Berlatih di Kandang Sapi, Hasilkan Empat Emas

DI TENGAH sarana yang serba  minim, tinju Kota Batu mampu menorehkan prestasi istimewa dalam PORPROV di Banyuwangi yang baru berakhoir beberapa waktu lalu. Petinju-petinju asal kota wisata mempersembahkan empat medali emas dan satu perunggu atau menjadi juara umum perolehan medali cabang tinju karena cabang ini menyediakan tujuh medali emas.

Rumah sederhana berada di samping jalan tembus Sumberjo-Kota Batu. Tidak semua dinding rumah tersebut tembok halus, tetapi berasal dari bambu. Sebagian dinding tidak terlihat karena adanya tempelan benner bergambar petinju. Rumah sederhana yang berhadap-hadapan dengan kandang ayam itu dijadikan markas para petinju Kota Batu, sekaligus sasana latihan hingga kantor Pertina Kota Batu.
Malang Post sengaja datang ke markas petinju Kota Batu tersebut untuk mengorek tentang kesuksesan tim hingga mampu mampu memperoleh hasil memuaskan berupa juara umum cabang tinju even olahraga multicabang terbesar di Jatim ini. Beberapa petinju yang baru pulang dari Banyuwangi sudah berada di teras rumah. Begitu juga sang pelatih, Ismail Ngabalin dan Thomas Maedo, Ketua Pertina Kota Batu juga berada di lokasi. "Ini lokasinya. Rumah ini dijadikan markas sekaligus tempat latihan para petinju. Lokasinya juga gampang dicari. Pokoknya depan kandang ayam Sumberjo atau sebelah barat komplek sekola Al Izzah, banyak orang tahu," ungkap Ismail Ngabalin.
Secangkir teh serta beberapa bungkus roti ikut menemani obrolan di pagi itu. Minuman teh tersebut mampu menghangatkan suasana karena suhu pagi itu sangat dingin. Maklum, lokasi rumah sekaligus tempat latihan tidak berada di perkampungan padat melainkan di tengah perkebunan.
Karena berada di tengah perkebunan, angin sesekali berhembus kencang sehingga menambah suasana dingin. Angin itu juga membawa bau kotoran ayam sehingga penghuni rumah sekaligus petinju terbiasa mencium bau tak sedap dari kandang ayam. "Kami ambil nilai positifnya saja. Karena petinju terbiasa mencium bau tak sedap, dia tidak akan terpengaruh ketika harus menghadapi petinju dengan bau badan tak sedap. Kalau tidak terbiasa mendapatkan bau seperti itu, dia akan kesulitan bernafas saat menghadapi petinju berbau tak sedap," tambah Ismail.
Sasana tempat latihan para petinju Kota Batu berada persis di belakang rumah yang dijadikan tempat tinggal. Tempat latihan itu bukanlah bangunan bagu karena dulunya kandang sapi. Bekas kandang sapi tersebut kemudian ditambal dengan dinding seng atau bahan lain. Beberapa dinding kemudian ditutup dengan benner bergambar petinju atau even.
"Kami selama ini berlatih di kandang sapi. Plester di bawah masih asli sehingga bekas-bekas goresan plester masih nampak," tambahnya.
Tidak ada ring tinju dalam tempat latihan itu. Dua buah sansak besar dan kecil terlihat menggantung pada tiang besi. Kondisi sansak jika sudah tidak bagus karena terlihat banyak jahitan. Hal itu menandakan jika sansak tersebut sudah sobek dan ditambal kembali biar bisa digunakan. Peralatan lain seperti boks, helm juga terlihat juga bukan barang baru.
Ismail menjelaskan, kunci utama kesuksesan petinju meraih prestasi adalah disiplin. Mereka setiap hari latihan dengan jadwal ketat. Bisa jadi jadwal latihan ini lebih ketat jika dibanding petinju daerah lain yang hanya tiga kali seminggu. Pelatih juga menerapkan sparing partner minimal seminggu sekali. Sparing ini dilakukan di markas antar petinju Kota Batu sendiri. Bisa jadi petinju dengan kelas di bawah melawan pentinju kelas di atasnya. Dalam sebulan sekali, petinju Kota Batu wajib melakukan sparing dengan petinju luar kota. Mereka sudah biasa melakukan uji tanding melawan petinju-petinju asal Sidoarjo, Blitar, Probolinggo dan kota lain setiap sebulan sekali. Setiap ada even, petinju-petinju juga wajib diberangkatkan mengikuti pertandingan.
"Paling gress,petinju yang kita bawa ke PORPROV mengikuti kejuaraan nasional di Ambon. Sparing dan mengikuti kejuaraan secara rutin wajib dilakukan oleh petinju. Hal itu digunakan untuk melatih mental sekaligus memperkaya pengalaman. Jika langkah itu tidak dilakukan, maka mereka pasti demam panggung. Mental petinju kita sudah sangat siap saat mengikuti PORPROV karena biasa sparing serta mengikuti even," tegas Thomas Maedo, Ketua Pertina Kota Batu.
Empat petinju yang mampu mempersembahkan medali emas untuk Kota Batu adalah Randy Ngabalin kelas 52 kilogram, Gusdavid Aljalil kelas 49 kilogram, Rizky Ngabalin kelas 56 kilogram, dan Ahmad Endry Setiawan kelas 60 kilogram. Sedangkan petinju Kota Batu peraih medali perunggu Muhdi Firmansyah kelas 46 kilogram.
Mereka selalu tampil konsisten mulai penyisihan hingga final. Pada babak-babak awal, mereka selalu meng-KO sang lawan pada ronde pertama. Kota Batu mengirimkan enam petinju untuk tujuh kelas yang dipertandingkan. Dari enam petinju, lima diantaranya mempersembahkan medali. (febri setyawan)