Menghadiri Launching Produk dan Jaringan Smartfren di Bali (2/habis)

Wartawan sekaligus fotografer Malang Post Dicky Bisinglasi berkesempatan menikmati suasana Ramadan di Pulau Dewata. Smartfren yang mengundang Malang Post, menyediakan tempat menginap yang menyenangkan. Sebuah hotel bergaya resort bintang lima, di kawasang elit Tanjung Benoa.

Pukul 3:00 pagi WITA, di Conrad Hotel, Tanjung Benoa, kawasan Nusa Dua Bali, terdengar bunyi bell di pintu kamar. Ternyata room service untuk santap sahur yang dipesan semalam sudah siap, disuguhkan dengan keramahtamahan khas hotel mewah.
Mata terasa sangat berat mengingat agenda pada hari sebelumnya yang cukup padat. Bahkan rombongan baru check-in pukul 20:30 WITA semalam dan langsung masuk kamar masing-masing. Seperti saya yang menjalankan ibadah puasa, maka harus segera makan sahur. Pagi buta itu kami menyantap nasi goreng dsertai appetizer dan dessertnya.
Hari kedua ini sebenarnya jadwal dari panitia yang sudah terkirim di email masing-masing peserta tidaklah begitu padat, hanya launching produk modem MiFi 4G Smartfren saja pada pukul 15:00. Namun koordinator peserta mengabarkan bahwa akan ada acara di luar agenda yang sifatnya lebih santai, yakni jalan-jalan seputar kota Denpasar dan Pantai Kuta, Kabupaten Badung pada pukul 10:00 pagi.
Saya pun segera beranjak mandi setelah melanjutkan tidur setelah makan sahur. Shower air panas sudah menanti, sedikit membuat relax badan yang cukup lelah .
Semua peserta siap di lobby pukul 10:00. Cuaca di Bali nampak bersahabat. Cerah dan menyegarkan, meskipun temperaturnya lebih panas dari cuaca di Malang.
Rombongan kami tinggal para wartawan dari Jakarta, Surabaya dan Malang saja, karena rombongan dari Bali akan kembali bergabung saat launching acara puncak nanti sore. Sehingga acara jalan-jalan kali ini cukup menggunakan satu bus saja.
Koordinator mengarahkan sopir menuju Cellular World, sebuah konsep one stop-shopping seluler terbesar di Bali di jalan Teuku Umar, Denpasar. Tiba di sana langsung menyambut kami Djoko Tata Ibrahim, Deputy CEO Smartfren, Malika Jiwaji owner Cellular World (CW) beserta para karyawan.
Djoko dan Malika menjelaskan tentang bagaimana Smartfren berkembang pesat di Bali hingga menduduki top-three omset penjualan CW.
Di level nasional pun mereka menjelaskan cuma perlu waktu satu minggu untuk Smartfren dapat menjangkau distribusi merata.
Uniknya, meskipun berlabel modern shop, CW ini memiliki booth untuk penjualan handphone second, meskipun angka penjualannya semakin menurun. Harga handphone second memang setengah harga baru, namun sekarang harga baru saja sudah sangat terjangkau, begitu terang Malika.
Para rombongan wartawan pun banyak mengajukan pertanyaan terkait konsep CW bila dibandingkan dengan di daerah masing-masing. Bincang-bincang itu berlangsung hingga pukul 11:40, kemudian kami kembali ke bus.
Arahan koordinator menyebutkan bahwa rute selanjutnya adalah masjid terdekat karena harus ibadah Salat Jumat. Ya, itu hari Jumat, celakanya, saya baru menyadarinya pakaian yang melekat .
Tanpa sadar saya memakai celana pendek selutut, atasan kemeja, sandal gunung dan tas kamera saja. Tanpa membawa sarung, atau sekalian memakai celana panjang seperti rekan-rekan rombongan laki-laki muslim yang lain.
Saya pun mengikuti yang lain turun dari bus menuju masjid, berharap ada sarung yang bisa dipakai disana.
Masuk halaman masjid hingga tempat wudlu samping, jamaah penuh sesak mendengarkan khotbah yang hampir berakhir. Hingga banyak jamaah yang menanti sambil berdiri diluar masjid, di area "parkiran sandal". Ini adalah kota dengan mayoritas beragama Hindu.
Keberadaan masjid tidak sebanyak di pulau Jawa. Padahal warga pendatang terutama dari Jawa dan Lombok banyak yang beragama muslim membuat masjid tumpah ruah setiap kali salat Jumat atau ibadah besar lainnya.
Mata saya memandang ke berbagai sudut, , namun tidak ada tanda-tanda adanya sarung yang dapat dipakai. Sempat putus asa, saya pun balik kanan berjalan menuju bus yang telah pindah ke timur masjid. Tidak sampai 10 meter dari pintu gerbang masjid, saya menyadari keberadaan toko busana muslim di kiri jalan.
Segera saya masuk dan menanyakan sebuah sarung. Dengan berbekal sarung seharga Rp 80.000 saya tergesa kembali ke masjid dan mengambil air wudlu. Namun saya harus berdiri bahkan lebih belakang dari orang-orang yang berdiri di luar lantai masjid tadi.
Segera setelah khotbah Jumat selesai, meskipun belum iqomah, para jamaah berebut masuk teratur kedalam masjid, atau minimal masih di area lantai suci masjid, termasuk saya.
Dengan berhimpitan di celah shaf sempit dekat kran wudlu saya harus salat di lantai yang agak basah terkena percikan air  kran.
Setelah salam, menoleh ke kanan belakang dikejutkan dengan rekan dari harian Surya Surabaya yang salat tepat di lantai tempat wudlu, tepat dibawah kran meskipun sudah hampir kering. Tanpa sajadah, hanya beralaskan topinya untuk bersujud.
Ya inilah masjid di Bali, setiap harinya kondisi tidak jauh berbeda akan kita dapati.

