Diandra Nugraha Brilliansyah, Penulis “Tak Ada Film Barbie Tak Apa”

Gadis kecil yang baru saja lulus dari bangku sekolah dasar ini memiliki bakat menulis yang luar biasa. Salah satu karyanya telah dipublikasikan oleh penerbit terkenal dalam buku kompilasi anak Indonesia. Bahkan, berkat kemampuannya itu, ia mampu mendapatkan penghargaan langsung dari Mendikbud RI, Anies Baswedan.

Saat ditemui Malang Post beberapa waktu lalu, Diandra Nugraha Brilliansyah masih mengenakan seragam SD. Maklum ia baru pulang dari mendaftar jalur prestasi SMP di Dinas Pendidikan Kota Malang. Maka di tangan kanannya, masih membawa map berisi sejumlah sertifikat kejuaraan dan berkas pendaftaran siswa baru. Salah satu yang ia bawa adalah sertifikat juara dalam Konferensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) 2014.
Tampak malu-malu kepada penulis, Diandra menggelayut sang ayah yang saat itu menemaninya. Catur Nugroho, Ayah Diandra mengakui bahwa anaknya telah berhasil menjadi juara dalam lomba menulis nasional akhir 2014 lalu. Lomba yang diberi nama KPCI itu adalah hajat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI untuk menjaring penulis-penulis cilik di Indonesia.
Melalui karyanya berjudul ”Tak Ada Film Barbie Tak Apa” itu, Diandra berhasil mengalahkan 165 peserta dari seluruh Indonesia. Meski menduduki juara kedua, Diandra adalah satu-satunya delegasi dari Malang yang berhasil mendapatkan prestasi gemilang tersebut.
”Tulisannya saat itu memang terinspirasi dari film kesukaannya Barbie. Diandra ini memang suka sekali nonton barbie,” ungkap Catur kepada Malang Post.
Atas prestasi tersebut, Diandra dianugerahi uang tunai sebesar Rp. 4 juta yang diberikan langsung oleh Mendikbud RI, Anies Baswedan. Setelah itu, Catur mengaku mendapatkan tambahan lagi sebesar Rp. 3 juta dari Kemendikbud.
”Setelah acara itu, ada tambahan lagi Rp. 3 juta dari kementerian. Jadi total yang diterima Rp. 7 juta,” kata pria yang berprofesi sebagai konsultan bidang industri tersebut.
Sebelum berkompetisi dalam KPCI, sejumlah165 peserta itu digembleng dalam masa karantina selama empat hari. Baru setelah itu, kemampuan menulis peserta dibuktikan dalam rangkaian kata membentuk tulisan sesuai tema yang ditentukan panitia secara dadakan.
”Jadi temanya itu diberitahukan saat lomba berlangsung. Sebelumnya peserta juga tidak tahu apa yang akan mereka tulis. Karena Diandra suka barbie, maka dia tulis saja cerita tentang barbie,” imbuhnya.
Perjuangan Diandra menjadi salah satu juara dalam KPCI itu bukan instant, namun panjang dan berliku. Kepada Malang Post, Catur mengatakan, karya Diandra sebelumnya berkali-kali gagal menembus kompetisi menulis nasional. Hebatnya, di usia yang cukup belia itu, Diandra sama sekali tak patah arang. Ia pun tak pernah murung atau merasa sedih atas kegagalan yang dilalui saat itu.
”Saya juga heran, Diandra itu biasa saja saat karyanya gagal masuk dalam lomba. Ketika gagal, ya sudah. Ia menulis lagi untuk kompetisi yang lain,” ujarnya.
Kemampuan menulis yang dimiliki gadis berusia 12 tahun ini, menurut Catur telah terdeteksi saat duduk di bangku kelas 3 SD. Saat itu, Diandra senang menuliskan cerita sehari-harinya bersama teman sekolahnya di selembar kertas yang kemudian ia pindah ke komputer.
Tak hanya kisah kesehariannya bersama teman-teman sekolah, Diandra juga suka menulis cerita pendek imajinatif. Untuk itu, Diandra mengelompokkan tulisannya itu dalam folder yang berbeda.
”Jadi di komputer itu ada dua folder yang satu untuk ceritanya bersama teman-teman dan yang satu untuk cerita imaginasinya,” terang Catur.
Gadis yang lahir pada tahun 2003 itu juga keranjingan membaca rubrik cerpen anak di koran dan juga komik. Ia bahkan rutin membaca koran setiap hari minggu untuk sekedar membaca cerita anak yang diterbitkan di koran.
Selain membaca, Diandra juga gemar melihat film animasi seperti barbie. Sekilas, tingkahnya tak ada bedanya dengan kebanyakan anak seusianya. Namun, justru melalui film dan bacaan itu, kemampuan menulis Diandra kian berkembang dan memukau.
Kerja keras Diandra itu akhirnya membuahkan hasil. Dalam sebuah kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh salah satu penerbit buku terkenal Indonesia, karya Diandra berjudul Karena Coki Dan Gaban telah berhasil menarik hati para juri dan masuk menjadi salah satu cerita terbaik dengan tema ”Aku dan Binatang Peliharaanku”.
Kompetisi berjudul Kecil-kecil punya karya itu akhirnya membawa tulisan Diandra dalam sebuah buku kompilasi karya penulis cilik Indonesia yang telah dipasarkan secara luas.

”Tulisannya Diandra sudah jadi buku. Berdasarkan perjanjian antara penulis dan penerbim Diandra akan mendapatkan royalti dari penjualan buku tersebut,” tandas Catur.
Tak hanya itu, dalam kompetisi serupa dengan tema ”Aku dan Olahragaku”, karya Diandra juga berhasil masuk menjadi salah satu penulis. Hanya saja, karya ini masih menunggu proses untuk dipublikasikan lebih lanjut.(Nunung Nasikhah/ary)