Dari Keluarga Sederhana, Ratu Balap Crismon Sumbang Enam Medali

Cris Monita Dwi Putri, siswi kelas XI (naik kelas XII, Red)  SMA Negeri 6 Malang, memang lahir dari keluarga yang sederhana. Namun, hal itu tak menjadi alasan untuk gadis kelahiran 23 April 1998 ini untuk "melaju kencang" dan membuat bangga keluarganya, serta Kota Malang. Selama Porprov V Jatim di Banyuwangi, ia menyumbang empat medali emas, satu medali perak dan satu medali perunggu.

Saat kecil, Crismon, begitu panggilan akrabnya, tinggal di Lumajang. Menjelang SMP, baru ia sekeluarga pindah ke Jl Permadi, no 30, RT 3, RW 4, Kelurahan Polehan, Blimbing, Kota Malang. Saat mulai pindah ke Malang, ayahnya Alvius menawarkan Cabor olahraga yang ia minati. Mulanya Crismon ingin sepak bola wanita, tapi karena di Kota Malang tidak ada, akhirnya Alvius menawarkan Crismon berlatih balap sepeda.
Mulailah ia berlatih di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Balap Sepeda di Velodrom. Baru enam bulan berlatih, Crismon langsung diikutkan Porprov 2011 di Trenggalek. Ia tak dapat juara apa-apa di kejuaraan tersebut. Dua tahun berikutnya, Crismon menunjukan kemajuan, pada Porprov 2013 di Madiun, ia berhasil menyumbang enam medali emas untuk Kota Malang dan menjadi juara umum di Cabor Balap Sepeda wanita.
Belum lama ini, Kota Malang kembali dibuatnya bangga. Baru saja, alumni SMP Islam Malang ini selesai mengikuti kejuaraan Porprov Jatim 2015 di Banyuwangi. Ia kembali ke Kota Malang dengan mempertahankan gelarnya sebagai "Ratu" Porprov Jatim Cabor Balap Sepeda.
Specialized Tarmac SL2 warna hitam, menjadi sepeda andalan Crismon sejak 2013 silam. Dengan sepeda bekas seniornya terdahulu ini, atlet balap sepeda yang memulai karir di Pusat Latihan Cabang (Puslatcab) Kota Malang Cabor Balap Sepeda itu berhasil meraih medali di beberapa nomor Cabor Balap Sepeda saat Porprov.
Enam medali ia sumbang untuk Kota Malang pada Porprov Jatim di Banyuwangi lalu. Empat medali emas, satu perak dan satu perunggu. Empat medali emas ia raih di nomor Individual Time Trial (ITT), Criterium, BMX dan XC (Cross Country). Medali perak, ia dapat di nomor Downhill, sedangkan Perunggu untuk nomor Roadrace.
Dari seluruh raihan tersebut, Crismon berhak menjadi juara umum pada Cabor Balap Sepeda di Porprov Jatim 2015. "Ya, rasanya senang, ketika diberitahu pelatih jadi juara umum. Tidak menyangka saja, karena persiapan hanya tiga hari, itu juga diselingi sakit," kata Crismon saat ditemui di Velodrom, kemarin.
Persiapan tiga hari ini, merupakan persiapan yang cukup singkat bagi Crismon. Memang sejak dua tahun lalu, setelah Porprov di Madiun, pelatihnya sudah mempersiapkan Crismon sebagai kartu as dalam Porprov tahun ini. Tapi pada detik-detik terakhir, tiga hari menjelang kejuaraan, waktu yang harusnya digunakan untuk latihan serius menyambut Porprov, terganggu karena tubuhnya lemas karena demam dan masuk angin.
"Sakit, setelah itu sembuh, terus sakit lagi. Jadi selang-seling seperti itu. Saya juga khawatir, soalnya kejuaraan waktu itu sudah dekat, tapi syukurlah akhirnya sembuh," kata Crismon.
Sebuah penghargaan yang membanggakan, bagi Crismon, di kejuaraan Porprov terakhir untuknya. Ya, karena pada Porprov usia atlet dibatasi hanya 18 tahun.  
Namun begitu, kesempatan terakhir seperti itu tak berarti membuat Crismon berhenti menjadi Atlet sepeda. Karena masih ada rencana untuk mengikuti kejuaraan lain, bahkan dengan skala yang lebih besar. Ya, pada Agustus mendatang, Crismon akan kembali bertanding dengan di kejuaraan skala nasional, Lomba Custom Cycling (LCC) 2015.  Saat ini, Crismon sedang beristirahat untuk mempersiapkan kejuaraan yang akan berlangsung di Jawa Barat ini.
Dalam kejuaraan di Jawa Barat ini, ia berharap berhasil meraih medali lain demi membuat bangga keluarga dan Kota Malang. Seperti kejuaraan-kejuaraan sebelumnya, di mana Crismon meraih prestasi yang membanggakan, menjadi juara pertama nomor criterium pada LCC 2013m juara pertama nomor BMX di Kejuaraan Nasional 2014, sampai juara satu junior di ASEAN CUP 2015. "Ini berkat motivasi dari keluarga dan pelatih," terangnya.
Hadiah dari berbagai prestasi yang dia toreh, ditabung untuk tujuan yang mulia. Di usianya yang masih 17 tahun, Crismon sudah memiliki cita-cita untuk membeli rumah sendiri. Ia berkeinginan untuk menyediakan tempat tinggal untuk kedua orang tuanya.
Saat ini, Dia tinggal satu rumah bersama kedua orang tuanya, serta kakaknya yang sudah beristri. "Kalau beli rumah, nanti kakak bisa tinggal di Polehan dan bapak ibu tinggal dengan saya," terang Crismon.
Lalu, apa yang akan dilakukan Crismon ke depan? Dalam waktu dekat ini, Crismon masih berkeinginan terus lanjut di dunia balap sepeda. Sayangnya, kemungkinan besar ia tak bisa ikut Pra-PON 2016 pada September 2015 mendatang lantaran usianya belum cukup, meski sebenarnya dia berharap ikut kejuaraan PON 2016.
Dia juga bercita-cita menjadi Polwan, cita-cita yang dia miliki sejak kecil. Sambil terus menjalani kesehariannya berlatih balap sepeda, dua jam selama lima hari dalam seminggu, empat jam khusus untuk hari Minggu dan libur di hari Senin, Crismon beharap akan terus menjadi anak bangsa mampu membawa nama harum bangsa Indonesia, di kemudian hari.
Sementara Pelatih Crismon, Ibnu Rully Faroka mengatakan, Crismon memang salah satu atlet berbakat yang ia didik. Rully, panggilan akrabnya, mengaku bangga pernah mendidik Crismon. "Saya selalu berkata kepada murid saya, berprestasilah melebihi gurunya dan bila itu terlaksana, akan membuat saya bangga. Crismon menang tak semata-mata karena dia hebat, keberhasilannya juga berkat koordinasi dengan tim yang baik," katanya.
Ada 13 medali yang Cabor Balap Sepeda sumbang dalam Porprov 2015 lalu, enam medali emas, dua perak dan lima perunggu.  Medali-medali itu, memberikan sumbangsih untuk Kota Malang yang berhasil meraih posisi kedua di Porprov 2015. (Muhamad Erza Wansyah/bersambung)