Bahkan dulu ketika saya hidup setiap hari di Bali, untuk sekadar makan saja minimal kita harus mencari warung yang berlabelkan "Warung Jawa" atau warung-warung muslim lainnya yang artinya halal dari daging babi.
Bus melanjutkan perjalanan ke Kuta Square, di daerah pantai Kuta. Panitia bermaksud memberikan waktu untuk lebih santai, mungkin juga berbelanja oleh-oleh atau hanya sekedar berjalan-jalan, namun waktu tidak banyak. Turun dari bus tidak lebih dari pukul 2 siang dan harus kembali pukul 14:45.
Kami pun berusaha menikmati dengan waktu seadanya. Melihat lalu lalang bule dan mengamati bangunan di sekitar pantai Kuta ini yang semakin padat, nyaris tidak ada celah kosong.
Tidak berani berjalan lebih jauh karena posisi kami sudah cukup jauh dari bus, hari semakin sore, bagi orang yang sedang berpuasa akan terasa semakin tidak bertenaga menjelang klimaks berbuka, kamipun berjalan balik ke bus hingga bus akhirnya kembali ke hotel.
Di kamar hotel, setelah menyelesaikan berita dan foto kegiatan sebelumnya untuk dikabarkan kepada pembaca Malang Post di Malang, saya segera ganti baju formal untuk siap menghadiri acara puncak di Conrad Ballroom, di lantai dasar.
Dengan meluncurkan produk modem MiFi 4G LTE yakni tipe Andromax M2P dan M2Y, acara berjalan lancar disertai dengan sesi tanya jawab yang juga berjalan mulus hingga tiba waktu berbuka puasa.
Malam hari di kamar hotel setelah membuat beberapa rencana "kopi darat" dengan beberapa teman lama tidak berjalan mulus karena posisi mereka yang jauh dari daerah Tanjung Benoa. Pekerjaan yang tidak bisa ditinggal dan kendala kendala lainnya, saya memutuskan untuk naik taxi menuju area Kuta bertemu dengan teman-teman lama yang tidak terhalang kendala-kendala tersebut.
Saya berjalan ke lobby hotel, order taxi kepada concierge, mereka pun dengan cekatan memesankan sebuah taxi dan memberikan sebuah alamat hotel di kertas sebesar kartu nama untuk arah kembali ke hotel jika tersesat.
Bagi saya ini amat istimewa. Sebab dulu saya yang berperan sebagai concierge, di resort yang berada dekat dengan Conrad. Kini dalam kunjungan ke Bali, saya sebagai tamu hotel. Sebuah kesempatan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Rahmat, sopir Gowinu taxi begitu dia menyebutkan namanya saat bertukar nomor handphone. Ini adalah kebiasaan driver wisata di Bali untuk menggaet penumpangnya rute pulang-pergi.
Pria asal Sumatera, segera memacu mobilnya setelah sekitar lima menit saya menunggu di lobby tadi.
Dia menawarkan "Kita ambil highway saja ya pak?" kepada saya, yang artinya ambil jalur tol diatas laut, tol Bali Mandara, dengan biaya tambahan untuk tol di luar argo taxi.
Di tengah jalan kami mengobrol. Dia menceritakan bahwa keluar malam di Bali lebih baik pakai taxi dari perusahaan besar yang notebene tarif resmi berdasarkan argo.
Sudah jadi rahasia umun beberapa oknum taxi di Bali sering mematikan argonya pada malam hari dan menghargai berdasarkan sistem tawar menawar. Bila tidak pernah tahu harga wajarnya maka bisa di mark up hingga tiga kali lipat.
Bila tidak, teknik lain mereka ketika mengantar bule mabuk, biasanya dari kawasan Legian kembali ke hotel, maka akan memutar-mutarkan penumpang yang tidak sadar itu lebih jauh dari rute normalnya yang otomatis biaya argonya akan semakin membengkak.
Inilah salah satu fungsi menggunakan taxi yang sama pulang pergi yang telah diorder resmi dari hotel.
Sampai di Kuta, argo menunjukkan angka Rp 99.800. Saya berikan selembar seratus ribu kepada Rahmat dan turun berjalan menuju sebuah cafe di kawasan pantai Kuta.
Beberapa jam saya dan teman-teman saya bertemu, mengobrol kesana kemari sambil menikmati angin malam Pantai Kuta, pukul 1:30 saya putuskan untuk kembali ke hotel.
Di kamar hotel saya memutuskan untuk tidak tidur sampai makan sahur mengingat waktu terlalu mepet, jadi sekalian saja pikir saya. Tetap tidak ada suara tarhim atau pujian-pujian khas mushala/masjid di Jawa atau pengingat imsak kurang sekian menit berkumandang.
Waktu sahur akhirnya tiba, tak terasa karena saya menunggu sambil menonton chanel-chanel TV kabel. Dinihari ini, Conrad menyuguhkan sop buntut dan jus jeruk sebagai menu santap sahur.
Saya nikmati betul sahur di Bali ini, karena esok paginya pukul 9:00 kami semua bergegas check-out. <enuju bandara kembali ke wilayah masing-masing. Bagi saya, beberapa hari ini, sudah cukup membasuh kerinduan akan Bali, pulau Dewata nan memesona ini.(habis)