebas melukis apa yang mereka pikirkan. Kegiatan lain, seperti membuat pot, memanfaatkan barang bekas hingga belajar bercerita melalui wayang yang terbuat dari kertas.
“Anak-anak pertama melihat kakak-kakak bercerita. Setelah itu, mereka bercerita sendiri, jadi dalang sendiri. Lucu, improvisasinya ada dan kadang membuat audiens yang seumuran tertawa. Sementara kami, pasti bangga,” urai dia panjang lebar.
Menurutnya, sang anak dibiarkan bebas berkreasi untuk mengatur jalannya cerita. Anak-anak pun tidak masalah ketika ingin melihat pertunjukan dari berbagai sudut. Di taman ini pula, anak-anak mengenali lagi lagu-lagu lawas. Misalnya lagu Menthok-menthok, Jaranan, Padhang Bulan, Gundul-gundul Pacul hingga Dondong opo salak. “Anak sekarang pasti sudah tidak tahu lagu itu. Padahal, lagu atau tembang ini sangat bagus dan memiliki pesan ketika mengartikannya,” imbuh dia.
Dia menambahkan, ada beberapa anak yang awal pertama kali datang, hanya diam saja. Namun, setelah tiga sampai empat kali, akhirnya berani dan akrab dengan kami dan memiliki teman. Ada beberapa yang jadi idola juga serta ada anak yang setiap kali Nandvr Dvlvr hadir, dia juga hadir.
Lintang mengatakan, beberapa karya anak, ada yang mereka pamerkan. Misalkan sang anak diberikan kertas berukuran 5 x 10 cm. Kertas itu mereka beri warna atau gambar apapun. Ternyata, ketika digabung menjadi notes yang bagus.
Selain mengundang minat anak lokal, Nandvr Dvlvr pun menerima tamu dari luar kota. Kakak-kakak dari Bandung, Jogjakarta pernah mendatangi area dan bergembira bersama. Suatu waktu, sang tamu juga memberikan satu buah kopor. Pada akhirnya, kopor ini yang sekarang berfungsi sebagai tempat membawa perkakas seperti buku, pensil, crayon dan lainnya.
“Bergembira dengan satu kopor lah. Tetapi banyak manfaatnya kopor itu,” sebut Lintang, lantas tertawa.
Kelompok ini pun tengah memimpikan sebuah perpustakaan meskipun kecil, untuk melengkapi kebutuhan mereka. “Syukur bila besar akhirnya, bisa menjadi tempat anak-anak datang dan membaca buku dan gratis,” tegas dia.
Satu yang menjadi kendala bagi Nandvr Dvlvr adalah ketika hujan. Alhasil, show sering ditunda ketika hujan dan dipindahkan ke pagi hari untuk mengantisipasi hujan yang turun ketika sore.(stenly rehardson/ary)